
Sindrome Couvade?
Huft, gara-gara didiagnosa menderita sindrome itu, aku serasa memikul beban yang sangat berat dipundak.
Tak tanggung-tanggung, kehidupanku yang adem-ayem tanpa kegelisahan. Langsung berubah total menjadi ngenes.
Bahkan Momi yang mengetahuinya, malah menertawakan diriku habis-habisan seraya menepuk-nepuk sofa ruang keluarga bersama Jiya.
Bukankah ini benar-benar miris? Harga diriku sebagai seorang pria berimage cool serta tak tersentuh langsung anjlok dan dihantam dengan kenyataan yang pahit.
Semprul! Lagi-lagi, aku terbully oleh dua makhluk cantik itu.
"Ada-ada aja kamu, Fer! Kena sindrome kok sindrome orang ngidam. Siap-siap aja, kamu mules dan blingsatan waktu mau lahiran," celetuk Momi, seperti tengah mendoakan keapesan lain padaku.
"Momi ngeledek, apa doain anak sendiri yang bukan-bukan, nih?" balasku sewot.
Kulihat Momi masih saja tertawa terpingkal-pingkal, hingga tak sadar sudah mengeluarkan air di sudut matanya.
Sedangkan Jiya, dia sudah menghilang lebih dulu, entah kemana.
"Mana ada orang tua yang ngedoain hal buruk ke anaknya. Lagian, Momi ngomongin soal fakta, kok. Saking sakit sama mulesnya, rasanya kayak diujung tanduk, antara hidup dan mati." Momi membalas dengan mata yang melotot tajam ke arahku, mengancam.
Membuatku sedikit bergidik ngeri, saat mendengar penjelasannya barusan.
Seram banget ternyata, pantes aja Daddy pernah bilang, kalau sewaktu Momi ngelahirin aku dulu. Kemeja kesayangan Daddy jadi korban, gara-gara ditarik sekencang-kencangnya sampai sobek.
Kira-kira, kalau Jiya besok lahiran. Dia bakal buat keributan apa, yah? Pokoknya, jangan sampai deh, si bocah rese itu merusak properti rumah sakit.
Bisa-bisa, tekor aku. Kalau disuruh ganti.
"Heh, kamu mikirin apa? Buruan sana mandi, biar muka cucu Momi ganteng kayak dewa Yunani."
Aku yang mendengar Momi ngomong begitu hanya terkekeh pelan, lantas segera beranjak pergi untuk menuju lantai dua.
__ADS_1
Tak terasa, malam hari pun tiba. Aku yang belum ngantuk dan sedang Pe-We rebahan, sambil nyender ke kepala ranjang, mendadak pengin banget makan mie ayam.
Gara-gara nggak sengaja ngeliat Tanboy Kun mukbang samyang di shorts YouTube. Nggak tahu kenapa, pas ngeliat dia makan lahap banget, aku jadi ngiler abis-abisan. Sampai repot-repot ngebangunin Jiya yang udah tidur disebelahku buat nyariin penjual mie.
"Yang, Yang." Aku memanggil pelan, seraya mengguncang-guncang kecil punggung Jiya.
Berharap, kalau si bocah rese itu langsung membuka mata lebar dan terbangun seketika. Sayangnya, Jiya malah semakin meringkuk dalam. Seraya menarik selimut bergambar wajah Kim Taehyung itu tinggi-tinggi, sampai menutupi kepalanya sendiri. Seolah-olah, enggan untuk membuka mata.
"Ji, Ji!" panggilku kembali, dengan nada bicara naik beberapa oktaf.
Yang tak mendapat sahutan apapun dari si bocah rese itu. Jiya benar-benar terlelap dalam dan tak menghiraukan diriku ini.
Sedikit kecewa, akhirnya kuputuskan untuk keluar mencari makan sendiri. Tanpa mengganti pakaian yang masih melekat ditubuhku ini.
Sesampainya di garasi, segera ku keluarkan sepeda lipatku. Lantas kusuruh Pak Tarno untuk membuka gerbang depan supaya bisa keluar.
"Mau kemana Den, malem-malem begini?" tanya Pak Tarno, yang melihatku menggowes sepeda dari teras depan, menuju gerbang.
Pak Tarno terlihat tertawa sebelum menjawab, "Nggak atuh, Den. Soalnya udah tanggal tua, jadi harus hemat. Cuma kalau dibayarin, saya mah, mau-mau aja, hehehe ..."
Lah, namanya juga gratis siapa yang nggak mau coba? Apalagi kalau udah ada embel-embel, 'rezeki nih nggak baik buat ditolak.'
Kayaknya hampir semua orang bakalan punya pemikiran yang sama dengan, Pak Tarno.
"Hehe ... Gitu yah, Pak? Ya udah saya duluan yah, jangan lupa gerbangnya ditutup lagi," ingatku yang langsung dibalas dengan gerakan siap serta hormat Pak Tarno.
Berhubung sudah hampir jam sebelas lebih, beberapa pedagang yang tak jauh dari kompleks perumahan Momi. Tak terlihat lagi berjualan. Kebanyakan dari mereka sudah tutup sejak pukul 20.00 malam.
Aku yang tak kunjung menemukan makanan yang kucari. Akhirnya memutuskan untuk melipir saja ke warung angkringan yang dulu pernah kusinggahi dengan Jiya. Saat awal-awal masa pernikahan.
Soalnya hanya ada satu-satunya warung angkringan itu saja yang masih buka dan ramai dengan pengunjung. Saking ramainya, aku juga tak kebagian tempat untuk duduk menunggu pesanan.
Kalau tadi, saat di rumah aku pengin banget makan mie ayam. Setelah sampai di tempat ini, aku malah pengin makan semua jenis persatean yang ada. Sekaligus, memesan wedang jahe ronde untuk menghangatkan suhu tubuh.
__ADS_1
Mungkin, sekitar lima belas menit menunggu. Akhirnya pesananku datang juga. Aku yang melihat segala jenis persatean dan nasi kucing tersedia di depanku. Kini mulai silap mata.
Dengan perasaan senang yang membucah, kugigit satu-persatu sate itu dengan begitu lahapnya. Seolah-olah, semua makanan enak yang ku miliki ini akan hilang begitu saja, saat itu juga.
Beberapa pengunjung yang melihatku makan dengan begitu lahapnya hanya bisa melongo. Mau heran, mungkin. Cuma hanya bisa diam saja, karena melihat penampilanku yang tampan ini.
Bukannya ada istilah begini, orang ganteng mah, bebas. Dan aku merasa jadi salah satu bagian dari orang yang tampan di muka bumi ini.
"Eum, misi Mas." Kurasa seseorang menepuk pundak kiriku pelan.
Yang kontan membuatku langsung menolehkan kepala ke arahnya seketika. "Ya?"
"Bisa saya minta nomor WhatsApp-nya? Soalnya, Mas ini ganteng mirip oppa-oppa Korea versi lokal hehe ..." ujar seorang cewek yang kelihatanya berumur 25-26 tahunan itu.
Aku yang mendengar ucapannya tadi, hanya membalas dengan senyuman tipis. Kemudian mengangguk pelan, seraya mengetikkan beberapa digit angka di atas layar ponselnya.
"Udah," balasku sopan.
Si cewek itu tampak tak bisa lagi membendung ekspresi senang diwajahnya. Dengan senyuman yang mengembang lebar, dia lantas berlalu, meninggalkan diriku yang melihatnya dengan sorot mata begitu puas akan sesuatu.
"Siap-siap aja kamu, Ji. Malam ini dapat spam chat wkwkwk ..."
Sesampainya di rumah, aku memberikan beberapa nasi kucing, lengkap dengan gorengan serta wedang jahe ke Pak Tarno.
Seperti yang sudah ku duga sebelumnya, Pak Tarno begitu senang sekali menerima makanan itu, serta tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padaku.
Aku sendiri tak banyak menanggapinya, dan terus melangkah menuju ke dalam rumah. Menaiki anak tangga ke atas lantai dua.
Betapa terkejutnya aku, saat mendapati sosok Jiya yang sudah berdiri dibelakang pintu dengan tangan kanan yang memegang knop pintu.
Selain itu, sorot matanya begitu tajam serta menusuk. Seolah-olah, menyiratkan kalau si bocah rese itu tengah memendam rasa kesal yang menumpuk-numpuk.
"Om Ferdi, bisa jelasin apa maksud pesan singkat ini?" kata Jiya, seraya menyodorkan pesan whatsapp tepat di depan wajahku.
__ADS_1