BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
MISI SELESAI


__ADS_3

Seketika Solderet mulai mengarahkan pandangan kesekitarnya. Dia lihat penampakan tidak enak itu dengan tatapan tidak percaya. Darah ada dimana-mana, mayat bergelempangan dan bahkan tempat itu dipenuhi oleh monster.


"Oh tidak... tempat yang aku lindungi...!! " lirih Solderet menatap keadaan dengan lelah.


"Cepat urus semua monster itu..! Sementara saya akan mengurus pria ini terlebih dahulu," teriak Rivera.


"Serahkan pada raja naga tampan ini..!!" Solderet tersenyum sinis, menatap remeh kearah para monster. Dia maju dan kemudian berubah menjadi seekor naga yang sangat besar, bewarna hitam dengan corak api ungu di di sekujur tubuhnya.


*GUARTTTTT.... suara besar yang dikeluarkan Solderet begitu mencekam sehingga para monster mampu terintimidasi dan kabur dari tempat itu.


Bukan hanya para monster, bahkan orang-orang yang ada disana menjadi terintimidasi oleh keberadaan Solderet. Mereka mendadak mematung dengan tatapan kosong.


"Ohh tidak... aku tidak bisa melawan seekor naga..! "


"Ternyata naga benar-benar ada... bagaimana cara mengalahkannya... "


Orang-orang beranggapan jika Solderet berada di pihak lawan. Tubuh mereka gemetaran, menerima tekanan besar dari aura membunuh Solderet yang sangat kuat.


"Tenanglah manusia-manusia rendahan..! Raja naga ini berada di pihak kalian. Cepat turunkan pandangan kalian dari raja naga tampan ini, atau tidak kalian yang akan hangus..!! " ujar Solderet seraya menyeringai jahat kearah orang-orang yang sedang menatap takut kepadanya.


"A-apa..? Naga itu ada dipihak kita..? "


"Be-benarkah itu...? "


Mereka saling tatap, merasa tidak yakin sehingga pandangan mereka tertuju pada Rivera yang sedang sibuk dengan Alexander. Rivera yang sedang melakukan pemurnian itu pun dengan sadar berbicara pada mereka semua...


"Percayakan pada naga itu, dia adalah pelindung kekaisaran..! " datar Rivera, menatap dingin. Dan tidak lama, dia mulai membuang pandangan ke arah Alexander kembali.


Setelah mendengar perkataan Rivera, mereka menjadi semakin yakin dan secara tiba-tiba rasa keberanian dan percaya diri mereka menjadi membesar. Mereka kembali memiliki tekat juang dan menggenggam senjata mereka kembali.


"SERANG..!! " mereka semua berbondong-bondong mengejar para monster yang sedang lari dari amukan Solderet.


*GRUATTTT.... Solderet menyemburkan lava panas dari mulutnya sehingga kumpulan goblin dan ogre lenyap dalam hitungan detik. Namun sayangnya, akibat dari larva itu, ada 2 korban manusia yang ikut terlahap dan mati. Tentu saja itu mengundang perhatian Rivera yang sedang fokus pada Alexander.


"NAGA TUA SIALAN..!! PERHATIKAN MANUSIA YANG ADA DISANA!! " kesal Rivera meneriaki Solderet.


"Maaf, mereka sangat kecil..!! " jawab Solderet terkekeh dengan suara naganya yang sangat berat.

__ADS_1


Solderet melanjutkan aktivitas, dan menepas semua monster dengan buntut besarnya. Seketika semua monster langsung tepar, tidak sadarkan diri.


Sementara Rivera, dia sedang mencoba fokus kembali untuk memurnikan energi gelap yang sedang menggerogoti tubuh Alexander. Meski ekspresinya terlihat biasa saja, namun sangat disayangkan jika Rivera sedang berada di titik terendahnya. Mana nya terkuras sangat banyak karena pemurnian energi jahat ini sangat memakan energi.


Daya hidupnya melemah sehingga Kiryu terus-terusan menyuruhnya berhenti.


[Nona, hentikan saja. Jika mana ditubuh Nona habis, maka Nona akan mati]


Kiryu terdengar lirih, seolah-olah dia juga melemah, sama lemahnya seperti Rivera.


"Kiryu.. diamlah. Sedikit lagi, kita akan berhasil..! Sedikit saja...!! " balas Rivera, mengerut karena menahan rasa sakit dari tubuh yang mulai kekurangan pasokan mana.


"Sedikit saja, tunggu saja sebentar lagi..! Jika ini selesai, aku tidak akan melakukan hal tidak berguna ini..!! " benaknya semakin menambah Holy Power.


*BOMMMM.... suara ledakan kembali terdengar, 3 kali lebih keras dari suara ledakan yang diciptakan oleh Rivera. Bersamaan dengan itu, tempat yang awalnya sudah kembali menggelap, tiba-tiba menerang, termakan oleh cahaya.


Semua orang menutup pandangan mereka, merasakan rasa perih dari cahaya yang sangat terang.


Karena cahaya yang sangat dahsyat itu, tubuh Rivera bersinar. Rambutnya menyala di iringi oleh wangi manis yang tiba-tiba saja menyebar keseluruh tempat.


Semua orang mulai membuka pandangan mereka, menatap kesekitar. Seketika pandangan takjub mulai mereka berikan tatkala melihat bahwa semua portal sudah tertutup.


Sebuah senyuman bahagia mulai mereka tunjukkan diiringi oleh tangisan haru. Rivera pun mulai menghentikan pemurnian itu dan memandang Alexander dengan dingin.


"Hidup Tuan putri ke-4... hidup..!! "


Para pejuang, yang ikut berjuang sedang merayakan keberhasilan mereka. Mereka dengan bangga menyebut Rivera, dengan senyuman bahagia.


Namun itu berbeda dengan apa yang menjadi pikiran Rivera. Dia terdiam, merasa pusing pada suara keras mereka.


"Bisakah kalian hentikan? Tolong bawa baginda ke tempat yang aman. Kita harus segera mengobatinya..!! " tegas Rivera, seketika semuanya terhenti dan menatap kearah Alexander.


"Tidak..! Bukannya kaisar baru saja berkhianat?! " tolak mereka, menatap benci kearah Alexander.


" !! " Rivera dengan terkejut memandang kearah yang baru saja berbicara dengan lancang.


"Apa yang anda katakan..?! Baginda baru saja dikendalikan oleh energi jahat, sama hal nya dengan prajurit-prajurit yang baru saja kalian lawan. Jika saja mereka tidak dikendalikan oleh energi jahat, saya tidak akan kehilangan banyak mana untuk pemurnian..!!" ketus Rivera menatap dengan datar.

__ADS_1


" !! " mereka semua terdiam, menurunkan pandangan dan secara sadar bahwa mereka baru saja berpikir buruk tentang kaisar mereka. Berpikir buruk, apalagi berbicara lancang, sama halnya melakukan sebuah pemberontakan.


Mereka cukup sadar jika mereka telah melakukan hal keliru. Dengan kesadaran penuh mereka mulai mengangkat pandangan mereka, kembali menatap Rivera.


"Maafkan kami, Tuan putri ke-4. Kami tidak tahu malu pada anda yang sudah menyelamatkan umat manusia. Kami akan membawa yang mulia kaisar, putri ke-4 tidak perlu khawatir," jawab salah satunya, dan tidak lama langsung diikuti oleh yang lainnya.


Mereka menggotong tubuh Alexander dan Ares masuk kembali ke dalam istana. Sementara Rivera memilih untuk tinggal, dan duduk di reruntuhan dengan rasa lelahnya.


Tidak lama, Ajax dan Hector datang. Mereka berlari kearah Rivera dengan rasa khawatir mereka yang besar. Dan tidak lama kemudian, disusul oleh para kesatria yang tersisa. Mereka mendatangi Rivera dengan rasa khawatir.


"Master..!! " mereka semua dengan serempak berlutut, memberi hormat pada Rivera. Hal itu pun tidak luput dari pandangan semua orang yang ada disana. Mereka menatap kagum ke arah anak kecil yang selama ini mereka rendahkan dan mereka anggap pembawa sial.


Namun Rivera mengabaikan semua pandangan itu. Dia terdiam, merasakan rasa sakit dalam diam. Secara samar dia mulai merasakan jika kesadarannya menipis.


"Tidak ada waktu. Kita harus pergi dari sini, meninggalkan Obelion..!"datar Rivera dengan tatapan dinginnya.


*Ding


...[ Selamat misi selesai ]...


...[ Terima hadiah ]...


...[ ok / tidak ]...


...[ ok ]...


"Akhirnya misi selesai.... " benak Rivera mengulum senyum.


"Kalian, kembalilah ke dalam dimensi ruang waktu. Tidak ada waktu lagi, kita harus segera pergi,"


" !! "


"Keturunan ku, apa kau ingin meninggal kan raja tampan ini? Ayolah kau..."


"Anda juga masuklah..!" datar Rivera memandang malas Solderet sehingga perkataannya terhenti.


^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2