BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
MEMBERI PELAJARAN


__ADS_3

"Beberapa di kekaisaran dan keluarga bangsawan di Obelion sudah menyebarkan berita buruk tentang Master. Apakah master ingin kami langsung membunuh mereka saja..?! " tajam salah satunya yang bernama Ajax.


"Kami bisa menghabisi mereka semua hanya dengan 1 perintah dari Master," sahut satunya yang bernama Hector.


Ajax dan Hector adalah pengguna Holy power terkuat dari kesatria-kesatria Holy Sword lainnya. Tentunya Rivera memilih mereka berdua sebagai kesatria pribadi nya untuk melakukan berbagai misi. Ajax dan Hector memiliki wajah yang tampan nan rupawan, tidak heran untuk sekelas pengguna Holy power.


Rivera hanya bisa terdiam, menghela napas lelah. Dia berjalan menuju sofa dan kemudian duduk disana. Dengan mata sayu itu dia kembali melihat kearah Ajax dan Hector.


"Bukan informasi itu yang saya inginkan..!" tegas Rivera.


"Ma-maafkan kami, Master," ujar Hector panik, menyikut Ajax agar berbicara.


"M-maafkan saya, Master. Tapi saya ingin bertanya. Informasi apa yang ingin Master dengar?" gagu Ajax.


Rivera mengalihkan pandangan kearah Ajax, menghela napas lalu berkata "Kapan rembulan akan datang?" tanya Rivera.


Ajax dan Hector sontak saja langsung menunjukkan ekspresi kebingungan mereka. Mereka merasa, jika tidak ada informasi mengenai itu.


"M-master, yang bisa meramal datangnya rembulan hanya seorang Saintess. Ti-tidak ada informasi seperti itu.." jawab Hector agak takut melihat ekspresi tidak puas Rivera.


Rivera menghela napas. Dia terdiam dengan pikirannya sendiri. "Aku lupa jika aku sedang berada dizaman yang jauh dari peradaban modern. Tentu saja tidak ada yang tahu kapan rembulan akan datang," jengkel Rivera mengurut kening dengan kelah.


"Master, apakah master ingin kami menculik Saintess?" ujar Hector tersenyum semangat.


"Benar..!! Kami akan menyeret Saintess kesini untuk master," sahut Ajax menyetujui ide sang rekan.


Rivera terdiam. Sudah tidak ada kata-kata lagi yang bisa dia ucapkan. Dia mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar. "Jangan! Lupakan tentang Saintess. Saya ingin kalian menyelidiki Daniel, Buttler di istana ini. Secepatnya!! "


"Siap, master!! " mereka menghilang bagai bayangan, meninggalkan Rivera yang masih tenggelam dalam pikiran rumit.


"Daniel sangat mencurgikan! Apa yang terjadi pada pria yang selalu tersenyum itu.. " monolog Rivera, menerka-nerka kejadian yang terjadi pada Daniel sehingga membuat Daniel berubah.

__ADS_1


*Brukkk


Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah luar kamar Rivera, sehingga fokus Rivera mulai teralihkan pada asal suara tersebut. Dengan cepat Rivera bergegas membuka pintu untuk melihat apa penyebab suara nyaring barusan.


*Klak...suara pintu berderit terdengar, diiringi oleh perkataan tidak enak dari pelayan mulai menyapa indra pendengaran Rivera.


"Mengapa sepanjang hari aku disuruh untuk membersihkan istana ini!! Memangnya apa keuntungan yang akan aku dapat!!" hardik pelayan pada Johanna yang sedang berdiri didepannya.


"Kau... "Johanna menghentikan perkataannya tatkala melihat Rivera yang sedang memperhatikan. "Tuan putri... "


Sontak saja, pelayan itu langsung mengarahkan pandangan pada Rivera. Dia tatap Rivera dengan tajam, dan sedetik kemudian dia mulai membuang pandangannya seolah menganggap Rivera sebagai makhluk menjijikan.


"Be-berani sekali kau pada Tuan putri...!! " tegur Johanna menaikan nada bicaranya.


Pelayan itu masih terdiam, mengacuhkan Rivera dan Johanna. Rivera hanya bisa memperhatikan dengan santai, bersandar di tepian pintu dengan semirik menghias wajahnya.


"Sangat kurang ajar..!!" kesal Johanna.


"Ada apa ini..? Mengapa ribut-ribut di depan kamar saya?" santai Rivera, mengarahkan iris pada pelayan wanita itu sembari tersenyum kecil.


"Cih! Apa untungnya bagi ku bekerja untuk seorang putri cadangan, yang sudah dibuang oleh yang mulia kaisar..! Bahkan aku ingin berhenti dari sini..!!" hardik pelayan itu, sembari tersenyum merendahkan Rivera.


Pelayan itu mendekati Rivera perlahan, tersenyum licik sehingga Rivera bisa mencium bau busuk dari niat jahatnya.


*Tap.. tap.. tap.. langkah kaki pelayan itu tepat terhenti didepan Rivera. Dia menatap Rivera kebawah sembari berkata..


"Kau harus tahu tempatmu! Bahkan Buttler saja sudah tidak perduli pada putri cadangan seperti dirimu..!!" ujar pelayan itu pelan namun tajam. Kata-katanya penuh akan penekanan seolah sedang membuat Rivera paham.


Betapa geramnya Johanna, giginya bergerigit mendengar perkataan kurang ajar dari pelayan itu. "Dasar tidak tahu malu..!!" kesal Johanna menarik tangan pelayan itu dan kemudian menamparnya.


*PLAKK

__ADS_1


Pelayan itu memegang pipinya dengan mata membola, tak menyangka jika Johanna akan menamparnya.


"K-kau.. berani-beraninya kau untuk seukuran koki pada diriku yang merupakan keluarga baron..!! " murka pelayan itu hendak melayangkan tamparan pada Johanna.


" !! " tangan pelayan itu terhenti.


"Siapa yang berani...!" pelayan tersebut menoleh kearah orang yang sudah berani menahan tangannya. Tidak lama kemudian, dia mulai menunjukkan raut wajah tidak suka saat melihat jika Riveralah yang sedang menahan tangannya.


"K-kau, apa-apaan kekuatan ini. Le-lepaskan aku..! " tegas pelayan itu kesakitan.


Rivera tersenyum sinis, menatap dingin pada pelayan tersebut. "Apa mau anda, hmm? Mengapa harus repot-repot membuat rusuh di istana saya? Jika tidak ingin bekerja, maka pergi saja," ujar Rivera lemah lembut, namun tidak untuk perlakuannya.


"T-tidak..!! Tolong le-lepaskan tangan ku..! " pelayan itu jatuh kelantai, meronta kesakitan.


Rivera sama sekali tidak mendengarkan perkataan pelayan itu. Dia menggenggam tangan pelayan itu dengan sangat kuat sehingga tulang tangan pelayan itu perlahan-lahan mengalami retak dan kemudian patah.


Tentunya Rivera sengaja melakukan ini, pun dia sudah menduga jika membuat luka dalam sangat menyenangkan dari pada luka luar.


Tangan pelayan itu terkulai, mengalami patah tulang sehingga kelima jari-jarinya tidak bisa bergerak lagi.


"TIDAK...! Tolong ampuni saya tuan putri.. saya mengaku salah. Tidak jangan, tolong jangan patahkan tangan saya..!!" tangis pelayan itu pecah, meratapi tangannya yang sedang digenggam kuat oleh Rivera.


Rivera memiringkan kepalanya, membuat ekspresi polos sembari berkata "Wah..wah.. wah..! Mengapa sekarang anda malah menangis? Bukannya tadi mulut anda itu sangat berani, ya?! " ujar Rivera pelan namun tajam, menusuk-nusuk kulit.


"S-saya tidak akan berani, Tuan putri..!! Tolong ampuni saya..!!" pekiknya sehingga suaranya bisa terdengar diseisi istana.


"Benar, cepatlah berteriak. Panggil teman-teman anda kemari..!!" tajam Rivera semakin menggenggam erat tangan pelayan itu.


"Tidak...!! " suara menggelegar itu langsung membuat beberapa pelayan yang sedang bertugas dilantai bawah, datang menuju asal keributan terjadi.


Ada sekitar 4 pelayan wanita, yang sedang berdiri, meratapi rekan mereka yang sedang menangis dengan menderita.

__ADS_1


"Ohooo...kalian sudah datang rupanya.." gumam Rivera namun cukup kuat terdengar oleh mereka semua yang ada disana, sehingga keempat pelayan itu menelan air liur mereka sendiri.


^^^To be Continued~^^^


__ADS_2