
"Ah, kalau aja gue tahu waktu itu kalian pasangan suami-istri. Gue pasti nggak bakal nanyain hubungan lo sama Ilyas. Jujur Ji, gue jadi ngerasa bersalah banget sama lo. Terutama ke Ferdi. Sorry, ya."
Mila tampak merasa tak enak saat mengatakannnya. Dia juga menatap diriku dan Jiya bergantian, dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Santuy aja, Mil. Lagian lo nggak tahu juga." Aku berujar seraya menepuk pundak istri sahabatku itu, pelan. Membuat Mila sedikit tersenyum karenanya.
"Oh iya Mil, berapa bulan lagi lo lahiran?" Kini giliran Jiya yang bertanya.
"Eum, bulan ini udah masuk sih. Cuma hplnya tanggal 31." Mila tampak membalas seadanya.
"Wah, bentar lagi dong? Sekarang kan, udah tanggal 29."
Tersenyum tipis, Mila lantas menjawab. "Iya, nih. Doain semoga lancar, yah."
Puas berbincang-bincang dengan Mila, sekaligus Aaron. Serta para tamu undangan yang lain. Aku dan Jiya pun akhirnya bisa beristirahat setelah berdiri lebih dari 5 jam.
Kami duduk disalah satu bangku panjang yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Menikmati semilir angin malam yang sesekali berembus menerbangkan anak-anak rambutku dan Jiya. Sekaligus mengagumi bagaimana indahnya pemandangan di Segarra saat malam tiba.
Namun, semua hal itu tetap kalah cantik. Bila kelereng hitamku sudah melihat paras Jiya yang bak bidadari surga. Ralat, dia memang bidadari surgaku.
Disaat kami diam dan hanya menikmati pemandangan tanpa bertukar sepatah dua patah kata. Aku menyadari jika Jiya hanya memakai dress setinggi lutut tanpa lengan.
Inisiatif langsung kubuka jas yang kupakai, kemudian kusampirkan diatas bahu Jiya yang cukup terekspos itu.
"Mau masuk? Anginnya makin kencang soalnya," kataku pada Jiya.
__ADS_1
Kulihat kepala bocah rese itu mengangguk pelan. Yang menandakan kalau dirinya setuju dengan saranku barusan.
Detik berikutnya, aku dan Jiya pun mulai beranjak dari tempat duduk kami. Berjalan ke arah kamar yang telah Momi dan Mamah Vivi sewa tak jauh dari tempat acara resepsi tadi.
Rupanya itu sebuah bangunan yang hanya terdiri dari satu tempat tidur yang letaknya berada ditengah tempat terbuka. Dengan sekelilingnya yang dihiasi lampu-lampu dari petromax kecil ala-ala zaman dahulu.
Sudah begitu tak ada tembok pembatas selain tirai-tirai berwarna putih transparan yang menutupi tempat tidur itu, layaknya kelambu.
Untuk menuju ke sana sendiri, sudah ada jalan setapak yang terbuat dari tegel dan ditaburi bunga mawar merah sampai atas ranjang.
Aku dan Jiya yang baru saja sampai diujung jalan setapak itu. Hanya bisa terdiam, sambil sesekali bertukar pandang satu sama lain. Sejujurnya, cukup kaget dengan kejutan yang Momi dan Mamah Vivi siapkan untuk kami berdua.
"Niat banget yah, mereka berdua." Jiya tiba-tiba nyeletuk pelan.
Tampak mengembuskan napasnya sedikit berat, sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. "Kalau kayak gini, jatuhnya berharap banget. Dan jujur aja, Jiya ngerasa terbebani misalkan nggak bisa mewujudkan impian mereka tepat waktu."
"Oh iya, Ji." Aku memanggilnya, yang langsung membuat Jiya menolehkan kepalanya kembali ke arahku.
"Iya, Om?"
"Khusus malam ini, kita tidur sebelahan seperti biasa tanpa ngelakuin hal apapun yang buat kamu makin capek. Lagian aku tahu, kamu pasti lelah bangetkan?"
"Oke!" seru Jiya lantang.
Beberapa menit kemudian, aku dan Jiya sudah sampai di kasur yang sudah Momi dan Mamah Vivi siapkan. Yah, seperti yang sudah diriku dan Jiya duga sebelumnya. Kalau kasur itu pasti akan penuh dengan kelopak- kelopak bunga mawar merah yang sengaja ditabur di atas sprei putih.
__ADS_1
Supaya menambah kesan keromantisan hubungan. Nyatanya, bukannya merasa tempat itu romantis. Aku dan Jiya langsung membersihkan taburan kelopak bunga mawar itu hingga bersih. Kemudian menyapunya dengan apa-apa saja di sana yang bisa kami gunakan sebagai alat.
Hampir sepuluh menit lebih mungkin, aku dan Jiya masih membersihkan permukaan kasur itu. Barulah setelah selesai semua. Aku dan Jiya bisa rebahan di atas sana dengan tenang.
"Kayak gini lebih enak, daripada tadi. Menurut Jiya malah mirip sama kuburan baru," celoteh Jiya yang langsung aku cubit pipinya itu.
Kontan saja membuatnya mengaduh sembari menatap mataku nyalang. "Apaan sih, Om? Kok main cubit, sakit tahu."
"Lagian kamu, ngomongnya kok gitu. Kan bisa nyari persamaan ke hal yang bagus. Kenapa harus bawa-bawa ke arah kematian gitu. Nggak boleh, pamali!" Aku menyeramahi Jiya, mirip emak-emak komplek yang baru saja dapat hidayah setelah ikut pengajian sore.
"Dih, Om Ferdi udah mirip emak-emak kolot aja, bawaannya pamali. Yang logis dikit kenapa Om?"
Bocah rese itu menyahut dengan bibir tercebik. Seolah bersiap-siap menabuh genderang peperangan diantara kami. Terlihat jelas dari sorot matanya yang mulai menyalakan sinyal untuk memprovokasi rasa sabarku ini.
"Logis sih logis, tapi jangan lupa. Kadang omongannya orang tua lebih banyak benernya." Aku berkata bangga, karena merasa lebih tua darinya. Yang tentunya langsung Jiya tepis saat itu juga.
"Siapa bilang? Orang yang lebih tua juga kadang belum tentu lebih baik daripada yang lebih muda. Dengar yah, Om. Betul sama nggaknya, atau dewasa sama nggaknya seseorang itu dilihat dari karakter orang itu sendiri. Bukan ditentukan dari status, usia ataupun sesuatu yang dia punya dan dibanggakan ke hadapan semua orang. Jadi, jangan langsung salah kaprah sama melihat dari satu sudut pandang saja. Sampai sini paham?" jelas Jiya panjang lebar, yang membuatku terbungkam seketika.
Habis yang Jiya katakan ada benarnya. Malah semuanya, sepertinya. Kalau dewasa itu tidak diukur dari seberapa banyaknya angka yang kamu miliki di samping tulisan usia. Melainkan sebuah sikap yang dapat kita punya jika situasi dan kondisi membuat kita untuk berpikir lebih dewasa dari kebanyakan orang-orang maupun teman yang seusia kita.
Selain itu, tentang perkataan Jiya mengenai ucapan orang tua yang tak selalu benar. Eum, kalau dipikir-pikir ini cukup mengganggu. Selain karena memang sudah banyak sekali terjadi kejadian yang menyebutkan jika ucapan orang tua selalu benar. Serta, karena orang tua sudah lebih dulu mengalami asam pahitnya kehidupan Namun, ada saat dimana pula omongan yang mereka ucapkan terbantahkan dengan opini maupun perkataan dari orang yang usianya jauh lebih muda.
Jadi, mengenai hal ini. Aku bersikap netral dan ditengah-tengah kedua belah pihak.
"Kenapa diam? Jangan bilang, kalau yang Jiya jelasin tadi benar semua?" ujar bocah rese itu seolah bisa membaca isi kepalaku.
__ADS_1
"Nggak semua sih, tapi beberapa emang benar, menurutku pribadi."
Aku membalas ucapannya kemudian. Yang kontan langsung Jiya balas dengan memeluk erat diriku ini. Melihat ke arah langit-langit, yang kali ini benar-benar dipayungi oleh langit malam yang bertabur bintang.