
Entah sudah berapa kali aku menggunakan teknik kombinasi. Walaupun, andalanku saat ini uppercut untuk menaikan dagu lawan yang kemudian disusul dengan hook kiri, selain jab.
Terlalu sering menggunakan Jab, menguras tenagaku lebih. Selain itu, kecepatan tanganku juga harus akurat dan benar-benar mengenai wajah lawan.
Sebenarnya, aku bisa menggunakan teknik lainnya. Namun, kuurungkan niatku itu saat melihat Om Lukman menarik satu sosok yang paling tidak ingin kulihat ditempat ini.
"Kamu pikir, aku masih nggak punya rencana lain?" kata Om Lukman.
Kulihat, si parasit itu menyandera tubuh Jiya. Dengan tangan kiri di leher, sedangkan tangan kanannya, Om Lukman gunakan untuk memegang sebuah belati yang sengaja diletakkan di dekat nadi leher Jiya.
Tentu saja, aku yang melihat hal itu langsung terdiam di tempatku berdiri. Seolah-olah, ada medan magnet kuat, yang menarik kakiku hingga tak bisa digerakkan lagi.
"Om Ferdi," ucap Jiya lirih.
Matanya sudah memerah dan berkaca-kaca. Siap untuk menumpahkan air mata. Meski begitu, Jiya menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah berkata kalau dirinya baik-baik saja, sembari tersenyum tulus ke arahku.
"Dengar Fer, kalau kamu nurut dan ngasih aku uang satu koper sebagai jaminan. Aku janji, nggak bakal ngelukain istri kamu ini. Tapi, kalau kamu masih ngotot buat ngelawan. Aku nggak bakal segan-segan buat nyayat leher Jiya saat itu juga." Om Lukman mengancam, seraya menjambak rambut Jiya.
Membuat kepala istri kecilku itu, sedikit terhuyung kebelakang karena tarikannya yang cukup kuat.
"Om Ferdi, jangan dengerin si sampah ini! Jiya bakal baik-baik aja!" teriak Jiya, seraya memberontak.
Tampak, bocah rese itu bersusah payah untuk melepaskan dirinya dari Om Lukman yang masih saja menyanderanya kuat. Beberapa kali, kulihat Jiya juga mencoba mengigit ataupun menendang-nendang bebas. Meskipun hasilnya tetap saja nihil.
Ditengah-tengah lamunanku itu, beberapa orang berpakaian hitam yang sudah bangkit berdiri. Mulai kembali menyerang, menghujami diriku dengan begitu banyak pukulan sampai aku dibuat mereka kewalahan.
Saat terpojok itulah, kulihat senyum Om Lukman mengembang. Lalu, dengan suara yang begitu keras, si parasit itu berteriak.
"Habisi dia! Aku ingin, keponakanku mati malam ini juga!"
Benar saja, seolah mendapat hipnotis yang kuat. Orang-orang berpakaian hitam itu langsung menyerbuku serentak. Mereka bahkan mengerubungiku layaknya seekor semut yang menemukan makanan. Lantas ...
Bugh!
__ADS_1
"OM FERDIII!!!" teriak Jiya histeris.
Saat melihatku terkena pukulan, hingga membuatku terpelanting jauh, sampai punggungku menghantam tembok.
Akibat pukulan itu, aku bahkan tak sadar sudah terbatuk darah, karena merasa sesak dibagian dada. Ada kemungkinan juga, salah satu tulang rusukku patah, hingga menghirup oksigen saja rasanya begitu sulit serta sangat sakit.
Ah, benar kata Daddy. Terlalu lama melamun bisa menurunkan fokus dan kesadaran.
"LEPASIN! LEPASIN JIYA! JIYA MAU NOLONGIN OM FERDI!"
"LEPASIN JIYA! DASAR SAM-"
Teriakan Jiya yang tadi kudengar seolah meredam. Tergantikan dengan suara tamparan keras yang hampir menggema keseluruhan penjuru ruangan.
"Bacot!" kata Om Lukman, setelah menampar Jiya keras hingga membuat tubuh ringkih bocah rese itu jatuh tersungkur di atas tanah.
Dari jauh, dan tanpa adanya tenaga. Kulihat rambut Jiya kembali dijambak paksa, hingga membuat wajahnya yang lebam itu terpaksa mendongak ke atas, menatap ke arah muka Om Lukman.
"Sekali lagi kamu berisik, aku juga nggak akan segan-segan untuk membunuhmu juga!"
Hanya saja, rasa sesak yang menjalar di area dadaku membuatku tak mampu melakukan apapun selain, terkapar di atas tanah dengan amarah yang terus meluap-luap tiap detiknya.
Melihatku dalam kondisi yang lemah tak berdaya. Membuat senyuman lebar tak pernah pudar dari bibir hitam Om Lukman.
Perlahan, kulihat si parasit itu berjalan pelan menuju ke arahku yang masih saja tengkurap di atas tanah, dengan luka di sekujur tubuh.
Setelahnya, Om Lukman segera mengibaskan tangannya pelan ke arah orang-orang berpakaian hitam itu. Seperti menyuruh mereka semua untuk pergi. Barulah setelah itu, Om Lukman berjongkok tepat di hadapanku.
"Fufufu, Ferdi yang malang. Datang seperti seorang pahlawan, namun harus gugur ditengah jalan. Benar-benar, kasihan sekali dirimu hahaha ..." ucapnya seraya memegangi ujung dahinya dengan tawa yang membahana.
"Aku tak menyangka, kau akan terkecoh hanya karena satu orang saja. Hah, menjadikan istrimu sandera memang pilihan yang tepat. Sial, waktu itu aku tak berhasil mencicipi tubuhnya," lanjut Om Lukman lagi, kali ini sembari melirik ke arah Jiya yang masih terduduk jauh di sana.
"Tunggu, kenapa aku tak menikmati tubuhnya sekarang saja? Bagaimana Fer? Kamu mau 'kan, menyaksikan aku berbagi keringat serta saliva dengan istri kesayanganmu itu?"
__ADS_1
"LUKMAN SALIM!!" teriakku diliputi amarah.
"Apa? Kau bahkan tak bisa bergerak satu incipun. Jadi, mau bagaimana lagi kau akan mencegahku menikmati tubuh istrimu yang molek itu?" balas si parasit, dengan bibir yang menjilati ujung lidahnya sendiri.
"Keparat kau! Uhukkk! Uhukkk!"
Lagi, aku terbatuk darah, karena memaksakan diri untuk segera bangkit. Yang malah mendapat serbuan tawa mengejek si parasit itu.
"Lemah!" ejeknya setelah sampai di dekat Jiya.
Kulihat tangannya yang hina itu mencoba menarik paksa tubuh Jiya untuk mendekat ke arahnya. Meskipun, beberapa kali Jiya sempat berontak. Namun, tenaganya masih kalah jauh dengan tenaga seorang pria.
Tak tinggal diam, aku mencoba bangkit dengan tenaga yang masih tersisa. Meskipun dengan langkah yang sedikit lunglai, kupastikan untuk memberikan satu pukulan yang dapat membuat Om Lukman terkapar.
Saat jarak diantara kami mulai dekat, segera
kulemparkan punggung tangan ke arah rahang, lalu mendorong bahu belakang ke depan hingga menyentuh dagunya.
Om Lukman yang tak sempat menghindar, langsung menerima pukulan cross yang kuberikan. Sampai jatuh tersungkur di sisi Jiya.
"Ji-Jiya?" panggilku lembut ke arah bocah rese itu, setelah memastikan Om Lukman tak sadarkan diri.
Melihatku yang dipenuhi lebam, Jiya langsung bergegas menuju ke arahku kemudian memelukku erat sekali dengan tangis yang tak bisa bocah itu tahan lagi.
"Huwa, Om Ferdi!" tangisnya pilu.
"Maafin Jiya yah, karena nggak dengerin kata-kata Om Ferdi dan malah nekat buat ngikutin Om Ferdi pergi. Jiya janji deh, lain kali nggak bakal kayak gini lagi," ujarnya terus terang yang hanya kubalas usapan sayang dipuncak kepala.
"Nggak papa, yang penting kamu baik-baik aja. Oh iya Ji, aku capek. Boleh nggak, aku mejamin mata sebentar dipundakmu?" balasku seraya meletakkan kepala di atas pundak Jiya.
"Boleh. Tapi Om, lebih baik kalau kita pulang dulu."
"Om Ferdi?"
__ADS_1
"Om?"
"Om Ferdi?!"