
"Jadi kamu udah tahu, kalau istrimu ternyata KPopers garis keras?" tanya Mamah Vivi saat kami sedang makan malam bersama.
Papi sendiri cuma senyam-senyum tapi masih fokus sama nasi gorengnya. Beliau bahkan udah nambah piring yang ketiga kalinya.
"Mama ih, emang salah yah, kalau jadi KPopers?" kata Jiya dengan wajah cemberut.
Aku sih, hanya diam. Mendengarkan dan juga mengamati sikap satu-persatu orang-orang dikeluarga ini. Mau ikut ngomong, juga bingung sendiri sebenarnya.
"Nggak salah. Tapi kamu juga harus inget realita dan kehidupan di dunia nyata, ya'kan Fer?"
Tiba-tiba Mamah melemparkan topik itu padaku. Yang otomatis, membuat semua pasang mata kini tertuju padaku, tak terkecuali si bocah setan itu yang juga menatapku penuh keingintahuan.
"Eum," jawabku akhirnya.
Cukup singkat sih, tapi memang selain tak tertarik, aku juga tidak tahu topik pembicaraan mereka tentang KPopers. Bisa dibilang, aku hanya takut salah berucap saja dan menyinggung perasaan yang lain.
"Mah, Om Ferdi mana tahu. Eh, tapi Jiya heran deh, bisa-bisanya Nadin sama Sekar kemarin bilang gini."
"Bilang apa?" tanya Mamah Vivi penasaran.
"Masa mereka berdua bilang, Om Ferdi itu mirip Yeonjun TXT. Bukanya lebih mirip Suneo yah, Mah?"
Hadeh, lagi-lagi topik ini. Kenapa si bocah rese itu mengungkitnya lagi sih?
"Suneo? Kalau menurut Papi, Ferdi itu mirip bias kamu ituloh, siapa namanya Taek? Taek siapa?" celetuk Papi, ikutan nimbrung tiba-tiba.
"Bukan Taek, tapi Taehyung, Pi! Haduh, bisa-bisanya nama biasku yang cool abis dan ganteng bagai dewa Yunani, diplesetin rese begitu." Jiya menjawab dengan raut wajah kesal.
"Tapi bener juga kata Papi, Ji. Mamah juga setuju, lagian kalau dilihat-lihat, Ferdi emang mirip Taehyung banget, cuma versi indo dan lebih ngelokal aja hahaha ..."
Aku yang nggak tahu, cuma bisa ngernyitin alis bingung. Merasa heran sama sikap ketiganya. Pantes aja, bentukan anaknya jadi kayak Jiya. Rupanya istilah tentang, buah nggak jauh jatuh dari pohonnya, itu memang benar.
Selesai makan malam bersama, aku kebagian tugas nyuci piring bareng Jiya. Tapi kalau diingat-ingat lagi, kayaknya ini rencana Mamah Vivi sama Papi, deh.
Berhubung, mereka berdua yang tahu kalau aku dan Jiya lagi berantem. Makanya, mereka sengaja deketin, biar cepat akur mungkin.
__ADS_1
"Om yang nyuci, Jiya yang bilas." Jiya tiba-tiba memutuskan tanpa meminta pendapatku terlebih dahulu.
Sudah begitu, tiba-tiba dia memercikan air dengan sengaja ke arah wajahku. Seolah-olah, menabuh genderang peperangan di antara kami.
"Ji!"
Mulanya aku hanya bereaksi dengan memanggil bagian depan namanya saja. Seperti itu terus secara berulang-ulang. Paling naik satu oktaf saja kalau benar-benar kesal.
Namun, Jiya tetaplah Jiya. Si bocah rese yang hobi sekali menguji kesabaranku ini. Selain itu, bukannya berhenti saat mendapat teguran. Jiya malah orang yang akan semakin menjadi-jadi.
"Sekali lagi, kamu nyipratin air itu lagi ke mukaku. Abis kamu!" ancamku yang kontan membuat seutas senyum tengil muncul dibibir Jiya.
Byur!
"Jiya!" teriakku, saat mendapat guyuran air dari gelas yang sudah diisi keran dan membuat bagian dada ke perut basah.
Segera kukejar langkah bocah rese itu. Saat dia meminta main kejar-kejaran, mirip Tom and Jerry.
Belok kanan, belok kiri. Naik tangga, belok lagi. Sampai ...
"Kena! Mau kemana lagi, kamu?!" teriakku saat berhasil memojokkan si bocah rese itu.
Kemudian menghimpit tubuhnya ke dekat tembok di kamar kesayangan Jiya. Agar, bocah itu tak mampu melarikan diri kemana-mana lagi.
"Ah, nggak asik. Masa Jiya kalah main kejar-kejaran sih sama Om Ferdi yang udah tua." Jiya mendengus sebal, sambil memonyongkan bibirnya di depan wajahku.
Seperti menggoda.
"Kamu, ngapain monyong-monyongin bibir begitu, mau minta dicium?" ujarku.
Kulihat, wajah Jiya yang semula santai mendadak berubah tegang. Bocah rese itu bahkan mengalihkan pandangannya dan berusaha memutus kontak dengan mataku saat tak sengaja saling pandang barusan.
"Kenapa, kok tiba-tiba diem? Beneran mau aku cium?" Lagi, aku menggodanya.
Ingin melihat raut wajah kesal menghiasi wajah bocah itu saat ini. Hanya saja, Jiya seolah tak menanggapi ucapanku tadi.
__ADS_1
Dia malah menutupi wajahnya sendiri saat mukaku perlahan mendekatinya. Saking dekatnya, aku sampai melihat guratan rona kemerahan menghiasi pipi milik Jiya.
Tunggu, apa dia baru saja ngeblus karenaku?
"Om, e-emang rasanya ciuman itu kayak apa?" tanyanya tiba-tiba, yang membuatku ikutan terdiam dan berpikir berat.
Habisnya, aku pribadi juga belum tahu bagaimana rasanya. Aku cuma pernah dengar dari Aaron kalau saat masing-masing bibir bertemu, kemudian bertaut. Mulut seperti diberi lelehan es krim yang begitu lembut. Berarti, kesimpulannya ciuman itu dingin? Seperti makan es batu?
"Om?" panggil Jiya.
Entah sejak kapan, muka bocah rese itu sudah berada tepat di depan wajahku. Padahalkan tadi jarak wajah kami masih sangat jauh. Kenapa mendadak terkikis begini?
Saking dekatnya jarak wajah kami, aku bahkan bisa merasakan embusan napas Jiya yang panas. Sial, itu mengganggu semua sistem dan alat inderaku.
Hanya karena terpaan napas panasnya saja, aku sudah merasa begitu candu. Membuatku menginginkan lebih, dari sekadar merasakan terpaan nafas ini. Aku ingin sesuatu yang kotor dan panas.
Persetan dengan semuanya, aku benar-benar tak tahan lagi sekarang. Dan jika harus disalahkan, kupikir itu karena Jiya yang sudah memprovokasiku terlebih dahulu untuk melakukannya. Terlebih lagi, suasana kamar yang cukup remang membuatku semakin ingin memeluk tubuh bocah itu erat.
Detik itu juga, kuraih leher Jiya perlahan. Membuatnya tertegun, saat mulut kami saling menempel satu sama lain. Yah, hanya menempel saja.
"Tutup matamu jika ingin merasa lebih nikmat. Aku janji tidak akan melebihi batas," bisikku pelan yang membuat Jiya memejamkan matanya.
Saat itulah, aku merasa diberikan persetujuan olehnya. Mungkin hanya malam ini saja kesempatan kami. Kuharap, aku bisa membuat bocah itu tak akan dengan mudah melupakan momen ini.
Momen dimana, aku dan dia kehilangan ciuman pertama kami masing-masing.
"O-Om Ferdi, pelan-pelan uuhh ... Ji-Jiya nggak bisa napas," katanya lirih dengan suara yang parau.
Aku sendiri tak begitu menghiraukan dan kini beralih untuk meninggalkan jejak-jejak basah di atas permukaan lehernya.
"O-Om!" katanya putus-putus.
Kupikir aku harus segera mengentikannya. Aku takut kebablasan.
"Huh, udahkan. Sekarang kamu tahu rasanya ciuman itu kayak apa. Tapi, jangan pernah minta hal begini ke cowok lain, ngerti?"
__ADS_1
Kulihat Jiya yang masih terengah-engah mengangguk pelan. Sorot matanya masih begitu dipenuhi kabut nafsu, dan wajahnya sudah dipenuhi keringat. Tapi aku, harus berusaha mati-matian untuk mencegah setan yang hampir tergoda dengan raut wajah Jiya saat ini.