
Karena tidak mendapat kan potongan-potongan teka-teki Rivera memilih untuk keluar dari dalam ruangan itu. Dia menuruni anak tangga dengan lesu sembari terus menghela napas dalam-dalam.
"Bagaimana cara ku untuk mendapatakan jawaban dari teka-teki misi..? Apa yang akan dilakukan para pengguna sihir itu dengan ritual aneh yang mereka lakukan..? Ahh kepala ku pusing," monolog Rivera lesu.
Dia terus menuruni anak tangga sampai saat nya dia sampai di pintu keluar. Namun disaat dirinya baru saja menginjakkan kaki menuju pintu keluar, Rivera dikejutkan dengan kemunculan pelayan wanita yang sedang mengalami kepanikan.
" !! " pelayan wanita itu termundur. Matanya membesar tatkala melihat Rivera secara tiba-tiba berada di depannya.
"Tuan putri..." ujarnya senang seolah-olah sedang menemukan sebongkah berlian.
"Tian putri ada di sini..!! " teriak pelayan itu sembari berlari kearah sebaliknya sehingga membuat Rivera keheranan pada sikap pelayan tersebut.
"Apa-apaan wanita itu..?! " bingung Rivera lanjut menuruni anak tangga.
Rivera pun segera keluar dari sana dan langsung disambut oleh keberadaan Eiden, Dorothy dan beberapa keberadaan pelayan lainnya yang sedang menghampiri nya dengan ekspresi bahagia.
"Tuan putri... anda dari mana saja..?! Saya mencari anda kemana-mana tapi anda tidak ditemukan.. "
"Tuan putri, mengapa anda sangat senang menghilang seperti ini?! Kami semua sangat mencemaskan Tuan putri, apa putri baik-baik saja?"
Rivera langsung diserbu oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuat nya bingung. Dia hanya bisa menghela napas dalam-dalam sembari memijat pelan keningnya.
"Tuan putri..." Dorothy sangat sedih dan terus mengeluarkan air matanya.
"Huft.. saya baik-baik saja, Eiden. Dan untuk Nanny, aku baik-baik saja. Aku hanya jalan-jalan di dalam ruangan itu.. aku tidak pergi keluar," jelas Rivera berharap agar kekhawatiran mereka semua menghilang.
"Apa..?! Tuan putri, apakah anda baru saja memasuki ruangan itu?" kejut Eiden dengan raut serius.
"Ada apa? Apa anda tahu apa yang ada di dalam ruangan itu?" selidik Rivera curiga jika Eiden mengetahui apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Bisa jadi jika Eiden ikut terlibat kedalam rencana jahat itu, kan?" benak Rivera.
"....Saya tidak tahu apa yang ada di dalam ruangan itu, dan tidak ada yang pernah tahu selain kaisar terdahulu dan kaisar saat ini," jawab Eiden serius sembari memperhatikan pintu ruangan yang baru saja di masuki oleh Rivera.
"?!"
"Kenapa? Apa susahnya masuk kedalam untuk melihat?" tanya Rivera masih tidak yakin.
"Putri..?! Ruangan itu tersegel. Tidak ada yang bisa memasuki ruangan selanjutnya setelah menaiki 100 anak tangga. Jadi.. apa yang telah terjadi pada Tuan putri..?" kejut Eiden dengan perasaan heran.
"!!"
"Oh astaga.. apa yang sedang aku alami? Mengapa aku harus terlarut kedalam kondisi yang rumit..!" benak Rivera ikut terkejut mendengar jawaban yang diberikan Eiden.
"Eiden, saya ingin bertemu dengan baginda. Apakah baginda ada?"
Bukannya menjawab, Eiden dan Dorothy hanya bisa saling menatap dengan ekspresi kebingungan. Mereka ingin mejelaskan sesuatu, namun mereka kebingungan ingin memulainya dari mana!.
"Eiden..? Nanny?" lanjut Rivera karena tak kunjung diberikan jawaban.
"Tuan putri...
"Apa? "
__ADS_1
...****************...
Rivera, Dorothy dan Eiden saat ini sedang berada di depan pintu kamar Alexander yang sedang tersegel oleh mantra sihir yang sangat kuat. Rivera yang sudah mendengarkan jawabannya dari Eiden pun hanya bisa terdiam memandang pintu dengan datar.
"Putri, sebaiknya kita pergi dari sini. Yang mulia kaisar pasti akan membaik keesokan hari nya karena ini sudah sangat sering terjadi," saran Eiden merasa sedih karena Rivera harus tahu kebenaran yang hanya di ketahui oleh beberapa orang di Emperor's Palace.
Rivera terdiam, memegang pintu itu sembari menatap datar.
"*Solderet mengatakan jika tipe kekuatan nya adalah kegelapan. Jadi.. apakah aku bisa memurnikan kegelapan itu dengan kemampuan Saintess yang aku punya*? "
"*Namun, apa efek samping nya saat kekuatan jahat dimurnikan? Apakah pria itu akan kehilangan kekuatannya atau malah mati*?"
Rivera benar-benar bimbang pada keputusan yang ingin dia buat. Dia tidak menyangka jika masalahnya akan serumit ini. Dia menatap kebawah sembari terus berpikir "Apa yang harus aku lakukan?!"
"Nanny, aku ingin kembali ke dalam kamar," ujar Rivera pelan namun masih kuat terdengar oleh Dorothy.
"Mari Nanny antar, Tuan putri,"
Mereka berdua pergi memisahkan diri dari Eiden sehingga tertinggallah Eiden sendiri yang ada di sana. Eiden hanya bisa menatap punggung Rivera tanpa mau banyak bicara karena kondisi tidak terlalu memungkinkan.
"Yang mulia harus tahu jika Tuan putri ikut mengkhawatirkan dirinya," monolog Eiden mengusap air matanya.
Singkatnya waktu, Rivera sedang berdiri di balkon kamarnya sembari menikmati angin malam yang menyegarkan kembali pikirannya yang telah kusut.
Dia menopang dagunya dengan tatapan malas. Tiada henti dirinya menghela napas karena sedang memikirkan masalah yang sedang dia alami saat ini.
__ADS_1
"Aku harus secepatnya menemukan jawaban dari teka-teki masalah ini. Siapa yang ikut terlibat dan apa yang ingin mereka lakukan. Aku harus mengetahui hal itu secepatnya..!! "
"Tapi masalah yang berbeda juga terlibat kedalam masalah yang harus aku hadapi. Ini seperti benang kusut yang sudah sangat susah untuk diperbaiki..!! " Rivera merasa frustasi sehingga tanpa sengaja dirinya menendang kursi sehingga kaki kursi itu patah.
"Brukk
"Oh tidak, kaki nya patah. Wahh Nanny pasti akan marah.. " monolog Rivera mencoba untuk memperbaiki kaki kursi.
"Seharusnya dia akan membaikkan..? Aku...!! " Rivera terus memperbaiki kaki kursi itu sehingga tak sengaja dirinya semakin merusak kursi tersebut dengan cengkraman tangannya yang kuat.
"Ck! Sialan... " kesal Rivera yang hendak melempar kaki kursi menuju kebawah balkon. Namun tiba-tiba dirinya mengurungkan niat nya setelah melihat 1 orang pria mencurigakan yang sedang menyelinap masuk kedalam istana.
"Siapa itu..?" sontak saja Rivera bergegas meloncat dari atas balkon untuk mengejar pria yang sangat mencurigakan tersebut.
\*Brukk..
Rivera segera berlari tanpa menggunakan alas kaki sama sekali. Dia melesat dengan sangat cepat sehingga tubuhnya terlihat seperti sebuah bayangan yang melayang.
"Apakah pria itu memiliki kaitannya dengan misi? Aku harus memastikan niat tersembunyi pria itu..!! " ujar Rivera bersemangat sembari mengeluarkan dagger miliknya.
"Tinggulah kakakmu ini yang akan segera menghampiri mu!! " lanjutnya.
Singkatnya waktu, pria itu membawa Rivera hingga kesebuah perumahan kecil yang terletak dibagian belakang emperor's Palace. Rumah itu terlihat tidak memiliki ukuran kecil namun juga tidak besar. Dirumah itu Rivera bisa merasakan energi jahat yang sama seperti energi jahat yang diundang oleh 2 penyihir yang sudah dia habisi Rivera sebelumnya.
"Apa tujuan mereka yang sebenarnya.. ?!"
__ADS_1
^^^To be Continued~^^^