BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
DIMULAINYA SEBUAH TRAGEDI BESAR


__ADS_3

Banyak sekali para bangsawan yang sudah berdatangan untuk menyambut hari ini. Bahkan rakyat biasa juga datang lebih awal sehingga lapangan yang tadinya luas sudah dipenuhi oleh mereka.


Menyaksikan itu Rivera hanya bisa mengulum senyum dengan pikiran yang terus saja memaki mereka semua.


"Bisa-bisanya kalian datang dengan ekspresi gembira seperti itu?!" gumam Rivera jengekel.


Karena sudah lama menunggu, akhirnya seorang pria tua dengan pakaian khas dari kuil suci pun maju bersama seorang anak perempuan yang juga menggunakan pakaian khas kuil suci. Mereka adalah Uskup dan Sainstess yang kali ini akan turut mengikuti acara suci pada malam ini.


Disaat kedua orang itu maju, seketika keadaan langsung riyuh, dipenuhi oleh suara rakyat yang senang karena telah melihat Saintess dan juga uskup yang sangat jarang sekali mereka lihat.


Namun antusias mereka tidak disambut baik oleh para bangsawan. Mereka mencemooh sikap tidak tahu malu mereka dengan tatapan sinis dan perkataan tidak ramah.


Uskup dan Saintess pun pergi menaiki altar doa sembari bersikap ramah sehingga semua yang melihat merasakan perasaan hangat.


Namun berbeda dengan Rivera, dia hanya bisa memberi tatapan datar kepada Uskup dan Sainstess. Kesal rasanya jika harus melihat Sainstess yang bahkan tidak bisa mendapatkan wahyu dari dewi tentang kejadian hari ini yang akan terjadi.


Dengan perasaan kesalnya, Rivera mulai membuang pandangan kearah tempat yang akan menjadi tempat duduknya Alexander. Namun sayangnya Alexander tidak berada di sana sehingga membuat Rivera sedikit jengkel.


"Kemana pria itu..? Dia adalah seorang kaisar, namun masih terlambat begini," cicit Rivera.


*Ding


[Selamat malam, Nona]


Tiba-tiba Kiryu aktif sehingga membuat Rivera semakin merasa jengkel. Dia menghela napas panjang dengan kepala yang sudah mulai cenat-cenut.


[Nona tidak menjawab sapaan Kiryu..!! ]


"Huft.. kenapa kau muncul sekarang?!" ketus Rivera.


[Nona... Kiryu kan hanya rindu pada Nona..!! ]


Rivera terdiam, menatap kearah altar doa. Seketika ekspresi datarnya berubah menjadi ekspresi kesal karena melihat sosok yang sangat dia benci.


"Animos sialan... ternyata kau berada disini..!!" gumam Rivera jengkel, menggenggam erat jari-jemarinya.

__ADS_1


[Nona, gerhana bulan semakin terbentuk ]


Rivera menoleh keatas, melihat kearah bulan yang mulai berubah menjadi gerhana. Saat itulah, Rivera mulai merasakan perasaan khawatir saat melihat semua orang yang ada disana.


"Gawat..!! Aku tidak berpikir jika yang berpartisipasi akan sebanyak ini..!! Mengapa juga mereka datang kemari, sangat merepotkan..!!!" gumam Rivera mulai berdiri dan mendekati altar.


Karena gerhana bulan sudah mulai terbentuk, akhirnya anggota keluarga kekaisaran maupun utusan-utusan dari kerajaan lain pun turut memenuhi acara suci tersebut.


Mereka duduk ditempat mereka masing-masing sembari melihat kearah Altar doa.


Termasuk Alexander, dia datang ditemani oleh Ares sehingga semua mata langsung tertuju pada dirinya. Semua rakyat biasa pun mendadak langsung berlutut sembari berkata..


"Hormat kami matahari kekaisara..!!" serempak mereka dengan suara yang bergema keseluruh tempat.


Alexander membalas anggukan kepala sehingga mereka semua langsung bangun dari posisi berlutut. Namun sayangnya sikap hormat mereka lagi-lagi tidak disambut baik oleh beberapa bangsawan. Mereka memberikan tatapan merendahkan sehingga beberapa rakyat biasa merasa terintimidasi.


Namun tidak lama, fokus semua orang langsung tertuju pada altar doa karena Uskup sudah mulai berbicara, membicarakan gerhana bulan yang akan terjadi.


"Saya sangat senang bisa berpartisipasi di acara yang telah diberkahi oleh sang Dewi. Saya tidak mengangka jika kita semua akan diberkahi oleh Dewi Selene," ujar Uskup memberikan sambutan utama untuk semua orang.


"Kita semua tahu jika Sainstess lah yang telah mendapatkan wahyu jika gerhana bulan akan datang. Kita harus memberikan tepuk tangan pada Saintess kita yang sangat mulia ini," lanjutnya, kali ini memberikan peluang untuk sang Saintess agar bisa lebih diperhatikan oleh semua orang.


"Saya merasa sangat tidak pantas, Terima kasih," ujar Saintess dengan rendah hati.


Sementara Rivera, dia hanya terdiam, memberikan tatapan datar pada Animos yang sedang terdiam di atas Altar doa. Rivera mengerutkan keningnya, melemparkan senyuman sinis dengan perasaan yang semakin jengkel.


"Si iblis tua ini...!! Untuk apa dia sampai menggunakan boneka sihi..!!" benak Rivera tersenyum sinis, menatap datar kearah Animos


Namun tidak lama, dia mulai memperhatikan sang Saintess yang sedari tadi hanya bisa menunjukkan senyuman cerianya. Itu cukup mencuri fokus Rivera, karena dirinya merasakan sesuatu yang aneh dari diri sang Saintess.


"Apa ini..?!" lirih Rivera mulai menatap keseluruh tempat dengan tatapan yang kali ini menjadi semakin menajam.


"Animos kau sangat licik..!!" gumam Rivera dengan tatapan tidak percaya.


"Tidak...! Saintess bahkan sudah terperdaya oleh sihir gelap Animos. Dan.. dan..hampir seluruh prajurit disini... " rivera terpaku, tidak lama dia mulai menatap kearah altar doa sembari mendengarkan pembicaraan Uskup.

__ADS_1


"Karena gerhana bulan sudah terbentuk, saya akan mulai melakukan acara suci ini," ujar Uskup mulai melakukan acara sehingga semua orang langsung terdiam dengan menggenggam tangan mereka, menatap kearah bulan.


Namun berbeda dengan Alexander dan juga Rivera. Mereka berdua tidak menggenggam tangan mereka dan malah membuat ekspresi datar. Mereka tidak peduli pada acara itu bahkan disaat Uskup menyuruh untuk ikut berdoa.


Cahaya pada cawan doa mulai bersinar dengan terang. Seketika semua orang dapat merasakan perasaan tenang dihati mereka. Mereka semua tersenyum, menikmati lantunan doa dari Uskup.


15 menit berlalu~


Cahaya terang semakin membesar sehingga menerangi hampir diseluruh tempat. Beriringan dengan itu, perlahan muncullah sebuah cahaya membentuk portal di tengah-tengah dari lapangan tersebut.


Sontak saja semua orang mulai menatap cahaya terang itu dengan tatapan berbinar mereka. Banyak sekali yang mereka harapkan, meminta didalam hati dengan pikiran mereka masing-masing.


"Sepertinya berkah Dewi Selene akan datang pada kita..! " ujar Saintess bersemangat sembari terus menggenggam erat tangannya.


"Wah.. kita benar-benar diberkahi oleh Dewi Selene..!!"


"Terpujilah Dewi Selene..!! "


Mereka semua tiada henti memberikan pujian pada Dewi Selene dan mengamati cahaya portal itu dengan tatapan berbinar.


Seperdetik kemudian...


*BOMM... ledakan terdengar sangat keras dari arah portal itu sehingga membuat semua orang terkejut dan berhenti menggenggam tangan mereka.


"Ada apa ini...?!" Uskup panik, menatap bingung kearah portal sembari terus berdoa dengan tulus.


*BOMM... suara ledakan kembali terdengar. Dan seketika itu mengundang fokus Rivera dan para anggota kerajaan.


Semua anggota kerajaan diamankan dan memasuki istana karena merasakan ancaman dari suara ledakan itu. Termasuk juga para bangsawan yang turut berlari dengan tergesa-gesa, karena mereka sangat menyayangi nyawa mereka yang beharga.


*Brukk..


" !! "


Saintess jatuh tidak sadarkan diri, diiringi oleh Animos palsu yang turut kehilangan kesadaranya.

__ADS_1


"Ini saatnya..!! "


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2