
"Master.. " Ajax dan Hector saling tatap, tidak lama kembali mengarahkan pandangan pada Rivera yang sedang terdiam dengan ekspresi kesal-sekesal-kesalnya!!
"Animos..!! Dasar iblis sialan..!!"
Tatapannya dipenuhi bara api, sehingga bara api itu secara perlahan mulai memenuhi dadanya. Dia mencengkram tangan Daniel dengan kuat sembari memberi sebuah tatapan jengkel.
Dengan sikap dinginnya Rivera mulai menyalurkan kemampuan Saintess pada Daniel. Kemampuan Saintess menimbulkan sebuah cahaya terang yang memenuhi seisi ruangan sehingga ketujuh orang yang ada disana langsung menutup mata mereka, berlindung dari cahaya yang bisa saja membuat mata mereka buta.
"Bomm... suara ledakan yang berasal dari kemampuan Rivera terdengar keras sehingga sangkin kerasnya bisa membuat dinding-dinding ruangan bergetar dan bahkan membuat kelima orang pelayan itu langsung pingsan.
" !! " Ajax dan Hector membuka mata mereka tatkala cahaya perlahan mulai menghilang. Mereka menatap Rivera dengan kagum, tidak menyangka jika master yang selama ini mereka anggap hanyalah seorang anak kecil ajaib yang memiliki kekuatan pedang yang sangat hebat, bisa menggunakan kemampuan Holy Power.
Bersamaan dengan itu, diiringi oleh cahaya yang menghilang, Daniel secara tiba-tiba jatuh, tersungkur kelantai. Daniel tidak sadarkan diri dengan mata yang masih terbuka, namun tidak terasa lagi sebuah tanda kehidupan darinya.
"Master, apa yang terjadi? M-master bisa menggunakan Holy power? " kagum Hector tidak bisa berkata-kata. Dia tidak bisa membaca kondisi yang terjadi saat ini. Sehingga suasana menjadi hening dan canggung.
Rivera terdiam, menatap marah kearah Daniel. Tidak ada lagi kata-kata yang ingin dia ucapkan. Hatinya sudah terlanjur memburuk, berada dalam pase yang akan kehilangan akal.
Ajax yang menyadari keadaan Rivera dengan cepat menyikut Hector, sembari bergeleng membuat ekspresi kesal. "Diamlah!! "
Kening Hector mengerut, memberikan ekspresi bingung sembari membalas "Kenapa?"
Ajax hanya bisa menghela napas dalam-dalam, mencoba mengalihkan fokus pada Rivera yang masih dalam keadaan suasana hati yang buruk.
Rivera memang sedikit terguncang, karena dia tidak pernah menduga jika Animos akan bergerak sebrutal ini. Dia tidak berpikir jika Animos mengetahui jika dirinya terlibat dalam penggagalan ritual yang akan Animos lakukan, tidak, lebih tepatnya, Animos mencurigai Rivera!
"Si iblis tua itu..dia sengaja membuat orang-orang terdekat ku menjadi boneka sihirnya agar bisa memata-matai ku. Iblis itu harus dihentikan secepat-cepatnya..!!" kesal Rivera, menggenggam erat Jari-jemari nya.
Seperkian detik, fokusnya beralih kearah Daniel. Pandangannya menurun, sedikit merasakan rasa sedih karena pria tua yang selalu memberikan senyuman ceria kepadanya, telah resmi menghembuskan napas terakhir.
__ADS_1
"Daniel... sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Rohnya sudah dimakan habis oleh energi jahat. Saya tidak bisa menyelamatkan Daniel, " lirih Rivera, berusaha untuk tegar.
*Tap.. tap... sebuah langkah kaki terdengar dari arah luar pintu masuk. Mereka semua mendadak menoleh kearah pintu dan mendapati Johanna dan Dorothy yang sedang berjalan pelan, menatap sedih kearah Daniel.
Terutama Johanna. Dia menatap Daniel dengan tatapan berkaca-kaca. Kedua tangan nya menutupi mulutnya seolah-olah separuh dunianya telah hancur.
"Nanny, Johanna..." lirih Rivera.
Dorothy dan Johanna mendekati Daniel, berlutut dengan tangan bergetar, mencoba untuk menyentuh nya. Mereka berdua tidak bisa menerima fakta jika Daniel sudah meninggalkan mereka selama-lamanya.
"Daniel.. pak tua!! Bangunlah, mengapa kau meninggalkan ku?! " desak Johanna dengan air mata yang membasahi pipi bulatnya.
Dorothy hanya bisa terdiam, terisak disamping Johanna. Pemandangan itu telah menyayat-nyayat hati Rivera. Perasaannya tercampur aduk, merasa tidak pantas karena tidak bisa menyelamatkan Daniel.
"Maafkan saya, Johanna. Saya tidak bisa menyelamatkan Daniel. Jika saja saya lebih kompeten lagi... "
"Tidak Tuan putri!! Anda sudah berusaha dengan keras. Ini semua adalah salah orang-orang yang menyebabkan Daniel seperti ini..!! Saya... saya... " Johanna tidak bisa melanjutkan perkataannya karena rasa sakit dihatinya terlanjur membesar.
Wajar saja jika Johanna mengalami patah hati saat tahu jika Daniel meninggalkannya tanpa berpamitan. Sudah tidak ada lagi yang ingin Rivera, Ajax dan Hector katakan. Mulut mereka terkunci, maksud memberikan ruang kepada Johanna dan Dorothy untuk menangisi jasad Daniel.
"Aku berharap agar Johanna dan Nanny bisa berlapang dada melepaskan Daniel. Semoga saja Daniel tenang diatas sana.. " benak Rivera, berdoa yang terbaik untuk Daniel.
Tidak lama, Rivera kembali mengarahkan pandangan kepada kelima pelayan yang sedang pingsan akibat menerima tekanan kuat dari kemampuan yang digunakan Rivera barusan. Rivera mengelus dada mengetahui jika kelima pelayan itu tidak melihat kejadian yang barusan terjadi.
"Hector, bawa kelima wanita itu ke ruang dimensi. Jadikan mereka pembantu disana," titah Rivera dingin.
Hector mengangguk "Baik, master! " sembari berjalan mendekati kelima pelayan itu dan menyeret satu persatu dari mereka, masuk kedalam dimensi yang sudah Rivera buka.
Beralih pada Rivera dan Ajax. Mereka saling melempar pandangan dan tidak lama Ajax mulai mengangguk dan berjalan mendekat kearah Daniel. Ajax menggotong tubuh Daniel sehingga Johanna sedikit terkejut dan tanpa sadar dirinya menahan lengan Daniel.
__ADS_1
"Tidak!! Kemana anda ingin membawa Daniel?!" ujar Johanna bergeleng-geleng.
"Johanna, kita harus memakamkan Daniel. Jika seperti ini, Daniel akan kasihan," lirih Dorothy dalam isak tangisnya.
Johanna menatap sedih kearah Rivera, tatapannya memelas, meminta agar dirinya diberikan waktu lebih lama bersama Daniel. Sudah sangat jelas jika Rivera akan menyetujui permintaan Johanna, pun dia merasa jika mereka semua harus memiliki waktu untuk melepas Daniel.
"Baiklah," ujarnya tersenyum sendu.
...****************...
2 jam berlalu. Rivera, Johanna dan Dorothy sedang berdiri didepan pemakaman Daniel. Tiada hentinya Johanna dan Dorothy menangisi kepergian Daniel. Mereka merasa sangat kehilangan sosok Daniel yang selalu menjadi pribadi yang baik dan juga jujur.
Sementara River, dia hanya bisa terdiam. Menatap makam Daniel dengan datar. Dipikirannya saat ini hanya terdapat pikiran untuk balas dendam pada Animos. Cukup besar rasa bencinya, sehingga rahang nya bergerigit menahan amarah.
"Kita harus kembali. Biarlah hari ini menjadi hari yang kita ketahui. Tidak ada lagi pembahan mengenai hari ini di hari esok atau seteruanya! " tegas Rivera.
"Baik, Tuan putri, " serempak Dorothy dan Johanna sembari mengelap air mata dan ingus mereka.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan tempat itu, tempat tersembunyi yang menjadi pemakaman Daniel. Sungguh sebuah kejadian yang tragis.
Sekali lagi Rivera mendapat kan sebuah pelajaran mengenai apa saja yang akan terjadi jika dirinya lengah. Dia bertekat untuk memaksakan dirinya agar bisa bertambah kuat dan kuat lagi.
"Tidak boleh ada Daniel lain lagi!!" tajamnya.
Malam dengan cepat datang, menyambut suasana suram di Balmoral Palace. Johanna dan Dorothy masing-masing telah diberikan waktu luang, setidaknya bisa menenangkan diri mereka sendiri. Terlebih apa yang terjadi, bisa membuat mereka sadar bahwa mereka harus selalu waspada.
Sementara Rivera, dia sedang berdiam diri di dalam kamarnya.
"Shop sistem, terbukalah! "
__ADS_1
*Ding
^^^To be Continued~^^^