Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Simulasi All Of Us Are Dead


__ADS_3

Plak!


Jiya memukul kaca sangkar burung yang berada tepat, dibelakang tubuhku kencang. Sampai membuatku sempat berpikir jika dia akan menampar wajahku tadi.


"Kenapa harus pakai kekerasan kalau masih bisa diselesaikan baik-baik dengan diskusi bersama? Om, Jiya itu udah berubah. Bukan bocah rese yang dulu cuma bisa teriak sama marah-marah. Selain itu, beberapa tahun belakangan ini Jiya juga sadar kok, kalau Jiya itu egois. Dan kadang lebih mentingin diri sendiri dari pada Om Ferdi. Jadi, setelah Jiya pikir-pikir kembali setelah semalam kita ketemu. Jiya mau ngasih kesempatan buat Om Ferdi sekali lagi. Tapi dengan satu syarat."


Sengaja Jiya menghentikan ucapannya barusan, untuk membuatku penasaran.


"Syarat apa?" tanyaku tanpa mengalihkan kata ini dari wajahnya.


Tapi bukannya menjawab, Jiya malah mengusap permukaan wajahku lembut dari atas kepala sampai bawah dagu. Kemudian berhenti dibibir.


"Jiya pengin kita ngadain acara resepsi pernikahan. Dulu kan, kita nikah cuma disaksikan beberapa anggota keluarga aja," jelasnya yang membuatku kehilangan kata-kata, karena tak mengira Jiya akan meminta hal itu disaat seperti ini.


Tapi, aku juga berniat untuk mengadakan resepsi jikalau kami kembali bersama. Dan syukurnya, Tuhan mengabulkan permohonanku kemarin.


"Boleh. Emang mau ngadain acara resepsi di mana? Gedung atau outdoor?" tanyaku kemudian.


Kulihat Jiya tersenyum lebar, sebelum kembali menenggelamkan kepalanya dalam-dalam pada dada bidangku yang terbalut switer hitam dan kaos ini.


"Bebas aja, sih. Ngomong-ngomong, Om Ferdi jadi kurusan, yah?" katanya mengganti topik seraya meraba bagian dada atas ke perut.


Aku yang menyaksikan tingkahnya, hanya tersenyum tipis. "Maksudnya apa nih, tiba-tiba nyentuh begitu. Padahal kita baru balikan belum ada satu jam, loh."


Mendongakkan kepalanya sebentar, Jiya lantas menajwab. "Nggak ada maksud apa-apa kok. Jiya cuma mau memastikan roti sobek milik Jiya masih ada."


"Kamu mau lihat?" tawarku.


Kulihat Jiya tampak mengentikan gerakan tangannya sebentar dengan mata yang mengerjap lucu, melihat ke arahku. "Emang boleh?"

__ADS_1


"Boleh, asal abis itu kamu nggak kabur. Gimana?"


Detik itu juga, Jiya langsung meneguk ludahnya susah payah. Sebelum kemudian kembali duduk dikursinya yang berada tak jauh di seberang.


"Kalau itu, Jiya pikir-pikir dulu, deh. Hehehe ..." balasnya seraya terkekeh pelan.


Kami menghabiskan waktu di Dufan cukup lama dengan menaiki beberapa wahana permainan yang ada. Hingga tak sadar sudah hampir tengah malam saja.


Aku dan Jiya yang besok sama-sama masuk pagi. Bergegas masuk ke dalam mobil untuk pulang. Hanya saja, selama perjalanan kami tak membahas topik apapun dan terlarut dalam pikiran masing-masing.


Entahlah, Jiya memikirkan apa. Yang pasti saat kulihat raut wajahnya dari ekor mata sekilas. Dia tampak tersenyum ceria.


Berbeda denganku yang berulang kali merangkai kata yang tepat, untuk mengajak Jiya ke rumah Momi, sebelum kembali tinggal di penthouse.


"Om," panggilnya lembut seperti biasa, seraya menyerongkan sedikit tubuhnya, untuk menghadap ke arahku. Yang tengah sibuk memegang kemudi.


"Tadi Jiya nggak sengaja ngeliat berita malam, katanya hari ini ada hujan badai sama petir. Daripada kenapa-napa di jalan, gimana kalau kita nginep di rumah Momi?" lanjutnya yang langsung membuatku menolehkan kepala sebentar.


Jiya langsung mengangguk pasti. "Iya, lagian Jiya juga udah lama banget nggak ketemu Momi. Kira-kira, gimana kabarnya, yah? Oh iya, apa kita mampir ke toko buah dulu? Jiya nggak enak kalau main tapi nggak bawa apa-apa."


"Lain kali aja bawanya. Pasti Momi ngerti kok." Aku menyarankan.


"Oke, deh."


Sesampainya di rumah Momi. Aku dan Jiya langsung berjalan menuju pintu depan. Habisnya, kita tak memberi kabar apapun pada Momi, saat mau mampir dan menginap di sini. Bisa dibilang, kayak sengaja buat kejutan gitu.


Pak Tarno yang sudah lama tak melihatku langsung tersenyum sumringah seraya melambaikan tangannya dari pos satpam. Dia bahkan menawarkan diri untuk memanggil Momi dan Daddy.


Namun aku menolak niat baiknya itu, dengan alasan kalau Pak Tarno sedang menjaga pos satpam. Jadi aku tak mau merepotkan dirinya.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu masuk. Aku mengetuk-ngetuknya pelan seraya mengucapkan salam bersama Jiya. Yang setelah beberapa menit kemudian, tampak pintunya dibuka oleh Momi dari dalam.


Momi yang melihatku dari celah pintu, langsung memasang wajah kesalnya. Dia bahkan melempari wajahku dengan sandal rumah berkepala katak miliknya.


"Masih punya muka kamu buat balik? Nggak ingat apa, pesan Momi waktu itu, huh? Jangan harap Momi bakal bukain pintu rumah buat kamu, kalau kamu masih aja nggak nyari menantu kesayangan Momi itu. Ferdi!!! Momi itu lagi ngomong serius, kenapa kamu malah ketawa?!" katanya panjang lebar, yang membuatku dan Jiya terkekeh.


Tapi belum juga Momi sadari sosok si bocah rese itu, yang kini tengah bersembunyi dibelakang punggungku.


"Kamu benar-benar yah, emang nantangin Momi buat nyoret nama kamu dari catatan warisan keluarga! Momi nggak ma-"


Ucapan Momi seketika menggantung di udara saat mendengar panggilan lembut dari Jiya. Selain itu, pupil matanya juga melebar seketika, saking terkejutnya.


"Ji-Jiya? I-ini serius kamu?" tanyanya masih memastikan karena perubahan Jiya yang begitu signifikan.


Rambutnya yang dulu sering digulung atau dicepol, sekarang dibiarkan terurai sepanjang bahu. Selain itu, proporsi tubuhnya juga sudah terbentuk bagus, tidak seperti dulu yang isinya triplek semua.


Karakternya yang waktu itu sedikit tomboi juga telah berubah menjadi feminim. Bahkan Jiya yang sekarang lebih sering memakai dress serta rok daripada celana pendek dan kaos biasa.


"Beneran mantu kesayangan Momi, Jiyaning Admaja?" tanyanya Momi lagi. Kulihat Jiya langsung menganggukan kepalanya.


Sempat terjadi keheningan beberapa detik. Hingga didetik berikutnya, Momi langsung histeris. Kemudian memeluk tubuh ringkih Jiya dengan begitu eratnya. Membuat Jiya sesekali melirik ke arahku, seperti mengatakan begitu sesak hanya dari sorot matanya itu.


Namun, aku memilih untuk tertawa. Tanpa mau ikut campur dengan urusan mereka berdua. Yang langsung saja, mendapat delikan tajam dari Jiya setelahnya.


"Huwa Momi seneng banget kamu udah pulang lagi ke rumah ini. Maaf yah, karena Momi kurang perhatian juga sama hubungan kalian. Sebenernya, dua tahun lalu Momi sempet dirawat dan baru bisa pulang ke rumah beberapa minggu lalu. Saking syok dan marahnya sama Ferdi, nih."


Momi tiba-tiba ikut mendelik tajam ke arahku. Tak lupa, dia juga mengangkat sebelah sendal kataknya yang masih tersisa satu.


"Ji, mau Momi lampiaskan nggak kemarahan kamu selama ini? Mumpung tangan Momi gatel banget pengin nabok pantat Ferdi biar jadi dendeng," tawar Momi dengan seringainya yang mengerikan.

__ADS_1


Dan tak lama setelah kepala Jiya mengangguk, menyetujui rencana jahat Momi. Aku langsung berlari sekencang mungkin untuk menghindari simulasi all of us are dead yang Momi berikan.


__ADS_2