
Gerjaban mata perlahan mulai terbuka, secara samar mulai terlihat keadaan tempat yang memiliki minimnya pencahayaan. Pria itu telah melihat sosok yang telah menghajarnya habis-habisan. Sehingga rasa takut mulai menghantui dirinya.
Sosok itu adalah Rivera. Rivera sedang duduk dikursi, berhadapan dengan pria itu sembari menatap datar. Bak mangsa yang hendak di buru oleh elang, pria itu menggigil ketakutan saat merasakan hawa panas disekeliking Rivera.
"Untuk apa anda sampai terkejut seperti itu..?! Saya hanyalah anak kecil yang imut, untuk apa sampai takut.." santai Rivera, lalu bangun dari posisi duduk untuk menghampiri pria yang sedang dia ikat itu.
"Hmpp... hmppppp...!!" pria itu memberontak dari ikatannya.
Pupil mata pria itu bergetar, rasa takut semakin menghantuinya. Dipandangannya, Rivera terlihat seperti sebuah cahaya bewarna putih namun dengan aura yang menusuku-nusuk kulitnya.
"Jawab pertanyaa saya. Kapan kalian akan melakukan ritual itu..?!" tegas Rivera menjambak rambut pria itu. Pria itu hanya bisa bergeleng-geleng dengan air mata yang terus bertumpahan.
"Mengapa pria ini sangat takut padaku..?! Memangnya aku ini monster!! " benak Rivera, menarik rambut pria itu dengan jengkel.
"Hmppp... hmppp.. hmpppp," pria itu lagi-lagi memberontak, sehingga kursinya pun mendarat kelantai.
*Brukkk
Rivera memiringkan kepalanya, lalu duduk kembali. "Kau jatuh ya..?"
Sulit di mengerti. Rivera menghela napas, memijat kening dengan lelah. Dia berpikir sesaat, apa yang harus dilakukan agar membuat pria di depannya mengakui semua rencana jahat yang akan dilakukan oleh Animos.
"Animos benar-benar memiliki anak buah yang setia. Dia tidak mau mengaku meski aku sudah menghajarnya habis-habisan," benak Rivera lelah, kembali melihat pada pria itu semakin menambah sakit kepalanya.
"Dengar, anda harus menjawab. Setidaknya satu kata saja," desak Rivera mencengkram dagu pria itu dan kemudian mulai membuka pengikat mulut.
"Hmpp... t-tidak.! Aku tidak akan mengatakannya, tolong bunuh saja aku..!! " tolak pria itu masih dilanda oleh rasa takut.
"Huftt...!! Andai saja saya bisa membaca pikiran anda, maka saya tidak akan seperti ini. Sangat susah hidup di zaman seperti ini..." protes Rivera menatap tajam pada pria tersebut.
"Baiklah! Semakin lama anda tidak mengatakannya, semakin lama juga saya akan menyiksa anda! Baru anda tahu seperti apa neraka..!! " jengkel Rivera melayangkan satu tamparan pada pria itu sehingga leher pria itu sedikit memiring dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"T-tolong bunuh saja aku.." tangis pria itu menahan rasa sakit dari rahangnya yang menglami pergeseran.
"Mati memang tidak semudah itu, jika anda masih belum jujur pada saya!" tajam Rivera diiringi oleh hawa membunuh nya yang pekat sehingga pria tersebut merasakan sesak napas.
Tubuh pria itu kaku, pupil matanya bergetar. Terasa sangat menakutkan sampai ketulang-tulangnya. Bahkan Rivera pun bingung terhadap reaksi yang diberikan oleh pria tersebut.
__ADS_1
"Aku tahu jika aku menakutkan, tapi apakah memang semenakutkan itu? " benak Rivera masih tidak memahami.
"A-aku.. aku..." gagu pria itu masih mematung lalu mulai mengompol sehingga celananya basah.
Rivera yang menyadari ada sepancuran air mengalir kelantai langsung menghindar dengan perasaan geli.
"Memalukan sekali," cicitnya jengkel.
"Tolong bunuh saja aku..! Jangan siksa aku seperti ini, kau adalah monster, jangan mendekat," pekik pria itu menangis histeris.
"Katakan dulu yang sejujurnya. Saya akan membunuh anda tanpa rasa sakit," jawab Rivera berusaha bersabar, menenangkan diri agar tidak kelepasan untuk memukul pria itu kembali.
"A-apakah kau akan menepati janjimu..?!"
"...Ya, hanya jika anda jujur pada saya,"
Pria itu masih berpikir, dengan takut-takut bibirnya mulai bergerak. "G-gerhana bulan, me-mereka.....
" !! "
Perkataan pria itu tiba-tiba berhenti. Dia mematung dan tak lama darah mulai keluar deras dari mata, mulut, lubang hidung dan telinganya. Rivera membola dan dengan cepat kembali berkata.
Namun nyatanya pria itu masih mematung, dengan tatapan kosong, memandang lurus kedepan.
"Cepat katakan..!! " desak Rivera menggoncang-goncang tubuh pria itu.
Namun sayangnya, pria itu telah menghembuskan napas terakhirnya. Rivera memandang kosong pada harapan satu-satunya yang dia punya.
"Ck! Sialan..!! Mereka sangat licik..!!" kesal Rivera menendang pria itu sehingga jatuh kelantai.
Rasa kesal mulai menjalar disekuju dadanya. Dia benar-benar kesal sehingga saat itu juga, Rivera ingin sekali mengamuk dan menebaskan pedangnya.
"Gerhana bulan.. hanya itu satu-satunya petunjuk yang aku punya. Animos, kau manusia menjijikan..!! "
...****************...
Setelah kejadian itu, banyak sekali hari-hari yang dilewatkan oleh Rivera. Sembari terus menunggu dan menunggu.
__ADS_1
Mencoba mengamati apapun yang mencurigakan, Rivera tidak menemukan apapun. Dia merasa frustasi sembari terus meningkatkan kekuatannya. Dia telah menaiki kembali lantai 5 menara.
Dari segala tantangan yang dimiliki lantai 5 masih membuat Rivera ingat pada kejadian saat gerhana bulan tiba. Tak hentinya dia mencoba untuk mengalihkan pikirannya, namun masih tertuju pada jawaban yang tidak jelas.
Saat ini, dipagi hari yang seharusnya membawa kebahagiaan malah terasa suram karena Rivera mengurung diri di dalam kamar tanpa merespon siapa pun yang mencoba mengetuk pintu apalagi memanggilnya.
Bahkan Alexander turut ikut campur untuk memanggil Rivera, mencoba membujuk Rivera agar keluar dari kamar.
"Mengapa kau bertingkah kekanak-kanakan seperti ini..! Keluarlah Rivera Windsor..!!" tegas Alexander menggedor-gedor pintu kamar Rivera.
Rivera yang sedang melakukan penyerapan manapun sontak saja langsung membuka lebar-lebar matanya.
"SAYA ADALAH RIVERA BEATRICE..!! " pekik Rivera jengkel.
"Cih! Windsor apanya..!! " benaknya memejamkan mata kembali.
" !! " kening Alexander mengerut. Tatapannya menajam. Tanpa sadar dia mengeluarkan mananya, sehingga pintu yang terkunci terbuka dengan kuat.
*BRUKK..!!
Dorothy dan Eiden terkejut dengan mata membola, melihat pintu yang terhempas kuat. Mereka memperhatikan Alexander yang sedang masuk kedalam kamar Rivera, dengan langkah berat dan ekspresi kesal.
Rivera hanya memejamkan matanya, berpura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu. Dia masih melakukan aktivitas menyerap mana.
Alexander yang sudah mendekati Rivera, dengan segera berjongkok, mengangkat tubuh Rivera kedalam gendongannya.
"!!" Rivera terhentak, merasakan tubuhnya melayang diudara. Dia membuka mata dan mendapati jika dia sedang berada dalam gendongan Alexander.
"B-baginda..!! Apa yang anda lakukan, cepat turunkan saya!!" kesal Rivera meronta untuk diturunkan.
"Perbaiki panggilanmu..!! " tegur Alexander membawa Rivera keluar dari dalam kamar.
"Ck! Jika saya memukul baginda apakah saya akan mendapat hukuman..?" tanya Rivera dengan tangan yang gatal untuk memukul.
Alexander melirik Rivera dengan sudut matanya. "Hukuman mati, " datarnya.
Rivera terdiam. Dia mengunci bibirnya dengan perasaan jengkel. Melihat Reaksi itu, Alexander tersenyum kecil disertai oleh perasaan senang dan tenang yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^