Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Pelangi?


__ADS_3

"Lo nggak bisa tidur lagi?" tanya Aaron, sesaat setelah dia melihatku masuk ke lobi perusahaan.


"Hm," balasku singkat sambil berlalu.


Namun, diam-diam Aaron mengikuti langkah kakiku dari belakang. Rupanya pria itu mengejarku untuk memberikan sebuah berkas penting yang tadi dia bawa ditangan.


"Sebentar, ada yang mau gue omongin."


Mendengar permintaan Aaron. Aku lantas menghentikan langkah kakiku. Kemudian, menghadap dirinya yang kini sudah berdiri tepat di depan tubuhku.


"Apa?"


"Jutek banget sih lo, Fer. Untung aja sohib sendiri. Nih, gue mau nganterin berkas yang tadi Gisel titipin." Aaron berkata seraya menyodorkan berkas berwarna kuning itu kepadaku.


"Kenapa bukan dia yang nganter?"


Kulihat Aaron mendengus sebal dengan bibir yang tercebik. "Lo lupa apa pikun? Bukannya kemarin lo abis marahin dia gara-gara tanya-tanya terus soal kehidupan pribadi lo."


"Siapa suruh dia tanya hal yang nggak perlu. Lagian di sini dia gue gaji bukan buat kepo, tapi buat kerja jadi sekertaris gue," balasku sengit.


Aaron menatap sinis ke arahku. "Apa gara-gara dia, lo jadi gini? Lo tahu nggak, lo kayak bukan Ferdi yang gue kenal dulu."


Ada nada getir di dalam suara Aaron. Yang kubalas dengan kekehan ringan namun menohok. "Gue tahu, dan jangan lupa. Lo juga salah satu orang yang buat gue kayak gini, Ron."


Setelah itu, aku langsung pergi meninggalkan Aaron yang cukup tersentak mendengar penjelasanku tadi.


Berjalan melewati koridor perusahaan yang mulai ramai, kemudian masuk ke dalam ruanganku dengan pintu yang dibanting cukup keras.

__ADS_1


Samar-samar, aku mendengar percakapan beberapa karyawan di luar ruangan. Yang merasa kalau aku benar-benar menjadi sosok yang lebih dingin dan kejam. Dan lagi, mungkin sudah ada beberapa karyawan yang memilih untuk mengundurkan diri selama kurun waktu dua tahun belakangan ini.


Kujatuhkan diriku di atas sofa tamu. Lantas, kubuka berkas yang Aaron berikan tadi. Rupanya, berkas itu berisi tentang undangan untuk para direktur maupun CEO perusahaan yang bergerak dalam industri minuman maupun makanan untuk hadir di acara tahunan.


Yah, semacam pertemuan khusus para petinggi grup untuk membahas atau sekadar sharing tentang produk perusahaan mereka masing-masing.


Menarik sih, hanya saja aku lumayan enggan untuk hadir. Apalagi, pertemuan ini mengharuskan diriku bertemu dengan salah satu owner produk minuman yang kini tengah Hits dikalangan anak muda.


Sebuah produk minuman jelly susu yang akhir-akhir ini cukup menjadi pesaing paling dominan dalam usahaku. Namun, jika aku tidak hadir. Aku tidak akan tahu, siapa owner grup itu.


Jadilah, kuputuskan untuk menghadiri pertemuan itu dengan Gisel. Meskipun, aku merasa kondisi tubuhku kurang fit karena terkena gangguan tidur, insomnia. Tapi, aku akan tetap datang ke sana.


Tak kuduga, hari pertemuan itu pun tiba juga. Aku dan Gisel sudah berangkat dari jam 2 siang. Karena tertera diundangan kalau acaranya akan dimulai sekitar pukul setengah tiga sore sampai selesai.


Kami menuju sebuah hotel bintang lima yang memang sudah di sewa untuk pertemuan penting ini. Hal itu, bisa dilihat dari banyaknya orang yang sudah berkumpul di depan area hotel dan menunggu antrian untuk masuk ke dalam lift, karena acara ini diadakan di lantai 5.


Seorang wanita dengan rambut tergerai yang sedikit bergelombang, memaksa masuk ke dalam. Membuat, orang-orang dibagian belakang makin terdesak. Tak terkecuali aku yang berdiri tepat dibelakang tubuhnya. Lalu tak lama setelah itu, lift pun mulai naik.


Saat di dalam lift, kudengar beberapa orang berbisik tentang sosok wanita yang berdiri di depan diriku ini. Mereka mengatakan kalau dia benar-benar tak tahu malu serta tak sabaran. Namun, bukanya kehilangan muka atau merasa terintimidasi.


Wanita yang berdiri di depanku itu malah terkekeh ringan. Lantas mengibaskan rambutnya sedikit kebelakang, yang kontan saja mengenai wajahku. Karena berdiri tepat dibelakangnya.


"Hey, apa kau tahu istilah waktu adalah uang? Jika iya, kau tak akan mau membuang-buang waktu sedetikpun untuk hal penting. Lagi pula aku tak merugikan dirimu. Jadi diamlah, bicth!"


Cukup mengejutkan untuk sosoknya yang sedikit anggun. Aku bahkan tak menduga, dia akan membalas perkataan mereka dengan begitu beraninya.


Hanya saja, berkat kibasan rambutnya yang tadi mengenai wajahku. Aku dibuat menundukkan kepala sedikit, untuk mengusap mata yang sedikit perih.

__ADS_1


Sayangnya, disaat aku melakukan hal itu. Tiba-tiba terjadi guncangan di dalam lift yang membuatku reflek memegang bagian pinggangnya dan tak sengaja mencium bagian atas tengkuk milik wanita itu.


Anehnya, saat pangkal hidungku mengendus aroma tubuhnya. Aku menemukan sesuatu yang seperti tidak asing. Selain, membuatku nyaman, akupun merasa mengantuk untuk beberapa saat.


Tring!


Tepat, saat aku membuka mata. Pintu lift terbuka, yang kontan saja membuat orang-orang bergegas untuk keluar. Meskipun mereka menatap diriku aneh karena masih diposisi memeluk pinggang wanita asing kuat. Sampai, saat Gisel bergegas untuk menghampiri diriku.


Kurasakan sebuah tamparan keras mendarat di atas permukaan pipi sebelah kiri. Yang tentu saja, membuat Gisel melongo ditempat, karena menyaksikan diriku ditampar begini, oleh seorang wanita asing.


"Dasar pria cabul!" makinya tepat di depan wajahku.


Wanita itu bahkan menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya, saking kesalnya.


"Tu-tunggu, Anda pasti salah paham. Bos saya mana mungkin melakukan hal kurang ajar pada Anda," sergah Gisel cepat. Mencoba membantuku untuk keluar dari permasalahan pelik ini.


"Salah paham? Jelas-jelas tadi dia mengendus tengkuk dan memeluk pinggang saya erat dari belakang. Apa hal itu bisa dibilang modus? Bukankah itu lebih mirip dengan kesempatan dalam kesempitan?" jelasnya kembali.


Yang kini membuat Gisel mengusap wajahnya kasar, sembari melihat ke arah wajahku sekilas.


"Yah, bisa saja itu ketidaksengajaan. Dan lagi, Anda tak perlu khawatir soal ini, karena Bos saya itu, gay."


Benar-benar jawaban yang nice banget. Sampai-sampai aku ingin menyeret tubuh Gisel ke kandang macan. Mana bisa, dia seenteng itu bilang kalau aku ini, pelangi?


Parahnya lagi, wanita asing yang tak aku ketahui indentitasnya itu. Memundurkan langkahnya sedikit kebelakang, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan tangan yang bersedekap di depan dada.


Selain itu, dia juga menatap wajahku dari balik kacamata hitamnya dengan senyuman misterius yang terpatri di bibir merahnya.

__ADS_1


"Oh, seorang pelangi toh. Pantas saja, mukanya tak kalah cantik dari seorang wanita. Jangan-jangan dia ke sini untuk mencari mangsa?" ucapnya, sebelum berlalu meninggalkan diriku yang masih menatap punggungnya dengan tangan terkepal.


__ADS_2