Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Ngidam Mangga Muda


__ADS_3

"Dedek bayi bilang, dia pengin mangga muda. Tapi harus punyanya Mang Yudi. Om Ferdi tahukan, pohon mangga manalagi yang ada di ujung perempatan. Nah, dedek bayi ngidam mangga itu," kata Jiya tanpa dosa.


Aku langsung melotot seketika. "Harus yang itu?"


"Iya."


"Malam ini juga?" tanyaku lagi, harap-harap cemas.


Yang membuat Jiya mendelik tajam ke arahku. "Ya iyalah Om, kan Jiya ngidamnya sekarang. Masa diturutinya besok. Emang mau,  anak kita ngeces terus, huh?"


Aku yang diancam begitu, kontan menggeleng cepat. Yah, siapa mau anaknya pas lahir keliatan nggak wajar, cuma karena pas nyidam nggak dituruti. Amit-amit jabang bayi pokoknya, mah. Kalau bisa, semoga aja anakku sehat walafiat seterusnya.


"Nggaklah!" balasku rada ngegas.


Kulihat Jiya tersenyum puas. Lantas mendekatkan wajahnya ke arah mukaku, untuk membisikan sesuatu.


"Kalau gitu tunggu apa lagi, buruan!" intruksinya, yang tak bisa kutolak saat itu juga.


Dan seperti ini. Aku berakhir di depan pintu kamar yang sudah Jiya tutup dengan kencang, hingga menimbulkan suara dentuman cukup keras. Tak lupa, dia juga mengancam diriku, jika malam ini tak bisa mendapatkan mangga manalagi miliknya Mang Yudi.


Nasib-nasib, kenapa pas di rumah aku langsung jadi suami takut istri, sih?


Hari ini memang jadwalnya aku menginap di rumah Momi. Tapi, aku tak habis pikir Jiya bakalan ngidam mangganya Mang Yudi. Sudah begitu dia menyuruhku untuk memetiknya malam ini juga. Hadeh.


Dengan langkah berat, aku berjalan keluar rumah lesu. Yang tak kusangka akan menarik perhatian Pak Tarno yang malam ini kedapatan shift jaga malam.

__ADS_1


"Loh, Den. Kenapa malam-malam gini keluar rumah? Mau cari makan lagi yah,  kayak waktu itu?" tanyanya, yang kontan membuatku mendongakkan kepala. Untuk melihat ke arahnya yang masih stand by di pos jaga, dekat gerbang rumahku.


"Nggak Pak, malahan saya mau cari mangga." Aku membalas seadanya, yang ditanggapi Pak Tarno dengan kekehan.


Mungkin dia pikir kalau aku sedang bercanda.


"Den Ferdi mah, bisa aja cari jokes receh ala bapak-bapak. Garing sih, tapi cukup buat  menghibur saya."


Nah, kan. Beneran dikira lagi ngasih lawakan. Padahal aku serius banget loh, ini. Memangnya, tampangku ini masih belum bisa menjelaskan situasinya? Kalau aku lagi kesel pake BGT.


Hanya saja, aku menanggapi perkataan Pak Tarno tadi guyon juga. Jadi tak terlalu aku ambil pusing.


Setelah berbincang sebentar dengan Pak Tarno, aku pun mulai pergi menaiki sepeda gunungku ke perempatan di ujung kompleks tempat Momi tinggal ini. Tepatnya ke sebuah rumah bercat biru telor asin, yang di bagian kirinya ada sebuah pohon mangga manalagi besar dan tinggi menjulang.


Pohon mangga yang sudah menjadi saksi bisu diriku, dari kecil hingga dewasa seperti sekarang ini. Yang dulu sering kupanjat bersama teman-teman seumuranku selepas pulang ngaji. Tentu saja, secara diam-diam.


"Jadi inget zaman dulu, tiap ada yang buahnya lebat begini. Pasti nggak bakalan tahan selama seminggu," lanjutku lagi, masih bermonolog.


Untuk sejenak kuamati sekeliling. Mencari-cari sebuah pijakan atau sesuatu yang bisa membantuku untuk naik ke atas sana. Habisnya rumah Mang Yudi sudah lama sekali tak dihuni.


Banyak yang bilang beliau pindah karena ada urusan bisnis diluar negeri. Namun sampai detik ini, belum juga ada tanda-tanda batang hidungnya kembali.


Karena hal itu pula, ada rumor yang beredar dikalangan masyarakat kalau rumah Mang Yudi jadi angker. Sebab, sudah kosong selama bertahun-tahun lamanya. Meskipun, masih dialiri arus listrik.


Sayangnya, aku tak menemukan apapun setelah berulang kali mencari sesuatu yang bisa membantuku untuk naik ke atas tembok. Kemudian memetik buah mangga yang berada tepat di dekat tembok itu.

__ADS_1


Oleh karena itu, kuputuskan untuk memanjat tembok dengan kemampuan yang kubisa. Awalnya cukup sulit, apalagi aku sudah lama sekali tak melakukan olahraga. Rasanya seperti otot-otot tanganku ditarik paksa saat itu juga.


Untung saja, aku masih mampu melakukannya. Jadi setelah memanjat tembok, aku langsung mengambil beberapa mangga yang masih muda di atas pohon dengan mulut yang tak berhenti merapal doa.


Berharap jika sedang memetik mangga malam-malam begini. Tak menerima gangguan, serta halangan apapun.


Dirasa sudah cukup mengambil buah mangga manalagi. Aku pun memutuskan untuk turun kembali ke bawah sana. Tepat dimana sepeda gunungku sedang terparkir itu.


Namun karena tak hati-hati saat turun. Kakiku malah terpeleset yang alhasil membuatku jatuh ke atas tanah dengan tak manusiawinya.


Saat itu juga aku ingin berteriak saking emosinya. Apalagi apes begini karena harus jatuh dari atas pohon yang tingginya lumayan juga.


Dan semua ini kulakukan demi Jiya sekaligus buah hatiku yang belum lahir. Yah, walupun harus menderita begini, hingga berjalan pun terasa sulit. Namun, aku cukup senang karena bisa memenuhi keinginan ngidamnya istriku.


Dengan langkah terseok-seok, aku pulang ke rumah mirip seperti seorang gembel. Membuat Pak Tarno yang melihat dan mengira diriku ini seorang  pengemis yang ingin meminta-minta pada jam-jam untuk istirahat ini, langsung berteriak dari pos jaganya.


"Mohon maaf Mas, di rumah ini tidak menerima pengemis dijam-jam segin-" kata-katanya terhenti setelah melihat ke arahku.


"Loh, Den Ferdi? Kenapa jadi mirip gembel begini? Terus Den Ferdi dapat mangga dari mana?" tanyanya beruntun yang malas kujawab.


Alih-alih membalas, aku cuma tersenyum seadanya. Sebelum kembali masuk ke rumah untuk membersihkan diri yang tadi jatuh di dalam kubangan air.


Aku mengetuk  pintu kamar pelan, berharap kalau bocah rese itu belum tidur gc. Terlebih lagi setelah mandi begini, aku jadi makin ingin cepat-cepat bergumul dibalik selimutku.


Naasnya aku tak mendapat jawaban apapun, selain dari knop pintu yang rupanya tak dikunci selama ini. Huft, saking paniknya beberapa menit yang lalu, aku sampai tak menyadarinya.

__ADS_1


Sedangkan Jiya, setelah aku berhasil masuk yang dalam kamar. Bocah rese itu malahan tidur nyenyak sembari memeluk guling bergambar wajah Kim Taehyung yang dia bawa dari rumah Mamah Vivi dengan erat.


"Huft, Jiya, Jiya. Bisa-bisanya, suami banting tulang dan kerja keras bela-belain cariin kamu mangga, sampai dikatai mirip gembel begini. Kamunya malah udah tidur lelap duluan, entah sampai kemana? Sedangkan aku harus sampai segininya demi dua buah mangga manalagi, yang kamu minta dengan alasan ngidam." Aku bermonolog sembari membenarkan selimut Jiya yang melorot.


__ADS_2