
"Pagi, bagaimana misi kalian kemarin? Apa sudah selesai?" tanyaku, semakin terhanyut untuk memainkan peran.
"Siap, sudah."
Kepalaku mengangguk-angguk. "Bagus. Lalu bagaimana dengan misi twinkle twinkle little star?"
"Eum, Sir. Agen winter mau izin menjawab. Menurut pengamat saya, para tikus akan keluar saat Bunda mematikan lampu di malam hari. Kemudian mereka merangkak pelan-pelan untuk mengambil makanan yang biasanya tertinggal di dapur," jelas Winter yang kali ini sudah lebih lancar dari kata sebelumnya
"Lalu, apa ada tambahan?" tanyaku lagi, seraya melirik ke arah Daniel yang kali ini nampak tersenyum.
"Salah satu penjahat paling mengganggu sudah kami berhasil bekuk," balas Daniel seraya mengeluarkan dua ekor bangkai cicak yang sudah dimasukkan ke dalam kantong obat.
Aku yang melihat itu langsung mengambil bangkai cicak yang ada di plastik obat kemudian membuangnya.
"Bagaimana kalau kita keluar markas, Bunda sedang menunggu kalian di bawah, loh." Aku mengajak si kembar itu untuk turun ke bawah. Yang langsung dibalas anggukan kepala mereka berdua kompak.
__ADS_1
"Apa tidak apa jika kita meninggalkan markas, Sir?" tanya Winter hati-hati.
Sedari tadi dia memandangi area kamarnya, dan terlihat begitu enggan untuk pergi.
"Tentu dong, seorang mata-mata maupun agen rahasia juga manusia. Jadi perlu istirahat."
"Begitu, yah?" celetuk Daniel dengan senyuman tipis dibibir.
Kami bertiga menuruni anak tangga bersama. Dengan Daniel berada di gendonganku sedangkan Winter yang memilih untuk berjalan kaki sendiri namun meminta tetap bergandengan tangan.
Jiya sendiri yang melihat aku turun bersama si kembar tampak berkacak pinggang. Kemudian melangkah terburu ke arah kami berdua dengan sendok sayur yang menunjuk wajah Daniel sekaligus Winter bergantian.
Lain hanya dengan Winter yang memilih untuk melepaskan genggaman tangannya padaku. Kemudian berjalan menuju meja makan dan duduk di kursinya.
"Ayolah, Bun. Kami sudah turun untuk sarapan, jadi tolong jangan marah-marah lagi. Karena wanita itu lebih cepat tua tiap menitnya daripada seorang pria. Terutama wanita yang suka marah-marah seperti Bunda." Winter menjelaskan yang kemudian membuat Jiya menatap diriku nyalang.
__ADS_1
"Apa Ayah yang mengajarimu berbicara seperti itu?"
Kulihat kepala Winter menggeleng. Lantas dia memasukan potongan roti bakar yang sudah dingin itu ke dalam mulutnya. "Justru aku yang sudah lama ingin mengatakan ini. Toh, ini baik untuk Bunda. Selain aku telah mengingatkan dan menjadi anak yang baik, bunda juga bisa terhindar dari penuaan dini."
"Om Ferdi!" teriak Jiya berapi-api.
Padahal aku tak pernah mengajarkan Winter untuk berbicara seperti itu. Bukan aku. Tapi anak kecil itu yang memang otaknya lebih cepat tumbuh dan ingin segera dewasa.
Daniel yang sudah kulepaskan dari gendonganku. Malah terbahak-bahak saat melihatku dipukuli oleh Jiya. Dia bahkan menyuruh Winter untuk bertepuk tangan dan menontonnya bersama.
"Winter cepat bilang pada Bundamu, kalau Ayah tak pernah mengajarimu untuk berbicara tidak sopan. Bukankah kita lebih sering belajar menjadi seorang agen rahasia?" pintaku pada anak pertamaku itu.
Namun, alih-alih menjawab. Winter malah sibuk memakan roti bakarnya dan terlihat begitu menikmati.
"Yah, tapi Bunda tidak kan pernah percaya. Ketahuilah Ayah, Bunda benar-benar marah dan ingin menjadikanmu sup untuk makan siang nanti," jelasnya yang membuatku geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Winter, aku tak begitu ingat jelas nama panjangnya. Karena dia lebih suka dipanggil Winter saja. Anak sulungku itu ternyata lebih dewasa daripada yang orang kira. Meskipun usianya baru 4 tahun, tapi Winter memiliki hobi membaca buku sejarah dan sangat tertarik dengan hal berbau kriminal.
Bukan berarti dia bercita-cita menjadi seorang maling loh ya. Tapi Winter yang kutahui, memiliki cita-cita sebagai agen rahasia. Sehari-hari dia bahkan memintaku untuk membuat sebuah kasus yang akan dirinya coba pecahkan sendiri. Atau jika dia mengalami kesulitan dia akan meminta Daniel untuk membantunya.