BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
LANTAI 51


__ADS_3

"Baguslah..!! Sialan, sudah sangat lama aku menahan diri.!!" ujar Rivera tersenyum sinis, memikirkan rencana yang akan dia lakukan nantinya.


Dia bangun dari posisi duduknya. Berdiri dengan tegap sembari menghirup napas dalam-dalam. Rivera membuka portal menara dan kemudian mulai masuk kedalam menara.


Pada malam itu, dia akan mencoba menaiki lantai 51. Lantai yang akan menjadi sebuah percobaan Rivera untuk melepas hasrat membunuhnya. Dia masuk dan kemudian mulai membeli 1 botol Elixir.


Begitu meneguk habis Elixir itu, Rivera mulai memeriksa kemampuannya terlebih dahulu.


*Ding


...[Nama : Rivera Beatrice ]...


...[Ras : Manusia ]...


...[Usia : 16 Tahun ]...


...[Rank : SS++ ]...


...[Strength : 5000 ]...


...[Ability : 7000 ]...


...[Skill : Poison Blood , The shadow, Mercenary, Sword Aura, Saintess, Spy item's, Teleportasi, Elemental skills & Panop ]...


...[Vitality : 8000 ]...


...[Mana : 8000 ]...


Mata Rivera membola, melihat kemampuannya yang sudah meningkat sejauh ini. Dia menggaruk kepalanya, menatap pada pada tingkatan-tingkatan kemampuan nya.


"Me-memang aku sudah menghabiskan puluhan ribuan tahun di dimensi ruang waktu. Namun... tetap saja aku kaget.. " monolog Rivera.


Sedetik kemudian, dia mulai mengalihkan kembali fokusnya pada menara.


"Aku harus menguji kemampuan Elemental Skills yang ku punya. Kira-kira, apa saja yang bisa aku kuasai nanti.." ujarnya tersenyum sinis seraya mengeluarkan dagger nya.


"Kiryu, kirim aku ke lantai 51..!"


*Ding

__ADS_1


Rivera mulai berteleportasi menuju lantai 51. Dia menghilang dalam sekejab mata dan menuju kesebuah lantai baru, lantai misterius yang telah membuat darah Rivera mendidih.


*Ding


Rivera sampai disebuah tempat yang memiliki pegunungan merapi. Hawa lava-lava panas itu menyapa hangat Rivera yang berada di tengah-tengah gunung merapi aktif.


"T-tidak ku sangka jika latar kali ini adalah sebuah pegunungan merapi. Untung saja aku tidak mendarat di dalamnya... " monolog Rivera bergeleng-geleng melihat lava yang perlahan mulai menetes.


"D-dimana monsternya..?! Apakah aku harus mencari lagi..?" lanjutnya berjalan-jalan kecil, menatap kesekitar dengan waspada.


Rivera berjalan di tengah-tengah gunung merapi dengan keadaan yang selalu siap untuk menyerang.


Disaat dia tengah asik mencari monster yang ada disana, tiba-tiba saja lava gunung merapi tumpah, mengalir ke tanah sehingga membuat Rivera harus berlari dengan cepat agar bisa menghindari lava tersebut.


Dia melompat keatas batu besar, dengan perasaan lega bahwa dia tidak termakan lava tersebut.


"Apakah ada misteri yang harus aku pecahkan, lagi?" monolog Rivera seraya berpikir.


Dia melompat ke batu besar lainnya, melihat kearah bawah seraya menggunakan kemampuan pelacak nya.


"Mustahil jika tempat ini tidak memiliki monster..!! Kemana monster-monster itu pergi..!! " ujar Rivera mulai merasakan jengkel.


Disaat masih melacak keberadaan monster, Rivera tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah suara keras dari gunung-gunung merapi.


Seketika Rivera langsung tersenyum, melihat kearah Monster ular yang memiliki ukuran yang sama besarnya dengan sebuah gunung.


Kulit monster ular itu bewarna merah dan juga dia memiliki 5 kepala yang mempunya masing-masing tanda di kening mereka.


"Wah...wah.. wah..!! Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang..!" monolog Rivera, mengeluarkan Blood Sword miliknya lalu mulai menggunakan Sword aura.


Dengan hawa membunuh yang besar itu, dia mulai mengejar monster ular dengan senyuman sinis. Darahnya mendidih, memiliki kesenangan yang sangat luar biasa.


Melihat ular itu bagai sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan, menyambut Rivera dengan hangat. Tentu saja dalam artian lain. Rivera mengayunkan pedangnya kearah ular yang turut melakukan perlawanan dengan ganas.


"Ayo kemarilah nak..!" pekik Rivera kesal karena monster tersebut terus saja menghindar seolah-olah sedang mempermainkannya.


"Kurang ajar..!! " jengkel Rivera mulai mengeluarkan bola api besarnya, dan kemudian melepaskan bola api itu kearah sang ular.


*BOOMMM....

__ADS_1


Rivera mendarat ke batu besar kembali, menunggu asap-asap dari ledakan api itu menghilang. Dan sedetik kemudian sebuah pergerakan mulai terlihat. Monster ular itu menyerang Rivera dengan bringas.


Masing-masing kepala monster ular menyemburkan sebuah racun yang memiliki warna berbeda-beda. Mereka menyembur Rivera dengan racun mereka dan kemudian mulai menepaskan buntut mereka kearah Rivera.


"!!" Rivera segera melompat dari sana, meskipun tubuhnya sudah dilumuri oleh racun yang sangat berbisa. Rivera mendarat ke sebuah batu besar lainnya dengan perasaan semakin jengkel.


"Sialan! Bisa, mu ini sangat bau..!! " pekik Rivera geli, merasa jengkel dan kemudian mulai melesat cepat bak sebuah bayangan yang lewat.


Dengan ekspresi kesal dan suasana hati yang sedang dilanda oleh amarah, Rivera menebas ular itu dengan kemampuan yang sangat besar.


Karena serangan itu, cahaya emas mulai muncul diiringi oleh darah sang monster ular yang mulai menyembur kemana-mana. Darah monster ular itu bewarna hijau, disertai oleh bau hanyir yang sangat kuat.


Setelah menghabisi monster ular itu, Rivera segera mendarat kembali ke batu yang besar. Menatap tajam, dengan perasaan yang masih kesal.


"Aku benci darah monster..!! " pekik Rivera, meratapi darah monster ular yang sedang merekat di baju, rambut dan tangannya.


"Hanya ini saja..?! Kemana yanga lainnya?" bingung Rivera, karena tidak merasakan adanya keberadaan monster-monster lainnya.


Dia merasa jika lantai 51 ini sangat janggal dan penuh misteri. Dimulai dari gunung merapi yang berbaris disepanjang tempat dan juga 1 monster ular dengan rank B.


"Seharusnya lantai 51 adalah lantai yang memiliki kesulitan besar, bukan?! Aku tidak merasa ada yang hebat disini..!" monolog, Rivera, kebingungan.


Dia melangkah ke depan, mencoba untuk melihat keadaan sekitar. Dia berharap akan ada monster lagi yang akan dia temui. Namun, bukannya mendapatkan kejutan yang menyenangkan, Rivera malah mendapatkan sebuah kejutan yang benar-benar membuat nya terkejut.


Tiba-tiba tubuh Rivera terhisap oleh sesuatu sehingga membuat tubuhnya perlahan-lahan mulai menghilang.


Sedetik kemudian, Rivera mulai terhisap dan dibawa kesebuah hutan lembab. Dia terjatuh ketanah dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu.


*Bruk....


"Auuu..!! " keluhnya, mengusap-usap bokongnya. Namun sedetik kemudian dia mulai tersadar, mengalihkan fokus kesekitar.


"Ini dimana..?! Aku terbawa ke time line berbeda..?!" monolog Rivera kebingungan seraya berdiri dengan sikap waspadanya.


Tidak lama, terdengar suara tapak kaki dari kejauhan. Rivera menatap kearah sumber suara dan kemudian mulai melompat ke atas pohon. Dia menatap tajam kearah 10 orang yang sedang berjalan dengan ekspresi ketakutan mereka.


Tubuh mereka babak belur, dengan luka-luka besar. Setelah melihat hal itu, Rivera bisa langsung memastikan jika mereka baru saja melakukan pertarungan besar dengan seseorang atau monster yang sangat kuat.


"Jika dilihat dari luka mereka.. sepertinya mereka baru saja bertarung dengan monster tipe kuku tajam. dan juga... " Rivera menatap seorang pria yang sangat pamiliar untuknya.

__ADS_1


"Kenapa dia ada disini?!" monolog Rivera kebingungan.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2