BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH

BERPINDAH KE TUBUH PUTRI YANG LEMAH
KEGILAAN ESTIRA


__ADS_3

Rivera kembali masuk ke dalam ruangan kerja nya. Dia menutup akses portal dan langsung merebahkan diri pada Sofa ruangan.


"Aku tidak bisa memprediksi rencana kaisar. Aku bahkan tidak menduga dia akan mengurung ku di dalam Balmoral. Apa yang sebenarnya kau inginkan wahai kaisar..." monolog Rivera merasa frustasi pada setiap rencana yang tidak bisa dia prediksi sama sekali.


Dia hanya bisa menghela napas lelah sambil memejamkan matanya.


...****************...


4 jam berlalu, selama 4 jam itulah Rivera tidur di dalam ruangan kerja miliknya. Dia terbangun begitu mendengar jika pintu ruangan itu di ketuk dengan kuat oleh seseorang.


"Tuan putri.. apakah tuan putri baik-baik saja? Bisakah Tuan putri mendengar saya saat ini..?" tanya Daniel khawatir.


Rivera menampar pelan keningnya, dia baru menyadari jika dia telah mengunci pintu ruangan itu. Karena merasa bersalah, Rivera pun segera pergi untuk membuka pintu.


*Ceklek..


"Putri, anda baik-baik saja? " sambar Dorothy dengan panik, memeriksa seluruh tubuh Rivera dengan teliti.


"Huft.. untung saja tidak ada yang terjadi pada Tuan putri.." lanjutnya mengelus dada.


"Aku baik-baik saja, Nanny. Maaf semuanya, telah membuat kalian cemas," ujar Rivera merasa bersalah.


Dorothy dan Daniel tersenyum ramah, mereka berdua berjongkok menyamakan tinggi badan mereka dengan Rivera.


"Putri, jangan meminta maaf. Dengan melihat putri sehat saja saya sangat senang. Saya hanya berharap agar putri tetap sehat dan bahagia," ujar Daniel lembut pada Rivera.


"Benar..! Lagipuka jika ingin mengunci pintu maka bilanglah dulu pada Nanny. Setidaknya Nanny tahu, dan tidak akan merasa cemas," sahut Dorothy.


"Aku mengerti, Nanny. Aku tidak akan mengulanginya lagi." jawab Rivera.


Meski tahu sedang dikepung oleh para penyusup disegala penjuru Balmoral, mereka bahkan tidak gentar apa lagi panik. Mereka malah menunjukkan reaksi santai seolah-olah menganggap jika para penyusup itu tidak ada.


Hal itu membuat Rivera lega karena untungnya para penghuni Balmoral tidak ketakutan dan malah memberi respon santai seperti sedia kala.


"Hmmm... Daniel, bisakah anda memberi ruang untuk saya dan Nanny? Saya ingin berbicara sebentar pada Nanny, apa Daniel keberatan? " ujar Rivera sedikit merasa canggung.


"Dengan senang hati, Tuan putri. Kalau begitu saya akan pergi, " jawab Daniel dan kemudian mulai pergi dari sana.


"Ada apa, Tuan putri"


"Masuklah,"


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan itu dan tidak lupa Rivera kembali menutup pintu dan menguncinya. Dia menyeret Dorothy pergi untuk duduk di sofa dan kemudian berkata "Tuan Count dan Tuan muda Abel akan kembali ke Romant tanpa kita. Sementara, kita akan tinggal di sini untuk beberapa waktu selama aku bisa menemukan ide untuk pergi,"


"B-baiklah, Tuan putri. Nanny akan percaya pada rencana Tuan putri," jawab Dorothy sedikit merasa sedih karena harus tinggal lagi di dalam istana yang banyak memberikan ingatan buruk padanya.

__ADS_1


"Ada apa? Apakah Nanny tidak suka tinggal di istana?" tanya Rivera.


"...Tidak. Nanny tidak suka jika putri tinggal kembali di sini. Setiap tinggal di sini, putri selalu dirundung oleh orang-orang," gumam Dorothy pelan namun cukup keras terdengar oleh Rivera.


"Bukannya aku sudah memberi pelajaran kepada Loraine dan Avane..? Mereka tidak akan berani merundungku lagi, Nanny," jawab Rivera mencoba untuk menenangkan Dorothy.


"Tapi... "


"Tidak apa-apa. Kita ikuti saja permainan mereka. Lagi pula kita bisa saja pergi dari sini kapan pun. Namun masalahnya bukan hanya tentang kita saja. Jika kondisi keamanan Tuan Count dan kakak sudah membaik, baru kita pergi dari sini, " lanjut Rivera.


Dorothy mengangguk. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, namun Rivera percaya jika masalah akan segera selesai jika dia bersungguh-sungguh menghadapinya.




Beralih ke Queen's Palace, Estira saat ini sedang berada di dalam ruangan remang dengan latar warna merah. Dibawah kaki nya terlihat ada seorang pelayan yang sedang tengkurap dengan luka parah di bentisnya.



Di depan Estira juga ada 3 pelayan lagi yang sedang berlutut sambil menangis. Sementara disamping nya ada pelayan setianya yang bernama Lady baromer, yang dapat diartikan sebagai anjing setia sang Ratu.




"Apa mungkin karena bocah itu adalah anak yang langsung dari Alexander..?! Apa mungkin, apa mungkin Alexander akan kembali memperlakukan bocah itu sama seperti dirinya memperlakukan wanita pelacur sialan itu..!" gumamnya panik sembari menggigiti kukunya.



"Apa kita harus menghabisi bocah haram itu, yang mulia? " sahut Baromer memberi saran kejam pada Estira.



Estira menoleh dengan senyuman lebar, matanya terlihat bersemangat begitu mendengar saran yang sangat memuaskan itu dari anjing setianya.



"Benar..! Kita harus menghabisi bocah itu segera mungkin. Sewalah beberapa pembunuh bayaran yang memiliki kekuatan besar. Suruh mereka untuk membunuh dan mencincang-cincang bocah itu menjadi beberapa bagian..!!" titah nya tersenyum lebar dan kemudian tertawa jahat.



"Baik, yang mulia," ujar Baromer bergegas mengikuti titah sang Tuan.


__ADS_1


"Matilah dengan tenang anak haram sialan. Susul saja pelacur itu di alam baka. Kau sudah berani menarik perhatian Alexander yang selama ini hanya menganggap kami sebagai piguran. Alexander adalah tipe orang yang mengurus sesuatu yang hanya membuatnya menarik, tapi mengapa harus anak pelacur itu..! Me-mengapa bukan aku dan anak-anak ku saja..!! " Estira menggila dengan perasaan cemas yang selalu saja menghantui nya.



\*Bruk..



Pelayan yang sedang berada di depannya berusaha untuk kabur, namun sayangnya pelayan itu malah tersandung sehingga Estira tersadar akan keberadaannya.



"BERANI SEKALI KAU PERGI TANPA PERSETUJUAN KU!! KALIAN BERDUA CEPAT CEKIK DIA SAMPAI MATI!! " pekik Estira.



Ke-2 pelayan itu nampak enggan dengan perasaan takut. Tubuh mereka bergetar hebat tidak berani bergerak.



"R, ratu tolong ampuni saya, Ratu. Saya memiliki anak dan suami yang sedang menunggu saya di rumah," tangis pelayan itu pecah sembari terus bersujud dan membenturkan keningnya kelantai berulang-ulang kali sehingga mengalami pendarahan.



"CEPAT CEKIK DIA ATAU TIDAK AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!! " kesal Estira sehingga membuat ke-2 pelayan itu mau tidak mau harus menuruti perkataanya dan kemudian mencekik pelayan tersebut.



"Ratu... tolong kasihilah saya... Ratu..."



"Kuhakkkk... "



Estira tertawa dengan sangat kencang saat menonton adegan pembunuhan itu. Dia merasa sangat puas seolah-olah merasa jika dialah yang sedang membunuhnya saat ini.



"Jangan biarkan dia mati, buat dia pingsan saja. Setelah dia pingsan, bawa dia ke kandang monster sehingga dia bisa menjadi makanan monster!!" titah Estira dan di akhiri oleh tertawaan jahatnya.



^^^To be Continued~^^^

__ADS_1


__ADS_2