Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Kamar Kesayangan Jiya


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepulanganku dari rumah sakit. Aku mendengar kabar jika Om Lukman telah ditangkap sesaat setelah aku dilarikan ke rumah sakit.


Selain itu, Daddy dan Papi juga menuntut si parasit itu dan membuatnya mendekam di penjara untuk seumur hidupnya. Dengan kasus percobaan pembunuhan secara berencana terhadapku.


Jika ditanya, apa aku merasa senang? Tentu saja jawabnya sedikit, kalau bisa aku ingin membalasnya lebih selain memenjarakan si parasit itu. Terlebih lagi, tentang apa yang telah dia perbuat pada Jiya.


Cuma kita harus mematuhi hukum dan peraturan yang telah ada. Jadi, singkatnya ini semua sudah lebih dari cukup. Dari pada si cecunguk itu masih saja hidup bebas dan masih berkeliaran dengan santai di luar sana.


Karena kondisiku yang belum bisa beraktivitas dengan baik sepenuhnya. Mamah Vivi dan Papi pun memberi usul, supaya aku dan Jiya tinggal di rumah mereka selama seminggu ke depan.


Awalnya, Jiya ingin mengajukan protes. Namun segera ku larang, dengan menyetujui permintaan kedua mertuaku itu lebih dulu.


"Kenapa sih, Om? Padahal Jiya juga bisa kok ngurus Om Ferdi sendiri di penthouse," tanyanya meminta penjelasan.


Aku yang ditanya begitu hanya menyunggingkan senyuman di wajah. "Nggak bagus loh, nolak ajakan orang tua. Lagian Mamah sama Papi kamu juga niatnya baik kok, mereka pengin bantu kita. Terutama kamu, mungkin aja mereka nggak pengin ngeliat kamu kecapean ngurus aku sendiri."


"Gitu yah, Om? Haduuh, kenapa sih Jiya nggak kepikiran sampai ke situ?" rutuk Jiya, kesal dengan dirinya sendiri.


"Udah-udah, dari pada kamu ngedumel terus. Mending beres-beres barang buat ke rumah Mamah sama Papi."


"Siap, Bosque!" seru Jiya lantang.


Sore harinya, aku dan Jiya benar-benar pergi ke rumah Mamah Vivi. Dijemput oleh Papi yang tiba-tiba datang ke penthouse tanpa ngasih kabar dulu.


Saking senangnya ngejemput, Papi sampai membawakan buah tangan untukku dan Jiya. Katanya sayang, kalau nggak dibeli.


"Nih, semangka. Tadi Papi nggak sengaja beli waktu mau mampir ke sini."


Jiya yang melihat buah itu langsung berteriak heboh. Rupanya selain KPopers garis keras, dia juga penyuka semangka. Parahnya, aku baru tahu.


"Makasih Papi, Jiya taruh kulkas dulu yah. Eh, tapi apa dibawa ke rumah Mamah aja? Takut nggak ke makan kalau ditinggal di sini," kata Jiya seraya melirik sekilas ke arahku.

__ADS_1


"Terserah kamu aja, enaknya gimana." Aku membalas cepat dengan tangan kanan yang sibuk mengunci pintu kamar.


"Kalau gitu, Jiya bawa aja ke rumah Mamah. Itung-itung buat jadi camilan dijalan hehehe ..."


Lima menit setelah persiapan, aku, Jiya dan Papi pun berangkat. Kami meninggalkan penthouse sekitar pukul lima sore-an.


Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya, jalan menuju rumah Mamah Vivi itu tidak terlalu jauh kalau tak kena macet. Tapi, berhubung sore hari juga jam-jam orang sibuk. Entah pulang dari kantor atau mau pergi hangout. Jadi, beginilah nasib kami bertiga. Harus terjebak arus lalu lintas selama satu jam lebih di lampu merah.


Setelah terjebak macet yang cukup memakan waktu itu, kami pun sampai juga ditempat tujuan.


Kulihat, Mamah Vivi sudah standby di depan gerbang, menunggu kedatangan kami. Beliau tersenyum lebar dan buru-buru menuju ke arah mobil Papi yang baru saja terparkir di depan garasi.


"Aduh, anak Mamah yang paling cantik sama mantu kesayangan. Akhirnya, kalian nginep lagi di sini!" ucapnya antusias seraya memberikan Jiya cipika-cipiki. Kalau ke aku, hanya sebatas menepuk bahu aja mirip Tante ke ponakannya.


"Ayo, masuk-masuk. Mamah udah siapin makanan yang enak buat kalian."


Di meja makan, kami berempat makan dengan begitu lahapnya. Mungkin hanya ada suara dari sendok dan garpu yang saling bergesekan satu sama lain. Sampai, keheningan itu berubah menjadi ketegangan diantara aku dan Jiya.


Buru-buru, kusodorkan segelas air putih milikku untuknya. "Pelan-pelan dong, Ji."


Mamah sama Papi yang melihat reaksi Jiya begitu, diam-diam tertawa. Tapi, bukannya berhenti, mereka berdua malah makin menjadi-jadi.


"Halah, gitu aja lebay. Bukannya kalian udah malam pertama? Masa ditanya kapan punya anak, sampe keselek begitu."


Seketika aku dan Jiya saling pandang. Mendadak merasa bingung, harus menjawab apa. Mau jujur, takut kena omel Mamah. Tapi, kalau bohong tambah double dosanya.


Gegana nggak tuh, pemirsa?


"Hahaha, Mamah ih sabar dulu dong. Berkembang biak 'kan ada prosesnya juga. Dari produksi, membuahi terus sampai tekdung. Mie instan aja, dimasak dulu, Mah." Jiya membalas dengan santainya, sampai membuat Mamah Vivi geleng-geleng kepala.


Kemudian, melirik ke arah Papi sekilas. Sebelum berujung menatap diriku tajam. Uh, rasanya ditatap begitu jangan ditanya lagi. Ini lebih serem dari pada sidang skripsi di depan dosen killer, serius.

__ADS_1


"Mamah mau tanya sama Ferdi," ujar Mamah Vivi datar, yang membuatku berkeringat dingin tanpa sadar.


Rasanya melihat Mamah Vivi menatap tanpa adanya senyum tuh kayak, gimana yah? Horor banget pokoknya.


"I-iya, mah?" balasku sedikit gagap, saking gugupnya.


"Kamu ..."


Kulihat Mamah Vivi mengangkat satu jari telunjuknya yang kemudian di arahkan tepat di depan mataku. "Udah sehat 'kan, Fer? Kok Mamah perhatikan dari tadi, mukamu pucet banget yah, sampe keluar keringat dingin begitu?"


Nah, loh! Emang yah, seudzon itu nggak baik banget. Malah kadang bisa aja jadi penyakit ke diri sendiri.


Selain itu, wahai jantungku yang debarannya mulai nggak menentu. Kamu baik-baik aja 'kan? Ingat, jangan panik karena Mamah Vivi, Papi dan Jiya itu satu spesies. Yang sukanya buat pusing sama stok sabar porak-poranda.


"Fer, kok malah ngelamun? Kamu, udah mendingan, kan?"


Mendengar itu, secepat kilat aku menolehkan kepalaku ini ke arah Mamah Vivi.


"Alhamdulillah, Ferdi baik kok, Mah."


Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara kami, sampai waktu makan malam telah selesai. Aku dan Jiya yang baru selesai mencuci piring, ralat Jiya saja sebenarnya. Segera menuju ke dalam kamar kami.


Hanya saja kali ini aku dan Jiya menggunakan kamar kesayangan Jiya itu. Yang isinya kalian sudah pasti tahu, kalau baca cerita ini dari awal sampai bab ini, hehehe ...


"Om Ferdi duduk aja, tapi jangan peluk-peluk guling Jiya sembarang. Apalagi yang gambarnya Taehyung, itu punya Jiya seorang!" jelasnya, dengan sorot mata mengancam.


Aku sendiri hanya mengangkat bahu cuek saja. Seraya berjalan ke arah dinding di dekat lemari baju.


Gila sih, dia mau buka toko apa pamer? Soalnya, di dekat lemari ada rak mirip etalase yang isinya pernak-pernik idolanya itu. Dan jumlahnya tak cuma satu, tapi ribuan.


"Kamu, mengoleksi beginian keluar uang berapa?" tanyaku spontan yang langsung dibalas senyum bangga Jiya.

__ADS_1


"Yang pasti, di atas sepuluh jeti. Jadi, Om Ferdi siap-siap juga buat Jiya porotin kedepannya, hahaha ..."


__ADS_2