Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Punya Anak Kembar


__ADS_3

"Argh! Sakit, Om!"


Jiya mencengkram kuat tanganku saat perutnya melakukan kontraksi. Mungkin sudah dari semalam. Jiya menangis dan mengatakan jika perutnya begitu sakit.


Momi dan Mamah Vivi yang tahu jika itu salah satu bagian dari kontraksiĀ  sebelum melahirkan. Buru-buru memintaku untuk mengantar bocah rese itu ke rumah sakit. Karena bisa saja, Jiya akan melahirkan tak lama setelahnya.


Selama perjalanan mengantarkan Jiya dengan mobil pribadi. Kulihat Momi dan Mamah Vivi yang terus-menerus mendampingi Jiya tanpa ada niat untuk meninggalkan. Bahkan saat Jiya mulai menangis kembali, Momi juga ikut menangis juga tanpa sadar.


Mungkin pukul dua belas malam tepat, aku dan yang lain sampai di rumah sakit untuk mengantarkan Jiya ke dalam ruang bersalin.


Suara deritan brankar yang membawa Jiya, malam itu begitu memecah keheningan. Apalagi, saat dirinya kembali berteriak karena air ketubannya pecah. Membuatku merasakan juga rasa sesak yang dia rasakan.


Dengan berani aku pun meminta pada Momi dan dokter sebagai satu-satunya orang yang menemani Jiya di dalam ruang bersalin.


Tak berselang lama setelah Jiya masuk ke dalam ruang bersalin. Dokter kandungan pun datang. Dia mulai melakukan tugasnya saat Jiya merasakan kontraksi diperutnya makin menjadi-jadi.


Kulihat Jiya masih menangis tersedu-sedu dan mengeluhkan sakit pada perutnya. Membuatku yang melihatnya mencoba untuk mengusap-usap permukaan puncak kepalanya lembut seraya mengipasisnya dengan kipas tangan. Berharap jika hal yang kulakukan itu bisa sedikit membantu.


Hingga didetik berikutnya, kurasakan cengkeraman tangan Jiya menguat pada pergelangan tanganku. Sampai rasanya ada kuku-kuku jari Jiya yang menembus permukaan kulit hingga tak terasa mengeluarkan darah.


Saat itu pula, kudengar suara tangisan seorang bayi yang langsung membuatku tersenyum lebar.


"Selamat, Ji. Kamu udah berhasil jadi seorang Ibu." Aku berucap seraya menyeka tetesan air mata yang mengalir turun dari sudut mata Jiya.


"Alhamdulillah, Om." Jiya membalasnya masih dengan suara yang begitu lemas.


Namun, semuanya belum selesai sampai di situ saja. Karena tak lama kemudian, dokter kandungan itu kembali berteriak dan mengatakan kalau masih ada satu bayi lagi yang akan keluar.


Otomatis saja, hal itu membuat aku dan Jiya saling pandang. Karena kami tak mengira kalau akan dikaruniai dua orang anak sekaligus. Terutama anak kembar.


"Ayok Bu, tarik napas lagi. Pelan-pelan, kemudian lepaskan, yah. Satu, dua, tiga ..."

__ADS_1


"Argh!" teriak Jiya lagi-lagi mencengkram kuat tanganku.


Hanya beberapa menit saja namun rasanya juga tak kalah sakit dari tadi.


"Wah, selamat yah. Bapak dan ibu dikaruniai dua anak kembar laki-laki dan perempuan sekaligus," ujar si dokter dengan senyuman lebar diwajahnya.


Segera setelah melihat Jiya selesai melakukan persalinannya. Kupeluk erat tubuh istri kecilku itu, kemudian menyeka bulir-bulir keringat yang jatuh membasahi wajahnya dengan tanganku sendiri. Sebelum kemudian aku kecup dahi Jiya, saling bahagianya.


"Makasih, makasih banget karena udah kasih aku keturunan yang sehat dan juga kembar. Maaf yah, kalau selama ini aku belum jadi suami yang baik buat kamu. Tapi aku janji, ke depannya aku bakal jadi sosok suami serta Ayah yang bertanggung jawab buat mereka berdua."


Jiya yang mendengarku berkata seperti itu tak bisa lagi menahan isak tangisnya. Lagi-lagi dia menangis deras dalam pelukanku ini.


Setelah dokter memperbolehkan Momi dan Mamah Vivi masuk. Kemudian menemani Jiya. Aku lantas beranjak ke tempat tidur kedua anakku itu. Untuk berganti mengadzani mereka, supaya dapat mengenali siapa pencipta-Nya.


Keduanya tampak tenang dan tak serewel waktu pertama lahir. Mereka bahkan tersenyum saat mendengar lantunan bunyi-bunyi lafadz Allah yang kuperdengarkan.


Beberapa hari kemudian, Jiya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kemarin dia dirawat karena fisiknya cukup lemah. Hingga dokter menyarankan untuk opname selama beberapa hari di rumah sakit.


Namun, Mamah Vivi yang biasanya diam-diam saja dan menurut. Kini memulai protesnya juga. Mertuaku bilang, kalau sebaiknya Jiya pulang dulu ke rumahnya selama beberapa hari. Selain karena Mamah Vivi ibu kandung Jiya, dia juga orang yang paling tahu dan Jiya butuhkan untuk saat-saat seperti ini.


Sejenak aku dan Jiya, kembali saling pandang. Kemudian aku pun membuka suara dan menyetujui ucapan Mamah Vivi.


Bukan karena aku memihak satu belah pihak. Tapi, memang ini giliran menginap di rumah mertuaku itu.


Awalnya Momi tampak cemberut dan kesal. Namun di detik berikutnya dia lantas tersenyum setelah melihat senyuman dari wajah anak perempuanku itu.


"Nggak papa kali ini kamu nginap di rumah Jeng Vivi. Tapi, Momi harus jadi salah satu orang yang ngasih nama ke anak-anak kamu. Wajib dipakai juga, oke?" kata Momi menatap diriku tajam.


Aku hanya manggut-manggut saja. Lagian, kalau membantah malah akan tambah panjang urusannya. Ditambah lagi, aku belum juga tidur selama beberapa hari belakangan ini karena sibuk mengurus dan menemani Jiya.


"Oke."

__ADS_1


"Fer, Mamah juga mau usul nama loh. Dan wajib kamu pakai. Oke?" sahut Mamah Vivi ikut-ikutan kayak Momi.


Lagi-lagi aku mengangguk. "Oke. Kalau gitu kapan kita pulangnya nih? Ferdi udah ngantuk banget dan pengin istirahat."


"Iya bentar lagi nih, lagi nunggu jemputan Papi."


Sesampainya di rumah Mamah Vivi. Aku langsung rebahan saking lelahnya. Sampai tak sadar saat Jiya mengguncangkan bahuku untuk pindah ke sofa dulu. Habisnya si kembar akan Jiya letakkan di atas kasur dulu sampai tempat tidur mereka yang kami pesan datang.


Aku yang diusir begitu, langsung berjalan ke arah sofa panjang di dekat jendela dengan langkah lumayan sempoyongan. Kemudian kembali memejamkan mata, hingga tak tahu tertidur sampai jam berapa.


Bangun-bangun, aku mendengar suara tangisan dari si kembar. Dan saat kelopak mataku mulai terbuka perlahan. Aku baru sadar jika ini masih pagi buta.


Dengan perlahan, aku mulai beranjak dari atas sofa kemudian berjalan ke arah kasur di mana si kembar sedang menangis karena lampu kamar tiba-tiba padam.


Aku mencoba mencari ponsel pintarku untuk menyalakan senter sementara, seraya membangunkan Jiya yang masih tertidur lelap akibat kelelahan.


"Ji, Jiya?" panggilku pelan. Seraya menggendong kedua bayi kembari itu dalam gendongan.


Jujur saja, awalnya aku tidak yakin bisa melakukan ini. Namun, aku teringat gambar yang tak sengaja aku baca dibuku kehamilan Jiya waktu itu. Bagaimana cara menggendong bayi kembar yang baik dan benar. Dan alhasil beginilah jadinya. Satu ditangan sebelah kanan, dan satu lagi ditangan sebelah kiri. Untungnya mereka anteng-anteng saja setelah kugendong begini.


"I-iya Om, kenapa?" sahut Jiya akhirnya.


Note :


Ada bab dengan judul 'Lebih Sensitif' yang nggak sengaja ke dummy. Jujur aja aku udah hapus bab itu, tapi di sistem updet masih aja kebaca. Sempat heran dan khawatir juga takut kena pelanggaran. Tapi aku benar-benar udah hapus bab itu. Jadi untuk para pembaca maaf sekali, misalkan kalian merasa keganggu sama bab itu dan ngiranya aku sengaja updet bab yang sama. Sebagai contoh ini buktinya.



Harusnya setelah dihapus begitu, cuma di tampilan episode yang tertera masih ada dua bab yang sama.


Jujur aku benar-benar bekerja keras untuk hari ini dan updet 7 bab sekaligus. Bahkan aku cuma tidur 2 jam, itupun sebelum sahur. Jadi buat pembaca tolong hargai tulisanku ya, nggak cuma aku aja sih. Author lain juga, karena nulis itu perlu waktu hampir 2 jam lebih buat nyelesein 1 bab yang biasanya kalian baca. Terima kasih.

__ADS_1


~Leooo


__ADS_2