Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Like a Monster? (Nunggu Buka Aja, Serius)


__ADS_3

Sepeninggalnya Momi dan Mamah Vivi dari penthouse. Aku pun bergegas menuju ke kamarku dan Jiya, untuk mandi. Tentunya dengan si bocah rese itu yang kini, mengekor dibelakang tubuhku, mirip seekor anak kucing


Tentu saja aku yang melihat tingkah Jiya yang tak biasa seperti ini, kemudian menghentikan langkah kakiku secara mendadak di depan ambang pintu kamar.


Yang kontan saja, hal itu langsung membuat langkah Jiya terhenti juga. Dengan permukaan wajah yang menghantam bagian punggungku sedikit keras.


"Akh! Kenapa tiba-tiba berhenti sih, Om?" ringisnya seraya menggosok-gosok bagian dahinya sendiri.


Aku yang mendengar nada suaranya sedikit kesal begitu. Seketika membalikkan tubuhku yang semula membelakangi Jiya, jadi menghadap dirinya.


"Lagian, siapa suruh jalan nggak liat-liat sekitar?" balasku dingin namun penuh arti di dalamnya.


Kulihat bibir Jiya tercebik, sebal. Begitu juga dengan ekspresi wajahnya yang kini ikutan berubah muram juga.


"Siapa yang nggak liat-liat, orang Jiya mau ke kamar. Cuma kehalang Om Ferdi aja tadi," jelasnya.


Mataku menyipit. "Yakin cuma ke kamar aja, nggak ada maksud lain?"


"Iya, emangnya mau ngapain lagi?" balasnya cepat, sewot.


Melihatku yang masih diam saja di depan pintu kamar, membuat Jiya langsung mendorong tubuhku sedikit agar tersisa celah untuknya masuk ke dalam.


Setelah masuk, Jiya lantas merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi tubuh terlentang. Melihat sekeliling beberapa kali, sampai kemudian tertangkap basah melihat diriku lagi.


Sontak saja aku menyeringai melihat tingkahnya yang buru-buru memutuskan kontak mata diantara kami. Sudah begitu, Jiya terlihat salah tingkah, serta gusar saat kakiku perlahan-lahan berjalan mendekat ke arahnya yang masih tiduran di atas kasur itu.


"Kamu lagi nggak mikirin sesuatu tentangku kan, Ji?" tanyaku yang kini sudah terduduk di atas kasur. Melihat ke arah Jiya yang langsung mengubah posisinya menjadi memunggungiku.


"Nggak."


"Kalau nggak, kenapa kamu buang muka? Bukannya kalau ada orang ngomong harus diliat mukanya?" balasku, seraya mengusap puncak kepala Jiya lembut.

__ADS_1


Membuat bocah rese itu lantas bereaksi dengan tubuh yang sedikit menegang.


"O-Om?" panggilnya terbata, dengan raut wajah seolah-olah menahan sesuatu yang aku tahu maksudnya apa.


"Jiya mau ikut mandi, boleh?"


Alih-alih menjawab pertanyaan bocah rese itu, aku malah langsung mengangkat tubuhnya dengan sekali tarikan. Kemudian menggendong Jiya ala bridal style menuju kamar mandi, seraya berbisik.


"Kamu yang minta, jadi jangan lupa sama konsekuensinya."


Setelah mengatakan itu aku langsung membungkam mulut Jiya dengan bibirku. Membuatnya langsung memegang bagian tengkuk belakangku kuat, saat ciuman itu perlahan berubah menjadi hisapan yang kuat.


Blam!


Pintu kamar mandi kututup dengan tak sabaran. Hingga menimbulkan suara dentuman cukup keras. Lantas, kududukan tubuh Jiya di atas meja westtafel tanpa pernah sedikitpun membiarkan ciuman kami terhenti.


Aku yang merasa pasokan oksigen Jiya mulai habis, sejenak menghentikan ciuman panas kami. Menatap ke arahnya sekilas, saat kudengar suara desahannya yang begitu mengundang.


"Kamu mau apa?" tanyaku dengan pandangan tak pernah lepas dari matanya yang mulai redup dipenuhi kabur nafsu itu.


"Katakan saja," bisiku pelan seraya mendekatkan wajahku ke arah ceruk lehernya.


Menghirup aroma tubuh Jiya kuat, sambil sesekali menggigit kecil ujung telinganya. Dengan tangan kanan yang perlahan-lahan mengusap lutut bocah itu perlahan dari bawah, hingga mulai naik dan menyelinap masuk ke dalam dressnya.


"O-Om Ferdi, uhhh ..." lenguhnya, saat kuusap tempat rahasia yang dia punya.


Membuat Jiya makin mencengkeram erat leherku. Saat sesuatu yang hangat dan basah itu mulai menyelimuti jariku di bawah sana.


"Uuh ... Huh ... Huh ..."


"Apa? Kenapa suaramu mendadak begitu?" godaku yang membuat Jiya makin frustasi.

__ADS_1


Dia lantas menarik wajahku untuk mendekat, kemudian mencium bibir ini dengan begitu rakus. Sampai membuatku tersenyum kecil, disela-sela ciuman kami.


"Hey, tunggu. Ada apa?" tanyaku saat Jiya mencoba meraba bagian bawah perutku, seraya menyibakkan sedikit kaos putih yang kukenakkan ke atas dada. Dan mengekspos bagian perut sixpack milikku yang sudah lama sekali tak terjamah olehnya.


Alih-alih menjawab, Jiya malah mencecap salah satu bagian perut sixpackku dengan bibirnya yang lembut itu. Meninggalkan jejak-jejak merah di sana, yang membuatku tak bisa berpikir jernih.


"Ahh, sialan!" umpatku tanpa sadar, seraya menutup bagian mataku saat melihat tingkah Jiya yang begitu menggoda.


Bagaimana bisa? Dua tahun lebih tak bertemu membuat dia jadi seahli ini. Aku sendiri tak menduga jika dia akan membalasnya dengan memuaskan diriku menggunakan mulutnya itu.


Aku tak kuasa, sungguh. Apalagi saat melihatnya menjilati hartaku yang paling berharga dengan begitu sensualnya. Itu membuatku makin terprovokasi, hingga ingin menindih tubuhnya saat ini juga.


"Dengar, jangan salahkan aku kalau besok pagi kau tidak bisa berjalan. Karena kau yang sudah memprovokasiku lebih dulu." Aku berucap dengan sorot mata yang serius.


Saking seriusnya, sampai membuat bocah rese itu tak sadar. Jika aku sudah melebarkan kakinya dan siap memasukkannya ke dalam sana.


"Argh!"


Dalam sekali hentakan, aku berhasil memasuki Jiya. Membuat istri kecilku itu berteriak cukup keras sebelum berubah menjadi suara lenguhan yang memenuhi setiap penjuru kamar mandi.


Kurasakan tangannya makin mencengkeram kuat saat memeluk tubuh polos atasku. Jemari lentiknya juga menarik-narik ujung rambut, dengan mata yang terpejam erat, menikmati sensasi yang kuberikan padanya.


Malam itu, tubuh kami kembali bersatu dan berbagi kehangatan satu sama lain. Melampiaskan nafsu yang sudah lama sekali kami tahan, hingga rasanya tak ingin hal itu segera usai.


Meskipun kami sudah melakukannya beberapa kali di kamar mandi. Namun itu tak cukup dan berhenti begitu saja. Karena rasa haus akan sentuhannya membuatku ingin melakukan itu lagi ditempat tidur sampai malam berganti pagi.


Keesokan harinya, kelopak mataku terbuka saat kurasakan sesuatu yang cukup berat menindih bagian lengan sebelah kanan. Tak hanya itu, pelukan erat serta sesuatu yang mengusap-usap bagian permukaan dadaku juga membuatku langsung tersadar, untuk melihat, sekaligus memastikan apa yang terjadi.


Rupanya itu Jiya. Dia masih terpejam erat dan menjadikan tanganku sebagai bantal tidurnya. Bocah rese itu juga memeluk tubuhku erat, seolah-olah jika dia melepaskannya, aku akan menghilang begitu saja.


Sesekali kepalanya mendusel manja. Seperti mencari kehangatan diantara tubuh kami yang polos ini. Sampai membuatku terkekeh pelan, tatkala melihat tingkahnya yang menggemaskan itu.

__ADS_1


Fyi, apa semalam aku begitu kasar? Aku khawatir benar-benar tak bisa membuatnya berjalan hari ini. Bahkan melihat tubuhnya yang polos dan dipenuhi beberapa ruam merah dibeberapa titik, membuatku langsung mengusap permukaan wajahku sendiri kasar.


"Cih, semalam kau benar-benar monster, Fer."


__ADS_2