Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Punyaku, Titik!


__ADS_3

Hari kelulusan yang Jiya tunggu akhirnya tiba juga. Pagi-pagi buta, si bocah rese itu sudah heboh mirip anak TK yang mau pergi wisata keliling kota.


Jiya bahkan menyeretku yang baru tidur beberapa jam, untuk mandi. Belum lagi, setelah itu dia meminta Momi untuk mengantarkan ke sekolah jam 06.00 tepat.


Hadeh, nggak tahu aja dia. Kalau nyawaku masih mencar kemana-mana.


"Om Ferdi, buruan ih!"


Baru saja mau ngeluh, tiba-tiba udah diteriaki duluan dari lantai bawah. Cepetan sih cepetan, tapi jangan nyusahin orang lain juga dong. Batinku kesal.


"Lama amat sih dandannya, udah kayak ABG puber aja deh." Jiya mengejekku dengan bibir yang dicebikan.


Jangan lupa juga, dengan tatapan matanya yang tajam itu. Rasa-rasanya bisa menembus ke dalam tulang kalau kelamaan Jiya tatap tajam begitu.


"Bentar-bentar, kenapa hari ini Om Ferdi ganteng banget mirip Idol yang mau perform? Pake minyak wangi segala lagi, Om Ferdi nggak niat buat caper ke teman-teman Jiya, kan?" tanya Jiya mendadak penuh selidik.


Aku hanya mengembuskan napas berat sebagai balasan. "Aku udah ganteng dari lahir btw."


Melotot tajam beberapa detik, kulihat bocah rese itu langsung mengganti ekspresi mukanya menjadi pura-pura muntah. "Pedenya tolong dikondisikan, Om. Jiya enek nih, sampe mau muntah."


"Muntahin aja kalau nggak kuat, apa mau kubuat biar muntah tiap hari kamu?" godaku.


Si bocah rese itu langsung terdiam beberapa saat. "Maksudnya?"


Tersenyum tipis, aku langsung mendekatkan wajahku ke arah telinga Jiya. Kemudian berbisik pelan, "Buat anak, toh kamu udah lulus jadi nanti malam bisa'kan kita nganu."


Detik itu juga, jiya langsung mendorong wajahku menjauh dengan tangan kanannya. Lantas berteriak sekeras mungkin memanggil Momi yang sosoknya entah hilang kemana, sebelum berlari sejauh mungkin, menghindariku.


"Momi, Om Ferdi cabul!"


Aku yang melihatnya hanya bisa memegang ujung dahiku frustasi. Heran, dengan segala tingkah random Jiya yang kadang susah dinalar pakai otak manusia biasa.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan berdrama. Aku, Jiya, Momi dan Daddy akhirnya sampai juga di depan sekolah bocah rese itu.

__ADS_1


Kami sengaja memarkirkan mobil tak jauh dari gerbang depan, supaya bisa keluar dan pulang ke rumah cepat nanti.


Saat, Jiya mulai membuka pintu mobil dan keluar. Kulihat Nadin dan Sekar yang sudah menunggu bocah rese itu di depan gerbang, perlahan-lahan berjalan mendekat ke arah mobil ini.


Ketiganya tampak heboh, serta membahas sesuatu yang tidak aku tahu. Ah, mungkin selain beda angkatan. Umurku juga sangat berpengaruh di sini. Jadi nggak nyambung dengan pembahasan ketiga bocah itu.


Momi dan Daddy sendiri, sudah pergi duluan ke tempat yang memang sudah disediakan sekolah untuk semua wali murid. Lalu aku?


Aku masih duduk termenung di dalam mobil, seraya mengamati bocah rese itu yang terlihat sangat bersinar dari pada anak-anak lainnya.


Apalagi saat Jiya menyunggingkan senyumannya itu. Dia bahkan lebih cerah dari pada sinar matahari siang ini. Belum lagi, baju kebaya berwarna pink muda yang begitu pas ditubuh. Membuat dirinya lebih mencolok dari pada anak-anak lainnya.


Istri kecilku, terlihat seperti sekuntum bunga mawar yang tumbuh diantara bunga-bunga sepatu.


"Om Ferdi!" panggil Jiya tiba-tiba membuyarkan lamunanku ini.


Belum sempat kujawab, si bocah setan itu sudah lebih dulu menarik pergelangan tanganku paksa, untuk segera keluar dari mobil.


Kukira, Jiya akan mengajakku pergi ke tempat para wali murid berkumpul. Nyatanya, dia malah membawaku ke sebuah lorong yang ujungnya buntu. Kemudian ...


Jiya mendorong tubuhku secara paksa hingga membentur dinding. Salah satu tangan bocah itu, diletakkan di sisi kanan wajahku, untuk mengunci.


Jujur, ini membuatku teringat dengan salah satu drama Korea yang Momi tonton. Tentang, kisah cinta ala-ala remaja yang lumayan tsundere.


Hanya saja, karena tinggi tubuh kami yang lumayan ngejomplang. Membuatku tak kuat lagi untuk menahan tawa, apalagi saat kulihat kaki Jiya sedikit menjijit meskipun sudah mengenakkan heels tinggi, saat menyetarakan wajah kami.


"Kamu mau ngapain sih, tiba-tiba begini?" tanyaku sambil sesekali ketawa.


Kulihat, Jiya langsung merengut sebal kemudian meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Om Ferdi nyebelin!" teriaknya marah.


"Kok aku, emangnya masalah apa yang aku buat lagi, hm? Perasaan dari tadi aku di dalam mobil," ujarku menjelaskan.

__ADS_1


Si bocah rese itu makin menatapku tak suka. "Iya Om Ferdi cuma diem, tapi tetap aja bisa bikin Sekar sama Nadin meleyot."


Loh, loh? Meleyot, bahasa apa itu? Aku yang kudet apa emang kurang sosialisasi aja, jadi nggak tahu?


"Maksudnya, gimana?"


"Iih, kenapa sih nggak peka banget jadi orang tua. Jiya itu cemburu! Apa perlu Jiya eja satu-persatu?" katanya ngegas.


Aku berusaha untuk tidak tertawa. Bisa tambah runyam nanti.


"Terus kamu maunya apa? Biar nggak cemburu sama marah-marah?"


Kulihat Jiya menundukkan kepalanya beberapa saat, seperti tengah berpikir sesuatu. Lalu, di detik berikutnya. Bocah setan itu mendongakkan wajahnya sambil tersenyum ganjil.


"Cium, boleh nggak?" ucapnya yang membuatku berpikir berat.


Sebenarnya aku sih, fine-fine saja. Hanya saja, kalau melihat tempat dan situasinya. Aku merasa kurang pantas. Terlebih lagi ini masih disekolah. Dan lagi, walaupun status kami sudah sah, sebagai suami-istri. Tetap saja, melakukan hal begitu ditempat umum termasuk pilihan yang kurang tepat.


Toh, hidup ini tak semanis drama Korea. Jadi, jangan menganggap semua hal yang terjadi difilm bisa dilakukan secara nyata hanya karena nafsu sesaat.


Pelan, kupegang pundak bocah rese itu. Kemudian mengusapnya lembut, hingga sampai puncak kepalanya yang masih tersanggul rapi.


"Dengerin yah, waifu-ku yang unyu-unyu mirip penyu. Ciuman sama suami boleh, sah-sah aja dan nggak dilarang siapa-siapa. Tapi, harus tahu tempat dulu. Ibaratnya gini, kamu pakai baju juga ngumpet di dalam ruangan. Masa hal-hal begini mau dibuat tontonan sih, nggak etis tahu, Sayang." Aku berkata seraya mengunyel-unyel pipi Jiya.


Alih-alih kesal dengan kelakuanku, Jiya malah semakin tertawa lebar. Kemudian meletakkan kedua tangannya dimasing-masing sisi pinggangku. Membuat tubuh kami terlihat sedang berpelukan jika dilihat dari jauh.


"Ho-hoke, ha-hayang!" katanya, sedikit kurang jelas karena masih sibuk ku unyel-unyel.


Mungkin hampir dua jam lebih kami menunggu pengumuman kelulusan. Beruntungnya, setelah lama menunggu aku mendapat kabar yang menggembirakan. Terutama, Jiya.


Bocah rese yang kupikir nggak bakal dapat peringkat, malah menyabet juara pararel 1 seantero sekolah. Dengan nilai ujian yang begitu tinggi dan memuaskan. Membuat Momi dan Daddy seketika berteriak histeris ditempat mereka duduk masing-masing.


Cuma yang membuatku salah fokus, saat si bocah rese itu disuruh memberi sedikit kesan dan pesan ke atas mimbar. Bukannya, membahas tentang guru atau ujian. Jiya malah menyerukan namaku dengan lantang sebagai pidato penutupan.

__ADS_1


"Om Ferdi itu punya Jiya. Titik!"


__ADS_2