
"Ohooo...kalian sudah datang rupanya.." gumam Rivera namun cukup kuat terdengar oleh mereka semua. Melihat Rivera dengan wajah datar itu bagai mimpi buruk yang menjadi kenyataan, menyambut mereka dengan baik. Tentu saja dengan artian lain.
Mereka menelan ludah. Seperkian detik, mereka mulai mengalihkan pandangan kearah pelayan yang sedang meraung kesakitan. Sangat menakutkan dan dingin.
"Apa yang kalian lihat..?! " datar Rivera.
*Glekk.. mereka kembali menelan ludah, menyeret mundur kaki mereka dengan perasaan takut. Melihat reaksi mereka membuat Rivera senang. Dia tersenyum sinis, semakin menambah kekuatan dari genggamannya sehingga pelayan wanita itu kembali meraung.
"AKHHHH....!! TUAN PUTRI TOLONG AMPUNI SAYA...!!" tangis pelayan itu kesakitan, disertai perasaan takut yang hampir ingin membunuhnya.
"Apa kalian ingin seperti ini..?!" dingin Rivera, tersenyum sinis kearah keempat pelayan yang sedang menatapnya shock.
"T-tidak... " rasa takut mulai menguasai mereka. Mental mereka benar-benar hancur sehingga tidak terasa diantara dua pelayan terjatuh, duduk dilantai dengan pandangan kosong. Tubuh mereka gemetaran.
Sementara dua pelayan lainnya berlari kabur, sembari berteriak keras sehingga Rivera semakin jengkel dibuatnya.
"Keluarlah..! " titah Rivera, tidak lama, Ajax dan Hector mulai keluar dari tempat persembunyian mereka, lalu menghadang kedua pelayan yang mencoba untuk kabur.
" !! " langkah mereka terkunci. Mereka kembali menyeret kaki mereka mundur dengan perasaan yang masih dilanda oleh rasa takut. Mereka menoleh kearah belakang dan arah depan mereka.
"Tuan putri.. tolong ampuni saya..." lirih mereka meminta ampun dengan ekspresi berharap agar bocah yang sudah selama ini mereka ganggu, akan melemah dan memaafkan mereka.
Rivera menatap dingin kearah mereka. Dia menghela napas, dan seperkian detik kemudian, Rivera mulai melirik kearah Johanna yang sedang berdiri, kebingungan pada kondisi yang sedang terjadi.
"Johanna, tolong pergilah dari sini. Dan tolong, panggilkan Nanny untuk saya," titah Rivera.
Lamunan Johanna terpecah. Dia menatap Rivera dengan pandangan yang sedikit menurun. "B-baiklah, Tuan putri,"
Johanna pergi dari sana, sehingga Rivera bisa dengan santai menghajar pelayan yang sedang berada dibawah kakinya. Rivera melepaskan genggaman tangannya, membuat pelayan itu terjatuh, memegang tangan kanan nya yang sudah tidak bisa digerakan.
"Tanganku..." histeris pelayan itu, meratapi tangannya yang sudah lunglai.
"Tolong, ampuni saya putri. Saya berjanji, saya akan selalu setia pada Tuan putri..!" mereka terus memohon, sesekali memandang kesatria Holy Sword dengan pupil mata bergetar.
Rivera menatap datar kearah pelayan-pelayan itu, rasa jengkel mulai membesar. Dia merasa seakan-akan dirinya ingin sekali menghabisi semua pelayan yang ada didepannya. Namun tidak lama..
__ADS_1
*Trang.....suara tiba-tiba muncul sehingga mencuri fokus Rivera, Ajax dan Hector. Mereka langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati seseorang yang pergi terburu-buru setelah menjatuhkan sebuah vas bunga.
"Kejar..! " titah Rivera datar, menyuruh salah satu dari kesatrianya untuk mengejar orang tersebut.
Dengan cepat Hector melesat, mengejar sosok misterius itu. Rivera dan Ajax hanya bisa saling pandang, seakan-akan memiliki pemikiran yang saling terhubung.
...****************...
Singkat waktu, Rivera dan Ajax membawa kelima pelayan itu kedalam sebuah ruangan kosong, tanpa barang satupun terkecuali satu kursi yang sedang diduduki oleh Rivera.
Sementara kelima pelayan itu sedang berlutut dilantai, menghadap Rivera yang sedang memberi mereka tatapan dingin. Tentunya ditemani oleh Ajax, yang sedang berdiri di samping belakang Rivera.
"Apa kalian tidak menduga jika bocah yang telah kalian rendahkan tadi, akan membuat kalian seperti ini?" datar Rivera, memandang mereka dengan tatapan sayu.
"M-maafkan saya Tuan putri...jika saja saya tahu akan berakhir seperti ini, saya tidak akan berbuat kurang ajar pada Tuan putri," tangis salah satunya pecah, sembari terus membenturkan keningnya kelantai, meminta ampun pada Rivera.
Rivera mengerutkan keningnya. Perasaan jengkel mulai melanda hatinya. "Jika saja kalian tahu akan berakhir seperti ini..?! Apa anda bermaksud, jika saja saya tidak sekuat ini, maka kalian akan tetap berprilaku kurang ajar terhadap saya?! kesal Rivera, berbicara penuh penekanan.
" !! " mereka panik terhadap perkataan gegabah barusan. Mereka secara serempak bersujud kepada Rivera, dengan membenturkan kening mereka cukup keras.
Rivera menghela napas dalam-dalam sembari memijat kening dengan lelah. Namun, ditengah-tengah rasa lelah itu, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, dan memperlihatkan Hector yang sedang menyeret Daniel masuk kedalam ruangan.
*Brukk.. Hector melempar Daniel sehingga tersungkur tepat dibawah kaki Rivera.
"Pria tua ini yang sedang menguping pembicaraan kita, master. Dia benar-benar sangat mencurigakan..!!" kata Hector, melapor pada Rivera.
Rivera tersenyum sinis, menatap dingin kearah Daniel. "Daniel, apa yang anda lakukan? Hilang kemana kesetian itu..? " tajam Rivera, memandang Daniel dengan rendah.
........
Tidak ada jawaban. Daniel terdiam dengan ekspresi datarnya. Hal itu cukup memancing emosi Ajax dan Hector, karena Daniel dengan terang-terangan telah berani mengacuhkan master mereka.
"Kau..!! " langkah Hector terhenti saat Rivera menghalangi dirinya.
"Master.. " Hector hanya bisa pasrah, lalu sedetik kemudian mulai mempelototi Daniel seolah-olah berkaat "Bajingan tua ini, berani sekali kau..!!"
__ADS_1
Sementara Ajax, dia hanya bisa bergeleng-geleng melihat sikap pemarah Hector. Cukup baginya berdiri disamping Rivera sembari mengamati keadaan. Itu cukup menyenangkan.
"Daniel... anda ini.. " gumam Rivera, merasakan sedikit perasaan tidak enak. Tidak tahu mengapa, dia bisa merasakan energi jahat dari Daniel.
"Namun itu sangat tipis. Sangat tipis sehingga tidak disadari oleh ku dengan cepat. Tapi mengapa ada jejak energi jahat di tubuh Daniel..?! " benak Rivera keheranan.
Dia terus mengamati Daniel sehingga membuat kedua kesatrianya terheran-heran. Mereka tidak mengerti, mengapa master mereka menatap Daniel dengan tatapan yang cukup intens.
"Master, apakah ada yang terjadi? " tanya Ajax ikut curiga. Sementara Hector, dia hanya bisa menggaruk kepala nya yang tak gatal, dengan ekspresi wajah yang masih kebingungan.
"Ada yang aneh pada Daniel. Saya berusaha menemukan keanehan itu," jawab Rivera, memeriksa Daniel dengan kemampuannya.
Sontak saja Ajax dan Hector langsung mengarahkan fokus mereka pada Daniel. Daniel yang sedang diperiksa oleh Rivera hanya terdiam, menunduk kelantai dengan tatapan kosong.
"Pria tua ini seperti sedang dirasuki. Bukan begitu?" celetuk Hector, mendapat 1 keplakan dari Ajax.
*Plakk
"Auuu.. sakit..!!" protes Hector.
"Diamlah..!!" kesal Ajax, menyuruh Hector agar menutup mulut.
Hector hanya bisa terdiam dengan bibir manyunnya. Dia kembali fokus pada Rivera, memperhatikan dengan seksama sampai tak terasa jika tiba-tiba Daniel bergerak, menarik sebuah belati dari balik jas nya dan menghunuskan belati itu kearah Rivera.
" !! "
"Master..!! " keduanya dengan cepat bergerak untuk melerai Daniel agar tidak bisa melukai Rivera. Namun, nyatanya Rivera berhasil melindungi dirinya sendiri.
Rivera menangkap tangan Daniel, membuat ekspresi marah sembari menggenggam erat tangan Daniel.
"Master.. " Ajax dan Hector saling tatap dan tidak lama kembali mengarahkan pandangan pada Rivera yang sedang terdiam dengan ekspresi sangat kesal-sekesal-kesalnya!!
"Animos..!! Dasar iblis sialan..!!"
^^^To be Continued~^^^
__ADS_1