Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Notif Pesan


__ADS_3

"Kali ini tolong dengarkan penjelasanku."


Mungkin kata-kataku barusan terdengar begitu konyol. Apalagi, saat kudengar tawa mengejek Jiya serta tatapan mata penuh kebenciannya itu padaku. Aku yakin sekali, jika dia tak akan memberiku kesempatan lagi, untuk memperbaiki hubungan diantara kami.


"Mendengarkan penjelasan? Memang apa lagi yang kurang jelas? Bukankah selama ini tindakan Anda sudah mengatakan kebenarannya? Anda ini bodoh atau pikun, sih? Saya benar-benar tak habis pikir." Jiya berucap dengan tawa mengejek yang masih terlihat jelas terpancar diwajahnya itu.


Dia juga tak meneteskan air mata sekalipun. Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.


"Yah, sebut saja aku bodoh atau terserah apa katamu saja. Yang jelas, aku benar-benar meminta satu kesempatan lagi. Jadi, tolong dengarkan penjelasanku saat ini."


"Tidak, saya kira sudah tak ada lagi hal yang perlu dijelaskan. Jadi, cepat lepaskan pelukan Anda dari tubuh saya, karena itu sangat mengganggu."


Mendengar itu, perlahan-lahan kukendurkan pelukanku yang erat tadi pada tubuh Jiya. Membuat bocah rese itu langsung mendorong tubuhku sejauh mungkin darinya.


Dan saat kulihat kembali, Jiya terlihat akan menerobos hujan untuk pergi. Detik itu juga aku mulai memutar memori diantara kami. Yang sontak saja membuat langkahnya terhenti, dengan tubuh membelakangi diriku.


"Om bangkotan, pantesan nggak laku-laku!" ujarku mengatai diri sendiri.


"Haha ... Buat apa punya suami kayak tapi nggak dimanfaatin buat diporotin."


"Om ih, pelit banget sih, jadi orang."


"Huwa, Om Ferdi!!"


"Wah, makasih banget, Om Ferdi baik, deh."


"Pokoknya, Om Ferdi itu punya Jiya. Titik!"


Aku sengaja mengulang kata-kata yang sering Jiya ucapkan dulu. Dari sapaan menusuknya saat pertama kali bertemu dan baru sah menjadi suami-istri. Beberapa kata manis, sekaligus kalimat yang mengatakan jika dia meng-klaim ku di depan umum, saat pidato kelulusannya.


Sampai, kalimat terakhir yang dia ucapkan saat di rumah sakit.


"Jiya benci banget sama, Om Ferdi!"


Mungkin, ini sangat lucu. Dan kupikir, alih-alih membuat Jiya mengingat semua memori diantara kami. Aku malah membuat sebuah lelucon untuknya.

__ADS_1


Seharusnya, dalam hitungan ketiga Jiya akan membalikkan tubuhnya ke arahku. Kemudian meneriaki diri ini bodoh, sambil tertawa terbahak-bahak, mengejek.


Tapi nyatanya, aku tak kunjung melihat bocah rese itu melontarkan kata-kata makian yang sangat menusuk seperti dulu. Sebaliknya, aku malah melihat punggung Jiya sempat naik-turun beberapa kali.


Aku tak menduganya, kalau Jiya akan menangis saat mendengar ucapanku barusan.


Melihat sosoknya yang tak kunjung beranjak. Ditambah hujan malam itu semakin turun deras membasahi bumi. Aku pun bergegas menghampiri dirinya. Menyampirkan jaket kulit yang kupakai pada bahunya yang ukurannya jauh lebih kecil itu.


"Jangan sampai sakit," bisikku pelan.


Sebelum berlari menerobos hujan, aku memberikan sebuah cip kecil ditelapak tangan Jiya. Yang bocah rese itu terima dengan diam.


"Aku pergi," pamitku tanpa mendapat balasan.


Sesampainya di dalam mobil, aku segera melepas beberapa kancing kerahku yang terasa menyiksa leher. Kemudian mengetuk-ngetuk stir mobil dengan perasaan yang masih campur aduk.


"Kuharap dia membuka cip itu," monologku penuh harap.


Bagaimana tidak, habis cip itu adalah satu-satunya bukti yang aku punya untuk kuberikan pada Jiya jika aku tak pernah menjalin hubungan apapun dengan Clara, maupun wanita lainnya.


***


Sampai tak sadar dengan satu notifikasi dari pesan yang muncul di jendela layar benda pintar itu, dua jam yang lalu.


"Dari Jiya?" gumamku pelan, dengan kedua pupil mata yang sedikit melebar. Saking terkejutnya.


Segera kuusap permukaan layar gawaiku. Kemudian membaca pesan yang terpampang jelas di atas notifikasi.


'Hari ini bisa ketemu?'


Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikannya. Berharap jika pesan itu nyata dan bukan hanya harapan semu.


Dan seperti mendapat dorprize dadakan. Senyum dibibirku langsung mengembangkan sempurna saat tahu jika pesan tersebut benar adanya.


'Bisa. Ketemu dimana?' balasku balik.

__ADS_1


Saking gugupnya, aku merasa dejavu dengan kedekatan saat pertama kali dengan bocah rese itu dulu.


Entah terkena angin apa, Jiya menjadi orang yang begitu fast respon hari ini. Aku juga tak menyangka dia akan membalas pesan dariku hanya dari hitungan detik saja.


'Dufan.' Jiya membalas lagi yang langsung kujawab dengan cepat.


'Oke.'


Setelah beberapa kali saling berbalas pesan, tiba-tiba aku mendapatkan pesan lagi darinya. Yang berisi tentang waktu pertemuan kami untuk ke Dufan.


Lagi-lagi, aku membalas pesan dari Jiya itu cekatan. Dengan senyum manis yang tak pernah luntur diwajah ini.


Aaron yang kebetulan melihat diriku sedang tersenyum, mirip orang tengah dimabuk cinta. Lantas berjalan mendekat, kemudian menyenggol bahuku pelan.


"Mukanya dikondisikan dong, Bos. Gimana kalau banyak karyawan wanita yang jatuh pingsan sama mimisan, gara-gara ngeliat muka Bos-nya sendiri yang kelewat tampan." Aaron menyindir, sambil sesekali terkekeh pelan.


"Eh tapi, ada angin apa, nih. Muka lo yang biasanya suntuk mirip cuaca pas mendung, mendadak cerah benderang begini. Hayo ngaku, lo abis kejatuhan rezeki nomplok atau berhasil dapat sesuatu yang lo ingin?" Aaron kembali bertanya-tanya, saking penasarannya dengan diriku.


Pria yang sekarang berstatus suami Mila si make up artis ternama itu juga makin mendekatkan dirinya. Sampai membuatku sedikit terpojok ke arah sudut lift.


"Jangan bilang, berkat saran dari gue kemarin. Lo jadi bisa balikan lagi sama Jiya?" celetuk Aaron dengan ceria.


Saking senangnya, dia sampai meninju lengan tangan kananku beberapa kali. Yang mungkin tidak akan berhenti begitu saja, jika aku tak segera menatap Aaron tajam.


"Maaf, kelepasan. Hehehe ..." cengirnya tanpa dosa.


"Tapi Fer, kalau iya. Gue seneng banget sih. Bisa bantu hubungan kalian jadi langgeng lagi. But, kenapa lo baru sekarang mulai ngejarnya. Dasar, spesies GGB!"


Alisku menaut, saat mendengar ucapan Aaron barusan. Terlebih pada singkatan spesies yang baru saja aku dengar tadi.


"GGB? Singkatan apaan, kok gue baru denger?" tanyaku kepo.


Aaron terlihat melihat sinis ke arahku sekilas, sebelum kembali berujar dengan lantangnya.


"Ganteng-ganteng bego. Muka aja sama otak encer, urusan hati sama perasaan melempem. Tapi, Tuhan emang adil yah. Gue yang pas-pasan aja bisa dapetin Mila yang cantik. Nah, lo yang hampir punya segalanya, masih kurang aja soal hati sama nggak pekaan. Fiks sih, adil banget ini," jelas Aaron cengengesan.

__ADS_1


Aku kembali melayangkan tatapan mata tajam ke arahnya. Sudah begitu, kali ini pancaran aura yang keluar dari tubuhku benar-benar dingin, hingga membuat bulu kuduk Aaron merinding disko seketika.


"Ron, udah pernah nyium lantai koridor?" bisikku lirih yang langsung membuat mata Aaron melotot horor detik itu juga.


__ADS_2