Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Nginep


__ADS_3

"Loh, sejak kapan Mamah punya butik?" tanya Jiya tak kalah kaget denganku.


Benar-benar deh, ini kejutan sekali. Aku juga baru tahu, kalau Mamah Vivi punya brand dan produk yang diproduksi sendiri. Padahal setahuku dia cuma seorang dokter saja.


"Belum lama juga sih, mungkin baru jalan satu sampai tiga bulan," jelasnya yang membuat mata Jiya makin membulat.


"Nggak lama, tapi brand Mamah udah terkenal banget? Gila, Jiya baru sadar kalau keluarga kita otak bisnis semua." Jiya terkekeh pelan setelah mengatakannya.


Membuat Mamah Vivi langsung mengusap permukaan kepala bocah rese itu lembut. "Brand kamu juga nge-hits, kan? Usaha Ferdi juga makin maju. Saran Mamah sih, tekuni aja sampai benar-benar menghasilkan dan buat kalian puas sama hasil kerja kerasnya. Dan jangan lupa buat sedekah, oke?"


"Siap, Mah!" balasku dan Jiya kompak.


Nampak seperti anak kecil yang langsung mengiyakan perintah sang guru.


"Uluh-uluh, anakku tercinta sama mantuku tersayang. Semoga kalian cepat-cepat diberi momongan yah, biar Mamah juga bisa segera nimang cucu hehe ..."


Aku dan Jiya yang mendengar itu, saling pandang untuk beberapa saat dengan senyuman yang mengembang dibibir.


"In sya allah," sahutku dan Jiya bersama.


Beberapa menit setelahnya, aku dan Jiya pun mulai melakukan fitting baju. Mencobanya satu-persatu sampai menemukan yang cocok untuk kami kenakan, saat acara resepsi minggu depan.


Untuk beberapa saat, kudengar Jiya sempat mengaduh dan melayangkan protes. Mengenai ukuran gaun yang menurutnya kekecilan dan terlalu mengekspos  bagian tubuhnya yang seharusnya disembunyikan.


"Mah, gaun yang ini nggak ada yang lebih besar, kah? Jiya nggak terlalu suka yang ngepas dipinggang sama dada. Rasanya tuh, susah buat gerak dan nafas," jelasnya.


Kulihat dia memutar-mutar sedikit tubuhnya di depan cermin yang memang sudah disediakan di sana.


"Ada, coba kamu pakai yang ini."


Mamah Vivi tampak menyodorkan sebuah gaun berwarna putih polos yang terlihat elegan. Yang langsung diraih Jiya untuk bocah rese itu coba, di salah satu ruang ganti pakaian.

__ADS_1


Cukup lama aku duduk dan menunggu istri kecilku itu keluar. Sampai kurang lebih lima menitan, pintu ruang ganti pakaian terbuka dan menampilkan sosok Jiya yang begitu membuatku terpana.


"Kalau ini, menurut Om Ferdi gimana?" tanyanya seraya tersenyum manis ke arahku.


"Cantik, kamu cocok banget pakai itu," ungkapku yang kontan membuat semburat rona merah menghiasi pipi milik Jiya.


"Mah, Jiya ambil yang ini."


Selesai fitting baju, kami pergi lagi menuju tempat untuk acara resepsi. Tentunya yang lagi-lagi Mamah Vivi sudah siapkan bersama Momi. Sayangnya, hari ini Momi tak bisa ikut karena ada pekerjaan penting yang harus dia urus.


Kurang dari setengah jam, dengan jarak tempuh yang lumayan. Akhirnya kami sampai di tempat yang akan kami sewa. Tepatnya disebuah venue pernikahan bertema outdoor yang berlokasi di Pantai Karnaval Ancol.


Venue yang memang aku dan Jiya inginkan selama ini. Dan rupanya kami menemukan di Jakarta, tanpa perlu repot-repot harus pergi ke Bali.


Terlihat semuanya sudah mulai dipersiapkan dengan baik. Dari hiasan bunga-bunga yang mulai disediakan. Juga bangku yang mulai ditata letaknya satu persatu. Mungkin karena ini tinggal beberapa lagi, jadi Mamah Vivi ingin persiapannya dimajukan lebih awal.


Selesai fitting baju dan melihat tempat acara resepsi. Aku, Jiya dan Mamah Vivi akhirnya kembali ke rumah sekitar pukul setengah delapan malam. Selain karena kami sengaja  menunggu sunset di Segarra, untuk memastikan bagaimana indahnya pemandangan venue saat malam. Kami bertiga juga sempat mampir untuk makan malam di salah satu cafe, sebelum pulang ke rumah.


Aku dan Jiya sih, oke-oke saja. Apalagi kami sudah lama sekali tak berkunjung ke rumah Mamah Vivi. Jadilah, aku dan Jiya sepakat untuk menginap khusus malam ini di rumah mertuaku itu.


Sesampainya di rumah Mamah. Mertuaku itu langsung meminta Jiya untuk tidur bersamanya. Dia bilang rindu berat, karena sudah begitu lama sekali tak pernah lagi tidur bersama Jiya. Yang kontan saja, aku setujui detik itu juga.


"Om," panggil Jiya dari ambang pintu kamar kesayangannya, saat aku sedang melepas baju sampai di atas perut.


"Ya?"


Kulihat dia berjalan mendekat, kemudian memeluk tubuhku erat tiba-tiba. Membuat kegiatanku tadi sempat terhenti karena aksi Jiya yang mendadak begini.


"Ada apa? Kamu, capek?" tanyaku seraya menangkup kedua pipinya. Membuat wajah bocah rese itu sedikit terdongak ke atas, menatap kelereng hitamku ini.


Kepala Jiya lantas menggeleng pelan. Sebelum akhirnya dia selundupkan semakin dalam, diantara kedua lengan kekarku ini yang tengah mendekap erat tubuhnya juga.

__ADS_1


"Terus, kenapa? Tiba-tiba jadi manja begini, hm?" tanyaku, masih mengusap lembut permukaan kepala Jiya.


"Bentar dulu, Jiya masih kangen. Jadi pengin peluk lebih lama."


Aku yang mendengar ucapannya barusan langsung tertawa. "Orang tidur semalam aja sama Mamah kok, besok kan kita udah balik ke penthouse."


"Ih, tapi-" ucapan Jiya langsung terhenti saat kubungkam mulutnya itu dengan jari telunjukku yang sudah lebih dulu menempel di depan bibirnya.


"Ssttt ... Apa perlu aku gendong ke kamar Mamah?" tawarku.


Kulihat Jiya menutup wajahnya sendiri karena malu. Kemudian mendorong tubuhku menjauh, sesaat sebelum dia meninju perutku ini cukup keras. Hingga membuatku meringis.


"Kok dipukul?" tanyaku pura-pura kaget.


Tapi soal rasa pukulan yang aku terima itu rasanya sakit juga. Buktinya aku sampai meringis hingga Jiya berjalan pergi dengan lidah terjulur, menggodaku. Dengan kepala yang menyembul dari balik pintu kamar yang akan dia tutup.


"Lagian Om Ferdi nyebelin, wlee!"


Setelah mengatakan itu, sosoknya langsung menghilang dari balik pintu kamar. Yang kontan saja membuatku tak bisa lagi untuk menahan gejolak tawa yang seketika memenuhi perut.


"Jiya, Jiya!" ucapku seraya mengusap permukaan wajahku sendiri yang tak berhenti untuk tertawa kali ini.


Paginya, Jiya tampak cemberut. Dengan langkah yang sedikit dihentak-hentakan ke arahku. Kemudian bocah rese itu mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang jaraknya tak jauh dengan kursi yang sedang aku duduki di dekat kolam renang.


"Kamu kenapa? Pagi-pagi kok udah cemberut begitu? Awas nanti cepat keriputan, loh." Aku meledek sambil sesekali melirik ke arah Jiya yang tampaknya benar-benar kesal.


Segera kutinggalkan gawai yang berisi email dari Gisel itu, kemudian berjalan menuju Jiya yang masih saja menundukkan kepala dengan nafas yang berembus berat beberapa kali.


"Kenapa loh, Yang?" tanyaku, seraya berjongkok di depan Jiya.


Melirik tajam ke arahku, Jiya lantas berucap. "Mamah minta kita pulangnya diundur, dan selama itu, Jiya juga harus nemenin dia tidur."

__ADS_1


__ADS_2