BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
MEMULAI MENARA KEMBALI


__ADS_3

Setelah 15 menit membaca buku, Rivera dan Abel memutuskan berhenti karena harus pergi untuk sarapan. Mereka pun pergi menuju ruang makan.


Setelah sampai mereka berdua pun masuk secara bersamaan. Dan rupanya Celevin dan Mark sudah berada di sana lebih awal.


"Selamat pagi Tuan Count, Tuan mark" sapa Rivera dan kemudian duduk di posisi biasa.


"Selama pagi untuk anda juga, Tuan Putri"


Disusul oleh Abel yang turut duduk di posisi biasanya. Hal itu pun tak luput dari pandangan Celevin. Dia yang mengetahui jika sebelumnya Rivera dan Abel memiliki hubungan yang buruk pun merasa sedikit heran sekaligus bahagia.


"Apakah akhir-akhir ini hubungan kalian berdua membaik?" tanya Celevin penasaran.


"Iya/ya" Jawab mereka serempak tanpa menoleh dan malah fokus pada makanan masing-masing.


"Benarkah. Baguslah jika seperti itu," ujar Celevin bahagia melihat kekompakan dari kedua bocah di didepannya.


Mereka berempat pun saling terdiam karena fokus pada makanan masing-masing. Hanya terdengar suara dentingan sendok di kala itu. Dan terlihat dengan jelas jika keempat orang itu sangat menikmati hidangan yang telah dibuat.


10 menit berlalu..


Acara sarapan itu sudah selesai. Kini, Rivera dan Celevin sedang berada di dalam ruangan kerja Celevin. Hal itu Rivera lah yang meminta, dikarenakan dia ingin membicarakan sesuatu pada Celevin.


"Apa yang ingin putri sampaikan kepada saya? Apakah saya bisa membantu?" kata Celevin sedikit khawatir.


Rivera terdiam sambil merogoh sesuatu di tas miliknya.


"Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Tuan Count" ujar Rivera mengulurkan satu buah batu berlian kepada Celevin.


Celevin yang merasa kebingungan pun dengan segera mengambil batu berlian itu untuk di lihat lebih teliti lagi.


" !! "


"Putri, bukankah ini adalah batu berlian?" ujar Celevin begitu terkejut saat mengetahui jika yang sedang dia pegang saat ini adalah batu berlian yang amat langka.


Rivera mengangguk "Itu adalah batu berlian. Saya menemukannya di bukit belakang kediaman," jawab Rivera.


" !! "

__ADS_1


"Mustahil. Bagaimana berlian yang langka bisa berada di bukit belakang kediaman?" tanya Celevin tak percaya.


"Saya berani bersumpah, Tuan Count. Apa perlu saya melakukan sumpah mana?"


"T-tidak, maksud saya...bagaimana bukit itu bisa memiliki batu berlian yang langka ini? Saya benar-benar tidak menyadari jika di sana memiliki berlian-berlian ini,"


Rivera dapat memahami apa yang sedang di pikirkan oleh Celevin. Dia pun paham apa alasan Celevin masih belum bisa mempercayai perkataannnya. Di karenakan dia hanyalah seorang anak kecil yang berusia 11 tahun.


"Bagaimana jika kita pergi kesana. Jika perkataan saya memang benar adanya, maka berikan hasil penjualan sebesar 30% kepada saya," ujar Rivera tersenyum simpul.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba," jawab Celevin sambil berjabat tangan dengan Rivera.


...****************...


Mereka memutuskan untuk pergi bertiga, Rivera, Celevin dan Mark. Mereka yang sudah sampai di bukit pun dengan segera menggali tanah untuk memastikan perkataan Rivera.


" !! "


Betapa terkejut Mark saat mendapati jika ada satu buah batu berlian pada lubang yang bahkan baru di gali oleh nya. Dia pun dengan segera mengambil berlian itu dan memberikan nya kepada Celevin.


"Tuan Count, saya menemukan satu berlian" ujar Mark.


Dan benar saja. Batu itu benar-benar berlian yang baru saja di tunjukan Rivera kepadanya.


"T-tuan putri, ini...." ujar Celevin dengan ekspresi bertanya-tanya.


"Jangan lupa, 30% untuk ku" sahut Rivera dengan senyum manisnya.


"Saya....


Celevin benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia menatap berlian itu dengan pandangan yang penuh arti.


"Apakah ini adalah awal bagi Romant?" Gumamnya merasa terharu.


Rivera yang menyaksikan itu pun turut merasakan rasa senang. Dia bahkan memeluk Celevin sebagai tanda bahwa dia mendukungnya.


Celevin pun menunduk dan melihat Rivera yang sedang memeluk kakinya, dengan segera pula dia pun berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Rivera.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan Putri. Semenjak tuan putri datang kemari, banyak keajaiban yang datang untuk masa depan Romant. Saya benar-benar berhutang budi pada Putri,"


".....30% saja sudah cukup untuk saya," timpal Rivera agar suasana mencair.


"Tentu saja, saya akan membagi 30% kepada putri," kekeh Celevin.


Dan semenjak hari itu, Celevin memutuskan untuk merubah jalannya. Dia bekerja keras dan mengumpulkan seluruh pengangguran di Romant agar bisa menambang berlian-berlian yang telah di temukan.


Tidak lupa di bantu oleh Rivera yang ikut andil menyeleksi para pekerja. Dia memisahkan para pekerja yang dapat di percaya dan pekerja yang tidak dapat di percaya. Dengan begitu pekerjaan tambang menjadi lancar hanya dalam waktu lima hari.


Bahkan hanya dalam waktu 5 hari saja, Count sudah memiliki pesanan yang membludak. Bukan hanya membludak pesanan, bahkan Celevin banyak mendapatkan kontrak kerja sama dari para kalangan bangsawan dan pedagang di kekaisaran Obelion.


Namun Celevin menolak semua tawaran kerja sama itu dan memilih untuk melakukannnya sendiri bersama para rakyat-rakyat Romant yang tidak memiliki pekerjaan.


Karena itulah, perlahan namun pasti, ekonomi rakyat Romant beransur-ansur membaik karena gaji yang di berikan oleh Celevin kepada mereka.


Setelah pertambangan di jalankan selama 5 hari, musim dingin pun tiba. Dengan terpaksa pertambangan di tutup untuk sementara waktu karena salju yang menutup habis bukit sehingga mustahil untuk melakukan pertambang.


Rivera yang sudah menyelesaikan misi pun memilih untuk memanjat menara kembali. Kali ini dia akan menaiki lantai tiga, lantai yang dikabarkan tidak memiliki monster namun mempunyai energi kegelapan yang bisa membawa seseorang ke dalam sebuah penyesalan masa lalu.


Rivera yang sudah mendapat kan informasi itu dari Kiryu pun dengan segera memasuki lantai tiga.


[Nona, berhati-hatilah. Jangan sampai terlena oleh kegelapan]


"Aku mengerti,"


Saat ini Rivera sedang berada di sebuah ruangan luas dengan minimnya pencahayaan. Di ruangan itu terlihat sebuah singgasana seorang raja yang tidak memiliki seorang raja yang duduk disana.


Rivera keheranan melihat suasana sepi itu. Dia pun mendekat kearah singgasana itu dan melihat ada sebuah mahkota dengan permata hitam sedang terletak di singgasana tersebut.


Dia yang belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi pun hanya bisa mengamati keadaan sekitar. Namun tidak ada hal menarik lainnya disana. Sehingga membuat Rivera jenuh dan memilih untuk duduk di singgasana itu.


"Aku lebih suka lantai yang ada monster nya," gumam Rivera dengan rasa jenuhnya.


Dia mengangkat mahkota itu dan mulai duduk di singgasana. Sambil duduk di singgasana tersebut, Rivera melihat-lihat mahkota dengan seksama.


"Kenapa hanya ada mahkotanya di sini?" gumam Rivera bertanya-tanya.

__ADS_1


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2