BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
MEMULAI AKSI DIAM-DIAM


__ADS_3

Selang beberapa menit Rivera akhirnya menyelesaikan ritual mandinya. Dia meminta untuk sendiri dikala itu, di dalam kamar dengan menyuruh Dorothy agar tidak memasuki kamarnya.


Selama di dalam kamar itupun Rivera banyak melakukan peregangan. Beberapa push-up dan sit up membuatnya lebih bersemangat menjalani hari.


"Sialan..! Anak kecil seperti apa yang bekerja keras seperti ini..!" gumam Rivera tersenyum sinis sembari menyeka peluhnya dengan sapu tangan.


"Aku sudah lama tidak mengetes pergerakan berpedangku. Apakah pergerakan ku sudah mulai menumpul," lanjutnya mulai mengeluarkan blood sword.


Pupil matanya langsung membesar tatkala melihat pedang itu ditangannya. Darah nya mendidih dan tak sabar untuk mengayunkan pedang.


*Slashh..


Rivera mengayunkan pedangnya kesamping menghunus kan pedang dengan gaya berputar membuat pusaran aura.


Dengan satu ayunan pedangnya, Rivera bisa merasakan jika angin dan sword aura yang di ciptakan semakin tajam.


Hal itu juga akan memberikan demegs besar bagi lawan. Karena merasa cukup pada pencapaian nya, Rivera kembali menyimpan Blood Sword.


"Dasar Animos dan Estira sialan.!! Lihat saja, aku akan memberi kalian pelajaran yang setimpal..!!" sinis Rivera.


Singkatnya waktu, sudah 3 hari berlalu semenjak Rivera banyak sekali mengalami kebingungan karena teka-teki dari misi. Selama 3 hari itu pula Rivera banyak melakukan latihan mandiri dan mengurung diri di dalam kamar. Bahkan disaat Alexander meminta bertemupun Rivera tidak ingin dan menolaknya.


Selama tiga hari ini banyak sekali pergerakan yang dikabarkan oleh kesatria pasukan B mengenai pergerakan yang dilakukan oleh Animos dan Estira. Tentu saja itu akan sangat menguntungkan Rivera.


"Aku harus kembali keruangan itu untuk menghentikan ritualnya..! Namun, kali ini tidak akan mudah karena pastinya Animos akan mengawasi," gumam Rivera yang sudah dalam keadaan siap untuk memasuki portal teleportasi.


"Tunggu aku, tikus-tikus nakal..!! " sinisnya lalu mulai menghilang begitu saja bagai di telan bumi.


Tidak lama dia pun sampai didepan pintu yang digadangi telah diberikan mantra segel. Dengan raut datarnya Rivera mulai membuka pintu itu dan kemudian mulai terbuka dengan muda.


"Orang-orang itu belum datang..?" monolog Rivera mengarahkan pandangan tajam kesegala arah.


*Tap.. tap..


Rivera langsung menoleh kearah depan dan kemudian mulai bersembunyi di balik gorden.

__ADS_1


*Tap.. tap.. tap


Terlihat ada 2 orang berjubah yang sedang berjalan menuju terdalam lorong dengan memegang 1 obor ditangan mereka. Mereka datang dengan teleportasi sehingga membuat Rivera bertanya-tanya bagaimana mereka melakukan itu. Namun tidak lama kemudian dia tersadar dan menduga jika Animos lah yang telah membantu mereka membuat sihir teleportasi.


Mereka mulai menjauh sehingga Rivera memutuskan untuk mengikuti mereka. Dengan cepat Rivera mulai mengikuti mereka sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk menyusul.


Mereka masuk kembali kedalam ruangan yang menjadi tempat pelaksana ritual sebelumnya. Rivera langsung jengkel karena perlakuan mereka monoton bagi nya. Tidak ada perbedaan sedikit pun. Mereka melakukan semua ritual yang sama dilakukan oleh kedua orang sebelumnya.


"Apakah Solderet yang menciptakan ritual ini? Mengapa harus ada adegan ciuman..!" benak Rivera jengkel.


"Tetapi aku harus tahan. Aku akan menunggu mereka agar bisa membuka dimensi antara dunia ini dan dunia yang dihuni oleh Solderet. Baru ketika.. aku akan mebghabisi kedua tikus itu dengan tanganku sendiri!! " sinisnya.


Sudah sampai ditahap adegan penyayatan tangan, akhirnya membuat energi gelap muncul kembali. Rivera segera bergegas maju untuk mendekati mereka dengan langkah tenang dan juga seringaian sinis.


"Wah sudah lama ya ternyata..." sinis Rivera sehingga membuat kedua orang itu siaga.


Mereka berdua menghentikan ritual mereka dan kemudian saling memandang. Tidak lama kemudian mereka saling mengangguk seolah sedang memberi kode satu sama lain.


"Wahh, apakah kalian sedang berdiskusi karena ini adalah kesempatan terakhir kalian?" ujar Rivera tersenyum.


"Ouhh.. apa kalian ingin bermain dengan saya..?!" seringai River.


" !! " kedua orang itu terhentak. Mereka kebingungan karena tidak terjadi apapun pada Rivera.


"Ck. ck.. ck! Itulah kelemahan seorang mage..! Kalian hanya bisa mengandalkan sihir kalian tanpa bisa berbuat banyak..!" sinis Rivera perlahan maju mendekati kedua orang itu.


Perlahan-lahan mereka menyeret tubuh mereka mundur saat Rivera mendekat. Ini tentunya semakin membuat Rivera merasakan kesenangan karena rasa takut yang mereka keluarkan.


"Hey..saat menikami perut satu sama lain kalian tidak terlihat takut untuk mati. Namun, mengapa hanya dengan didekati oleh anak kecil seperti saya, kalian malah mundur?" ujar Rivera penuh racun. Dia memandang sinis pada kedua orang itu.


Tidak tahu mengapa kedua orang itu mundur tanpa diri mereka sendiri mengerti. Namun mereka bisa merasakan energi membunuh yang kuat dari Rivera. Mental mereka langsung jatuh tatkala dihadapkan oleh seorang anak kecil yang memiliki energi mengerikan sekelas Ranker.


"Apa yang kau mau dari kami..?!" tajam salah satu dari mereka.


Rivera memandang datar mereka, kemudian dia menghentikan langkah kakinya sembari berpikir.

__ADS_1


"Benar juga..! Kira-kira apa yang harus saya lakukan pada kalian..?! Hmm.. apakah saya langsung membunuh kalian atau menyiksa kalian terlebih dahulu..? Tidak ada yang tahu..!" ujar Rivera santai mengangkat bahunya.


" !! " mereka terkejut dan tidak lama mereka pun mulai mengambil belati mereka kembali dan hendak menyayat leher mereka. Namun..


Rivera bergegas mengeluarkan dagger miliknya dan melempar dagger itu sehingga mengenai belati yang sedang mereka pegang.


*Trankk


*BRUKK


" !! "


"Mengapa kalian ingin membunuh diri sendiri? Lebih baik saya yang membunuh kalian, kan?!" datar Rivera semakin jengkel dengan pandangan mulai menajam.


"Apa yang kau inginkan dari kami..! Berani sekali anak cadangan pembawa sial seperti mu mengancam kami dengan kekuatan monster..!!" pekik salah dua dengan kaki gemetar yang perlahan terus termundur kebelakang.


"Orang yang ingin mati seperti kalian.. masih berani berbicara seperti ini!! Tidak heran untuk ukuran seorang makhluk rendahan..! " jengkel Rivera menghunus Blood Sword pada salah satu orang itu sehingga tubuh salah satu dari mereka terbelah menjadi dua.


"Slashh..


Darah menyembur mengenai Rivera dan satu orang yang tersisa. Seketika orang itu langsung Syok dengan kakinya yang mulai gemetaran.


"Lihatlah..! Beginilah akhir dari orang rendahan seperti kalian..!" datar Rivera mulai mendekati pria itu dengan sikap dinginnya.


Perlahan dia mulai menjongkok, menggenggam dagu pria itu dengan erat sembari berkata "Kau merasa ketakutan, bukan?! Maka rasakanlah, rasakan sebuah rasa yang juga dialami oleh korban-korban kalian. Seperti inilah rasa takut ketikan kehilangan nyawa,!!" hardik Rivera menghempas dagu pria itu sehingga pria itu terjatuh kesamping.


"I-ini tidak ada hubungannya dengan mu!! Kami hanya melakukan tujuan kami tanpa merugikan kekaisaran..!! " balas pria itu gemetaran.


"Fttt.. HAHAHAHAHA..!! " tawa Rivera pecah.


Namun dalam sekejab tawa itu hilang, bergantikan oleh raut wajah jengkel. "Dasar tolol.. !!" maki Rivera menendang pria itu sehingga pria itu mulai kehilangan kesadarannya.


*Brukk


^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2