Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Curhatan Aaron?


__ADS_3

Akhir-akhir ini aku mulai sibuk kembali. Selain karena bisnisku yang mulai melonjak dipasaran. Aku juga harus disibukkan dengan urusan perusahaan IT.


Huft, memegang dua perusahaan secara serempak memang terkadang membuatku lelah secara fisik dan mental. Tapi, bukan berarti aku akan menyerah. Justru hal ini akan kujadikan peluang untuk semakin merambah ke segala bidang.


Ditengah-tengah kesibukan itu, pintu ruanganku tiba-tiba diketuk oleh Aaron. Tak seperti biasanya, sahabat karibku itu muncul dengan wajah yang lesu hari ini.


Padahal, biasanya Aaron sangat ceria dan energik. Apalagi jika sudah membahas hal berkaitan dengan wanita. Temanku itu nomor satunya.


"Fer, gue numpang istirahat bentar yah, di sini. Selain itu gue juga mau curhat," kata Aaron dengan wajah kusutnya.


"Ya, tapi jangan lama-lama. Gue mau meeting soalnya." Aku membalas dengan cepat, membuat Aaron mendesah berat, seperti orang banyak masalah.


"Gue dijodohin."


Tiba-tiba, tanpa hujan angin maupun petir. Suara Aaron yang berat meluncur memenuhi seisi ruangan. Membuat jari-jemariku yang sedang menandatangani dokumen, mendadak terhenti diudara.


"Serius, sama siapa?" tanyaku mulai penasaran.


Apalagi dengan wajah kacau Aaron begitu. Fiks, pasti dia dijodohin sama cewek yang nggak sesuai sama minatnya. Atau mungkin, sama cewek yang lebih tua?


"Lo tahukan cewek dekil, gendut dan banyak kutunya waktu zaman SMP. Yang dulu sering disuruh buat nyiksa anak-anak cowok bandel sama guru. Masa gue dijodohin sama dia?"


Mataku melotot tanpa sadar. "Mila?!"


Berbeda dengan reaksi Aaron yang kelihatan patah hati banget. "Iya, parah banget nggak sih? Aduh, gue yang ganteng dan kiwoyo begini kenapa harus dapat yang bulukan kayak dia? Emak dan Babeh gue bener-bener, deh."


"Bhaks! Awas, nanti lo bucin sama dia lagi."


"Hus, ngomong apa lo. Jangan sampe deh, gue aja belum berani ngeliat wajah Mila semenjak insiden waktu itu." Kulihat, Aaron bergidik saat menjelaskan.

__ADS_1


Sekedar informasi, seingatku Mila itu cewek yang paling dibenci oleh anak laki-laki sewaktu SMP dulu. Selain karena galak dan nyeremin, Mila juga nggak segan-segan buat berantem sama cowok.


Soal pintar, jangan ditanya lagi. Dia salah satu rivalku dari kelas satu sampai dua untuk menyabet juara pararel dari satu angkatan. Sayangnya, sewaktu kenaikan kelas, tiba-tiba Mila dan keluarganya pindah entah kemana.


Lalu, hubungannya dengan Aaron sendiri. Itu karena Aaron korban Mila waktu dia dikasih hukuman buat duduk bareng cewek itu, setelah ketahuan ngebolos pelajaran PPKn.


Duh, kalau diingat-ingat lucu juga sih. Apalagi muka Aaron waktu duduk sama Mila selama seminggu, ngenes banget. Dia juga nggak bisa tepe-tepe ke anak-anak cewek gara-gara langsung dipelototi sama Mila tajam.


"Fer, gue harus gimana? Lo tau sendiri'kan kalau gue itu player. Yang sukanya hidup bebas tanpa dikekang sama siapa-siapa. Gue juga terkenal banget karena sering ngabisin satu malam sama cewek-cewek panggilan. Tapi, kalau gue nolak, gue dapat ancaman nggak bakal dikasih jatah warisan. Haduh, gue bingung banget sumpah."


Mendengar penjelasan Aaron. Aku malah jadi yakin, kalau Mila itu orang yang diberikan Allah untuk merubah hidupnya. Lagi pula, dulu aku juga menolak dengan tegas dijodohin sama Jiya. Tapi setelah dijalanin lilahi ta'ala dan ikhlas. Aku malah merasa kalau Jiya itu, benar-benar orang yang tepat buatku.


Selain itu, dia juga satu-satunya cewek yang benar-benar membuat hidupku yang monoton menjadi lebih hidup, karena dipenuhi warna. Walaupun nggak menutup kemungkinan, kalau masih banyak opini kita yang nggak sama.


Pelan, kutepuk pundak sahabat karibku itu. "Ron, kalau menurut gue ikuti kata hati lo aja, maunya gimana. Cuma, saran dari gue jangan nilai hanya dari satu sudut pandang aja. Coba lo cermati baik-baik sebelum ngambil keputusan. Dan semoga, keputusan yang lo ambil nggak salah. Satu lagi, mana mungkin orang tua mau ngehancurin hidup anaknya sendiri. Mending, lo temui Mila dulu sekali, siapa tahu abis itu lo jadi berubah pikiran?"


Kulihat Aaron termangu beberapa saat. Barulah di detik berikutnya, senyuman miliknya kembali terbit.


Namun langsung kutolak mentah-mentah dan malah menyuruh Aaron untuk keluar secepatnya dari ruanganku.


Hanya saja, sebelum sosok Aaron keluar. Pria itu sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu, kemudian menolehkan kepalanya ke arahku.


"Oh iya gue hampir lupa, dia udah balik. Dan katanya, dia pengin ketemu sama lo, Fer."


Detik itu juga, kurasakan sesuatu yang sudah lama sekali hilang tiba-tiba muncul kepermukaan. Membuat dadaku terasa begitu sesak, meskipun hanya mendengar kata 'dia' dari Aaron.


Ah, sial. Aku benar-benar benci dengan perasaan menyesakkan ini.


***

__ADS_1


Sorenya, kulihat Jiya yang sudah berdiri di balik pintu penthouse menyambut kepulanganku.


Dengan gesitnya, bocah rese itu segera mengambil alih tas kerjaku untuk dia bawa ke dalam kamar. Tapi sebelum pergi naik ke lantai dua, Jiya juga melepas dasiku yang terasa menyekik leher, hari ini.


"Om Ferdi mau makan atau mau mandi dulu?" tanyanya yang membuatku teringat dengan sosok Momi.


Ah, jadi kangen, deh.


"Om?"


"Om Ferdi!" teriak Jiya yang langsung membuyarkan lamunanku.


"Kenapa?"


Mendengus sebal, si bocah rese itu kembali berjalan menghampiriku yang masih berdiri di ruang tamu.


"Mau makan atau mau mandi dulu? Masa sih, Jiya ngomong sekencang itu nggak kedengaran?" tanyanya penuh selidik.


Aku hanya tercengir lebar tanpa dosa saja, sebagai balasan. "Maaf hehehe ..."


Malam harinya aku tak bisa tidur. Pikiranku seolah-olah berkelana menjelajahi masa lalu. Meskipun, disampingku ada Jiya yang sudah terlelap dalam, dengan kepala menyender di atas bahu dan menjadikanku bantal. Rasa-rasanya, aku tetap saja tak mengantuk.


Dinginnya hawa dingin yang tiba-tiba masuk. Sekaligus suara rintik-rintik hujan yang perlahan mulai menderas di luar sana. Membuat si bocah rese itu semakin mengeratkan pelukannya kepada tubuhku yang kini tak memakai kaos atasan.


Meski telanjang dada, namun aku tak merasakan dingin sama sekali. Atau mungkin, ini berkat pelukan Jiya yang hangat?


Kuusap lembut puncak kepala Jiya sayang, sambil sesekali bersenandung lirih. Menyanyikan lagu, apa-apa saja yang lama-kelamaan mulai membuat rasa kantuk menyerangku.


Namun, mataku kembali terjaga saat kurasakan sesuatu yang menonjol itu menempel dengan sempurna di atas tubuh atasku.

__ADS_1


"Astaga, Ji! Aku baru sadar kamu nggak pakai BH, waktu tidur. Bisa-bisanya, kamu memprovokasiku begini!" bisikku kesal yang tak Jiya gubris.


Karena hal itu pula, aku memutuskan untuk tidak tidur dan malah membuat sebuah karya ditubuh si bocah rese itu.


__ADS_2