Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Menelan Ludah Sendiri (Aaron x Mila)


__ADS_3

Semenjak pertemuanku dengan Amira dua hari yang lalu. Wanita itu seolah-olah tak henti-hentinya untuk mencari kesempatan bertemu denganku lagi.


Seperti ada saja, hal-hal yang sengaja Amira perbuat untuk kembali dekat denganku. Seperti sekarang ini, misalnya. Saat, aku hendak meeting dengan klien di sebuah restoran tak jauh dari perusahaanku.


Kami tak sengaja berpapasan dijalan, serta hanya terpisah satu tempat duduk saja. Entahlah, aku tidak tahu Amira punya janji dengan siapa. Yang pasti, aku merasa sedari tadi dia selalu menatap ke arah meja tempatku duduk ini.


Beruntungnya, meeting kali ini berjalan dengan lancar. Akupun berhasil membuat kesepakatan dengan brand ternama untuk produk minumanku ini.


Aaron yang kebetulan, kusuruh untuk menemaniku meeting juga ikutan gembira. Selain itu, tampaknya sahabat karibku telah berubah akhir-akhir ini.


Itu terlihat dari penampilannya yang terkesan lebih rapi dan juga sopan. Tak seperti Aaron yang dulu. Jika tak bau minyak wangi wanita, pasti ada saja jejak lipstik yang tertinggal di kerah kemejanya.


Ah, apa mungkin ini karena Mila?


"Ron, gue lihat akhir-akhir ini lo udah tobat?" tanyaku yang membuat kepala Aaron menoleh seketika.


"Apa lo akhirnya udah nemuin tambatan hati, dan Mila itu orangnya?" lanjutku lagi.


Aaron langsung mendelik. "Enak aja! Bisa-bisanya lo mikir gue bisa jadi soulmate sama cewek dekil itu. Hih, amit-amit!"


Aku yang melihat reaksi Aaron seketika menjatuhkan ekspetasiku. Rupanya, sahabatku itu belum berubah juga ternyata.


"Jangan gitu, emang muka lo udah paripurna apa? Awas loh, ntar nyesel kalau udah ketemu."


"Nggak bakal!" balas Aaron cepat, seraya beranjak dari duduknya.


Kulihat sahabat karibku itu berjalan tergesa-gesa ke arah pintu keluar, dan membawa tas berisi berkas serta laptopku. Buru-buru kembali ke kantor mungkin.


Cuma, belum ada tiga detik aku mengalihkan mata. Kudengar suara teriakan Aaron, sekaligus tas yang dia bawa terjatuh ke atas lantai.


"Woy, punya mata nggk sih, lo?" teriak Aaron yang langsung mengalihkan atensiku.


Secepatnya, aku menghampiri dirinya yang kini masih terduduk di depan pintu masuk dengan seorang wanita yang mengenakan kacamata hitam. Sama-sama terjatuh, dan membuat semua pasang mata kini menyorot ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Udahlah Ron, ribut sama cewek itu nggak baik. Nanti tambah seret aja, jalan ketemu jodoh lo," kataku berusaha menenangkannya.


Tapi, Aaron tetaplah Aaron. Yang tidak akan mau menggubris perkataan orang lain, jika dia sudah merasa dirinya itu benar.


"Kok lo belain dia sih, Fer. Orang dia juga yang salah, punya mata tapi nggak dipake. Terus, bisa-bisanya di ruangan masih aja pake kacamata hitam, berasa artis banget nggak tuh," cerocos Aaron tak henti-hentinya.


"Kalian berdua nggak berubah, yah? Terutama lo, masih aja jadi banci," celetuk si cewek berkacamata hitam itu.


Yang membuat aku dan Aaron menatap dirinya serempak. "Sorry, emang kita kenal, yah?"


Tersenyum, kulihat cewek itu lantas melepaskan kacamata hitamnya. "Gue Mila, masa lo lupa sih, Fer?"


Aku yang melihatnya langsung tersentak kaget beberapa saat. Tak terkecuali Aaron, yang benar-benar kaget bukan main.


Dalam hati aku berteriak, 'Mampus. Aaron pasti, kena mental.'


"Seriusan lo Mila? Cewek dekil yang suka ngehukum anak-anak cowok waktu SMP dulu?" tanya Aaron memastikan.


Tampak, kepala hitam Mila mengangguk cepat, mengiyakan.


Aku tertawa terbahak-bahak tanpa sadar. Seketika jadi keinget Jiya yang pernah mengatakan hal yang sama juga, seperti apa yang Mila katakan barusan. Kalau aku ini mirip Sugar Daddy.


"Bisa aja kamu, Mil. Oh iya, ngomong-ngomong apa kabar? Udah lama kita nggak ketemu, yah setelah lulus SMP." Aku bertanya membuat Aaron memasang wajah yang masam.


"Dih, kenapa lo jadi banyak tanya gitu, Fer. Lo nggak bermaksud buat nikung Mila dari gue, kan?" ujar Aaron yang membuat aku dan Mila menolehkan kepala ke arahnya.


Aaron yang sadar dengan ucapannya barusan, langsung menutup mulutnya cepat-cepat membuat aku dan Mila tergelak.


Dasar, si anying. Tadi nolak mentah-mentah, sekarang pas udah ketemu langsung nelan ludahnya sendiri. Hadeh, Aaron-Aaron. Untung aja teman.


"G-gue salah ngomong tadi. Sorry!" katanya lagi, yang membuat Mila menaikan sebelah alisnya.


Nah, loh. Malu sendiri 'kan sekarang.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, kami bertiga kembali duduk dan memesan minuman untuk mengobrol sebentar. Yah, saling bertukar kisah hidup saja yang pernah kami alami masing-masing.


Lagi pula, ini masih jam makan siang. Jadi, masih cukup lah waktu untuk berbincang dan sekadar reuni sesaat.


Mila bercerita tentang alasannya pindah sewaktu SMP dulu. Dia bilang, Ayahnya meninggal dunia dan keluarga besarnya meminta untuk menguburkan jenazah Ayahnya itu di tempat sang nenek, yakni di Cirebon.


Karena hal itu pula, Ibu Mila memutuskan untuk sekalian pindah saja dan menetap di sana.


Lalu, setelah lulus SMA. Mila kembali ke sini dan berkuliah di salah satu kampus ternama di Jakarta, serta mengambil jurusan desain serta make up artis. Tak sangka, setelah lulus dia menjadi salah satu make up artis ternama dan paling berbakat.


Aaron yang mendengar itu hanya bisa ternganga, membuatku inisiatif menyumpal mulutnya itu dengan tisu yang ada di atas meja.


"Awas kemasukan lalat ijo, lo!" ujarku yang membuat Aaron makin kesal.


Lain halnya saat menatap Mila, aku merasa dari sorot matanya Aaron yang teduh itu. Seolah-olah mengatakan, jika dia mulai tertarik dengannya.


CK, benarkan apa dugaanku.


"Ngomong-ngomong udah lewat jam makan siang, nih. Gue pamit duluan yah, soalnya ada klien yang minta dirias buat acara nanti malam," kata Mila seraya membereskan barang-barangnya di atas meja.


Aku yang mendengar itu hanya membalasnya dengan senyuman seraya melambaikan tangan. Sedangkan Aaron yang masih duduk di sisiku hanya diam dan malah mengembuskan napas berat, seperti orang yang baru saja putus cinta.


"Kenapa muka lo mendadak kusut gitu, Ron?"


Menatap ke arahku sendu, Aaron cuma geleng-geleng kepala saja. "Nggak papa."


"Bilang aja lo jatuh cinta pada pandangan pertama susah amat. Dengar Ron, kalau lo belum yakin, yakinin aja perasan lo itu perlahan-lahan. Tapi gue harap, lo nggak terlambat, yah. Apalagi sekarang Mila udah berubah banget, pasti banyak cowok yang ngejar-ngejar dia. Jadi, saran gue nih. Kalau lo udah yakin, buruan nyatain aja. Urusan dia nerima atau nggak biar Allah aja yang ngatur. Gimana?"


Aaron yang mendengar penjelasanku barusan, mulai memperlihatkan raut cerita di wajahnya. "Gitu yah, Fer? Tapi, apa dia mau sama gue yang player ini? Apalagi gue sendiri pernah ngatain dia jelek. Rasanya kayak gue nelen ludah sendiri."


"Semua orang pasti pernah ngalamin fase itu kok, Ron. Cuma, bedanya mereka sama lo itu, apa mereka cepat sadar di saat yang tepat atau malah sadar waktu penyesalan itu udah dateng duluan?"


Note :

__ADS_1


Karena author kehabisan ide tapi harus kejar jumkat, jadi author masukin cerita cinta Aaron sama Mila juga, dikit. Doain yah, semoga ide author cepat kembali. Aamiin:)


__ADS_2