
Hari sudah semakin larut, Rivera dan Dorothy memutuskan untuk pulang kembali keistana. Mereka berpamitan pada ketiga pria tadi sembari menunggu uang hasil kemenangan judi miliknya cair.
Tidak lama, pengurus kasino pun datang membawa sekantong koin emas lalu mulai memberikan sekantong koin emas itu pada Rivera.
Rivera dengan senang hati menerima sekantong koin emas itu lalu mulai membukanya untuk melihat hasilnya.
"Tidak buruk, " gumamnya kembali menutup kantong koin tersebut.
"Baiklah, saya akan pergi dari sini. Jika beruntung kita akan bertemu kembali," ujar Rivera tersenyum ramah dan kemudian pergi dari sana dengan ditemani oleh Dorothy.
Mereka bertiga melambai kan tangan sembari tersenyum gemas seperti seorang kakek-kakek yang melihat kepada cucu mereka. Mereka juga terus memandang Rivera yang sudah mulai keluar dari kasino, namun ekspresi senang mereka dengan sekejab luntur bergantikan dengan ekspresi terkejut.
*Brukkk
Rivera menabrak sebuah kaki jenjang milik seorang pria sehingga membuat nya kesal dan mengarahkan pandangan pada pria itu.
"Ck! Siapa ini..!! Kau..."
" !! " Rivera terkejut, dia melihat Alexander yang sedang menatap tajam kearahnya.
"B-baginda.." gumam Rivera tersenyum pepsoden.
"Sial... sial.. sial!! Bagaimana pria ini ada disini!! " kesal Rivera langsung mundur beberapa langkah.
"Apa kau senang telah membuat semua orang kewalahan..! " datar Alexander perlahan-lahan maju mendekat kearah Rivera.
"Yang mulia..." Dorothy hanya bisa memperhatikan dari pojokan. Dia tidak tahu harus membantu Rivera dengan cara apa.
Sementara orang-orang yang ada di dalam kasino itu mematung dan masih terkejut pada kejadian yang tidak mereka duga-duga. Mereka sangat terkejut melihat sang matahari kekaisaran yang hanya bisa mereka lihat dalam 5 tahun sekali sedang berada di dalam satu kasino bersama dengan mereka.
"Apa yang kalian lakukan, cepat beri hormat pada Yang mulia kaisar..!! " tegas Ares sehingga semua orang langsung berlutut dengan tatapan kelantai.
__ADS_1
"Hormat kami matahari kekaisaran, semoga dilimpahkan kesehatan yang abadi..!!" serempak mereka merasa takut dengan tubuh bergetar.
Kembali pada Rivera. Dia sungguh bingung pada situasi saat itu. Dia tidak menyangka jika Alexander akan menyusul nya sampai ke dalam kasino. Dia terus mundur kebelakang dengan ekspresi canggung.
"B-baginda, semua ini bisa dibicarakan dengan baik-baik. Baginda tidak perlu marah..." ujar Rivera mencoba meyakinkan Alexander yang sedang menatap tajam padanya.
Alexander tidak mendengarkan, dia terus maju dan kemudian memegang tangan Rivera.
" !! " Rivera tertarik kedepan sehingga dirinya mulai mendekat pada Alexander.
Tidak lama disitu, Alexander dengan ekspresi lega mulai berlutut agar menyamakan tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh Rivera. Dia mengelus rambut Rivera dengan lembut seolah sedang bersyukur bisa menemukan putrinya.
Semua orang terkejut melihat penampakan tersebut. Mereka tercengang dengan mulut ternganga lebar. Tak jarang pula ada beberapa yang mengucek-ucek matanya takut jika mereka sedang mengalami sebuah delusi. Namun kenyataan nya mereka tidak sedang mengalami delusi sehingga membuat mereka semakin terkejut.
Bukan hanya mereka, Rivera yang notabene nya adalah orang yang bersifat tenang juga dibuat terkejut pada aksi Alexander yang secara tiba-tiba berlutut kepadanya.
"Apa yang dilakukan pria ini..!! " kesal Rivera menoleh di sekeliking.
Sontak, Rivera mematung. Dia bingung untuk memberikan respon apa pada Alexander yang tiba-tiba saja berbicara lembut alih-alih marah kepadanya. Dia gelagapan dan hanya bisa terdiam dengan beberapa potong kata.
"S-saya.. saya..." tak ada kata-kata lain yang keluar dari bibirnya.
Alexander hanya bisa menghela napas dan kemudian mulai mengangkat tubuh Rivera. Dia menatap Rivera dengan ekspresi santai sembari berkata "Mari kita pulang kembali. Kau juga pasti lapar," lembutnya berbalik dan membawa Rivera pergi dari kasino.
"B-baginda..dari mana anda tahu keberadaan saya?" bingung Rivera keheranan.
"Aku seorang kaisar, tidak akan ada yang bisa lolos dari diriku meski di ujung dunia sekali pun," jawab Alexander tanpa menoleh kearah Rivera.
Rivera memicing, dia sangat kesal pada sikap percaya diri Alexander yang terlalu tinggi. Jika dia bisa, mungkin saat ini dirinya akan memplintir kepala Alexander.
"Jika tidak takut durhaka, maka aku akan mengetuk kepala mu!! " kesalnya mendiamkan Alexander.
__ADS_1
"Apa kau tidak puas setelah jalan-jalan sehingga raut wajah mu masam seperti ini?" tanya Alexander sembari meletakan Rivera diatas kuda.
"Tidak, saya merasa sangat~ puas. Hanya saja Baginda tidak perlu menjemput saya seperti ini. Saya tidak lemah, saya bisa melawan siapa pun yang berniat jahat pada saya," ketus Rivera.
Alexander terdiam sejenak. Dia menghela napas lalu berkata "Diatas langit masih ada langit. Jangan berbicara seperti itu..! Aku adalah orang yang lebih kuat dari mu, jadi bagaimana jika kau bertemu dengan orang sekuat aku? Kau tidak boleh bersikap seperti ini," nasehat Alexander sembari menaiki kuda yang sama dengan Rivera.
"Sejak kapan pria ini menjadi sangat bijak..? Apa dia memang seperti ini sebelumnya?" bingung Rivera tidak menyangka jika bisa mendengar kata-kata bijak itu dari Alexander.
Karena malam sudah larut, mereka pun pergi dari sana untuk kembali pulang menuju istana. Ditengah-tengah perjalanan Rivera terus saja terdiam sembari memikirkan sesuatu. Tak jarang pula dia melirik kearah Alexander yang sedang fokus mengendalikan kuda.
"Baginda, mengapa anda bersikap seperti ini? Apa anda memang seperti ini sebelumnya?" bingung Rivera.
"Entahlah... aku juga tidak tahu apakah aku memang seperti ini atau tidak," jawan Alexander seadanya sehingga membuat Rivera tidak puas dan berniat untuk kembali bertanya.
"Saya benar-benar tidak bisa membaca jalan pikiran Baginda. Saya bingung apakah sikap Baginda pada saya ini hanya sebatas penasaran atau memang tertarik?"
"....Perbaiki panggilan mu..!!" datar Alexander sembari menambah laju kudanya.
"Mengapa anda ini sangat dingin, saya kan hanya bertanya..!!"
Mereka melanjutkan perjalanan mereka ditengah-tengah kota yang masih di penuhi oleh penduduk. Para penduduk sontak langsung menepi dan memandang kearah orang-orang yang ada di atas kuda tersebut.
Mereka langsung melotot seolah sadar akan sesuatu yang tidak mereka kenali sebelumnya.
"Bukankah pria yang menaiki kuda paling depan itu memiliki rambut Silver? Apakah dia itu kaisar?"
"Ya dewa... ini sungguh sebuah keajaiban..!! Aku bisa melihat kaisar dengan mata ku langsung..."
"Aku akan mencatat hari ini. Surat kabar ku akan laku keras karena berita kali ini benar-benar menarik..!! "
"Bukankah yang ada diatas kuda bersama kaisar adalah putri ke-4?"
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^