
Rivera mulai berjalan kembali mendekat kearah mereka. Dengan melipat kedua tangannya, Rivera, berkata "Mau apa kalian datang kemari?! Seharusnya para petarung seperti kalian bisa merasakan kehadiran monster yang sangat banyak itu, bukan?!" datar Rivera.
"Kami hanya melakukan raid monster karena ini memang sebuah pekerjaan yang sudah kami lakukan berbelas-belasan tahun. Tapi.. kali ini kami benar-benar sial..!" sahut, Kahil, menyayangkan apa yang telah menimpa mereka.
Rivera mengangkat 1 alisnya, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Kahil. Dengan tarikan napas dalam, Rivera berjalan kembali menuju batu tadi dan, kemudian dia mulai duduk di sana.
"Monster-monster itu sudah mendekat kemari, mereka sedang mengepung gua ini," ujar Rivera, sembari menatap pada Status Window yang hanya bisa dilihat oleh nya.
"!!!" mereka semua meringis ketakutan, dengan tubuh yang bergetar menahan rasa trauma mereka.
Rivera melirik kearah mereka dengan ujung matanya. Sedetik kemudian dia mulai mengarahkan pandangan pada Shop Sistem dan mulai membeli 9 botol Elixir.
"Minumlah," singkat Rivera, memberikan 1 box Elxir itu pada mereka.
Mereka semua terdiam, menatap Elixir dengan tatapan tidak percaya mereka. Ada kalanya mereka menelan air liur mereka, menatap bergiliran antara Rivera dan box Elixir.
"Di dalam box itu ada 9 Elixir, kalian bisa meminumnya masing-masing 1," lanjut Rivera.
Dia duduk kembali pada batu itu, bersikap acuh dan sibuk pada dunianya sendiri. Mereka pun langsung mengambil Elixir itu meski dengan keragu-raguan yang masih tersisa.
Kahil memperhatikan Rivera, lekat dengan pikiran bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang misterius yang sedang membantunya dan teman-temannya saat ini.
Namun, Kahil menepis semua rasa keingintahuan miliknya. Dia meneguk Elixir itu hingga habis sehingga secara perlahan-lahan kondisi tubuhnya pun membaik dengan drastis.
" !! " kesembilan orang itu terkejut melihat pengaruh Elixir pada tubuh mereka.
"Aku tahu jika Elixir adalah ramuan obat yang sangat langka dan memiliki efek yang sangat cepat bagi pemulihan. Namun aku baru kali ini meminum Elixir yang langsung memulihkan tenaga dalam hitungan detik," gumam, Kahil, namun cukup keras terdengar oleh yang lainnya.
Mereka semua setuju pada pernyataan, Kahil, sembari mengangguk-angguk, melihat botol Elixir yang kosong.
"T-terima kasih, Tuan. Saya benar-benar berterima kasih pada bantuan yang sangat besar ini," ujar seorang wanita, yang terlihat seperti petarung tipe pedang.
Rivera menolah, namun tidak ada jawaban sama sekali darunya. Dia hanya diam, menatap pada kesembilan orang tersebut.
__ADS_1
"Tuan? Apakah aku terlihat seperti laki-laki?" benak Rivera kebingungan melihat kearah tanganya yang memang sedikit berotot.
"Apakah karena otot ini? Tapi kan aku masih terlihat seperti perempuan! Apakah karena dada ku rata...?!" lanjutnya, memperhatikan kearah bawah.
Hal itu tidak luput dari pandangan, Kahil. Dia melihat ke arah Rivera dengan tatapan bingung. Entah apa yang dia pikirkan tentang Rivera, namun pandangannya tergambar sebuah perasaan kagum dan juga sedikit bingung tentang identitas Rivera yang sebenarnya.
Karena sibuk memperhatikan Rivera, Kahil, tanpa sengaja melihat pada rambut silver, Rivera, yang tergerai indah dibahunya.
Seketika, Kahil, langsung berdiri, menatap Rivera dengan pandangan yang berubah dengan rasa hormat nya.
"Apakah anda adalah anggota kekaisaran? S-saya benar-benar tidak mengenali anda, yang mulia pangeran," hormat Kahil, membungkuk dengan mata terpejam.
Seketika semua orang yang sibuk dengan pikiran mereka itu pun ikut berdiri, membungkuk dengan panik. Mereka panik karena sudah bersikap kurang ajar pada seorang anggota kekaisaran.
"Oh sial...! Aku lupa melindungi rambut ku... " benak Rivera menyayangkan kelalaian yang terjadi.
"Angkat wajah kalian, berpura-pura saja tidak tahu!!" tajam Rivera.
Semuanya langsung mengangkat pandangan mereka, melihat Rivera dengan canggung.
Rivera hanya bisa bergeleng-geleng melihat sikap mereka. Dia kembali fokus pada arah keluar gua. Seketika senyuman sinis langsung menghias wajah cantikanya. Rivera, turun dari batu itu dan kemudian mulai merasakan mana di sekitarnya.
"Mereka sudah sampai. Kalian tidak perlu takut, dan duduk lah disini dengan tenang. Sembari memulihkan tenaga kalian, jangan lupa untuk menyerap mana..!! " datar Rivera.
"Ma-maaf, Yang mulia. T-tapi kemana anda akan pergi?" tanya seorang wanita pengguna tombak dengan sedikit keragu-raguan.
Rivera melirik wanita itu dengan sudut matanya seraya berkata "Saya akan keluar untuk melakukan pemanasan," singkat, Rivera, berlalu pergi dari sana, meninggalkan kesembilan orang tersebut yang masih di landa oleh kebingungan.
Dia keluar menembus Shield itu dengan mudan. Hal itu pun semakin mengundang pertanyaan dari kesembilan orang yang ada di dalam gua tersebut.
"Aku benar-benar bingung, pangeran mana saat ini yang sedang menolong kita? Dan mengapa pangeran ada di tengah-tengah hutan iblis ini?!" pikir, Kahil, menatap dalam pada punggung Rivera yang perlahan semakin menjauh.
Beralih pada Rivera. Dia berjalan keluar dari gua, sehingga dia bisa melihat ada seorang pria yang sedang terkapar di tanah dengan keadaan yang sekarat.
__ADS_1
Seketika, Rivera, langsung tersenyum sinis melihat sang mage itu mendapatakan getah dari sikapnya.
"Bodoh sekali..!" monolog Rivera.
Dia mulai mengeluarkan Blood Sword nya, tersenyum mengembang dengan darah yang sudah mulai mendidih.
"Kemarilah kalian para makhluk menjijikan..!!" ujar, Rivera, melesat cepat bagai sebuah angin lalu.
Dia berlari melewati sang mage begitu saja, menyerang sekumpulan Goblin yang sedang merayakan sebuah kemenangan.
"Tolong aku.... " lirih sang Mage itu mengulurkan tangan pada, Rivera. Namun sayangnya, Rivera, malah melewatinya begitu saja.
"S-sialan..!! " cicitnya, menahan rasa sakit akibat luka patal yang diberikan oleh para goblin.
*BOOMM.... diiringi oleh suara ledakan yang berasal dari bola api milik, Rivera. Sang Mage membola melihat, Rivera, yang sedang menebas para Goblin itu bagaikan sebuah rumput.
"A-aku harus pergi.. ke dalam gua itu....!! " lirih sang Mage, merangkak di tanah, menuju gua yang kini sedang dalam perlindungan Shield.
Namun celakanya, sang Mage tersebut tidak bisa sampai ke dalam gua dikarenakan ada 1 Ogre yang langsung menebas sang Mage hingga tewas di tempat.
*SLASHHH....
"Cikk cik... " Ogre itu pergi meninggalkan sang Mage setelah mengetahui jika sang Mage telah tewas.
Pertarungan berjalan sangat sengit. Rivera tersenyum lebar di sepanjang pertarungannya. Dia mengayunkan pedangnya yang telah terlapisi oleh aura menuju kearah kumpulan Goblin.
*SLASHHH....!!
Para Goblin langsung tewas, terbelah menjadi 2 tanpa melakukan perlawanan sedikit pun.
Setelah berhasil memberikan serangan besar itu, Rivera, melompat ke atas batu besar dan mulai menatap para monster itu dari bawah, dengan tatapan yang hina.
"Ini saatnya mencoba kemampuan Elemental Skills. Aku akan lihat, elemen apa saja yang berhasil aku kuasai..!!"ujarnya seraya tersenyum sinis, menatap pada kumpulan monster yang berusaha untuk memanjat batu yang saat ini sedang dipijaki oleh Rivera.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^