
Setelah kejadian tadi malam yang membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak. Alhasil, pagi ini pun aku masih merasa lesu.
Mungkin sudah berulang kali aku menguap, sembari mengucek-ngucek mataku yang berair ini. Menolehkan kepala ke kanan-kiri, mencari sosok Jiya yang tiba-tiba menghilang diantara ribuan orang-orang.
Bukan tanpa alasan, aku dan Jiya sudah pergi pagi-pagi sekali, serta berbaur dengan ribuan penggemar yang lain. Hanya saja, ini gara-gara Kevin yang tiba-tiba mengirimkan pesan whatsapp kalau konser boyband yang bocah rese itu suka, ternyata diadakan hari ini. Sehari setelah aku sampai di Korea.
Dan itu di Busan. Jadi, aku yang mendapat pesan Kevin sekitar pukul tiga pagi, langsung memesan tiket pesawat ke Busan beberapa jam setelahnya. Demi istriku tercinta, dan demi menonton konser ini.
Pokoknya, selagi Jiya bahagia. Pasti ada aku yang selalu berkorban, entah waktu maupun uang untuknya.
Bukankah, aku ini benar-benar suami idaman?
Yah, terkadang memuji diri sendiri itu perlu. Selain untuk love myself, bisa juga untuk meningkatkan rasa percaya diri.
Hanya saja, berdiri serta menuggu diantara ribuan orang yang mengantri untuk masuk ke dalam satu ruangan, itu benar-benar hal baru bagiku. Sekaligus, cukup menguras tenaga.
Berbeda denganku yang mulai bosan, kulihat Jiya yang sudah kembali dengan spanduk bertuliskan Hangul, entah tulisannya apa. Tersenyum cerah.
Saking cerahnya, mataku merasa silau jika menatap pancaran wajah Jiya lama-lama.
"Om Ferdi, gimana? Seru, nggak?" tanya Jiya gembira.
Aku hanya memasang senyum cerah ala-ala iklan pasta gigi. Padahal dalam hati mengumpat begini.
'Nggak, rasanya aku pengin cepat pulang. Rebahan atau sekadar guling-guling di atas kasur, sambil scroll video tiktok seharian. Aish, di sini panas banget. Udah kayak simulasi kumpul di Padang Mahsyar aja, serius.'
Tentunya itu cuma isi hatiku saja. Karena di dunia nyata, aku lebih memilih untuk mengalah pada Jiya. Yah, anggap saja sekali-kali, aku mencoba mengikuti hobi si bocah rese itu.
Ditengah-tengah ribuan orang itu, tiba-tiba aku merasakan pundakku ditepuk dari belakang, pelan. Yang kontan saja, membuat kepalaku reflek menoleh ke belakang.
"Excuse me, are you an idol?" tanya seorang gadis, yang aku yakini jika dia warga asli Korea.
Itu terlihat dari kedua matanya yang sipit, dan juga kulitnya yang putih. Selain itu, aku menilai juga dari gaya bahasanya yang belum terlalu fasih menggunakan bahasa Inggris.
"Sorry, you have the wrong person. I'm just a male fan," balasku yang membuat gadis itu menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Kaget.
Jiya yang melihat hal itu, buru-buru meraih lengan tangan kiriku. Untuk dia peluk erat-erat.
__ADS_1
"Jangan ganjen, Jiya tahu kok, kalau Om Ferdi itu ganteng," bisiknya pelan. Dengan nada kesal yang tak bisa bocah rese itu sembunyikan.
Aku sendiri langsung mengangguk, sebagai balasan kata-kata Jiya barusan.
Lebih dari setengah jam menunggu. Akhirnya, sampai juga digiliranku dan Jiya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Tepatnya sebuah stadion bola yang sudah disewa untuk konser beberapa hari ke depan.
Dan karena ada the power of orang dalam, aku dan Jiya pun berhasil mendapatkan tempat VIP untuk menonton konser itu. Kami mendapat kursi di bagian depan, serta lebih dekat dengan panggung. Yang otomatis, membuat aku dan Jiya bisa melihat muka-muka idol itu lebih dekat, jika dibandingkan dengan penggemar yang mendapat kursi di lantai atas untuk menonton.
Jiya yang sudah tidak sabar saat melihat video pembuka konser itu dimulai. Mulai berteriak heboh seperti penggemar lain, membuatku langsung menutupi kedua telingaku sendiri, saat teriakan semua orang memenuhi seluruh ruangan yang berubah gelap. Dengan lampu sorot yang mengarah ke atas panggung.
Choi Soobin~
Choi Yeonjun~
Choi Beomgyu~
Kang Taehyun~
Huaningkai~
Arghhh!
Gila! Kupingku rasanya mau pecah. Sudah begitu, aku yang umurnya jauh di atas mereka mulai kehilangan daya karena tenaga yang lebih banyak tersedot untuk berdiri ini.
Dasar kau Fer, om-om jompo! Berdiri lama saja, sudah nggak sekuat dulu. Malu eh, sama Jiya yang notebene masih bocah.
"Ji, ini kapan mulainya, yah? Kok dari tadi mereka teriak-teriak nggak ada tanda-tanda artisnya bakal keluar?" tanyaku seraya menutupi telinga dengan kedua tangan.
Antisipasi, jika mendengar suara teriakan yang lebih memekakkan telinga, seperti tadi.
"Hah? Apa, Om? Suara Om Ferdi nggak jelas, nih!" balas Jiya ha-ho-ha-ho mirip angsa.
Aku langsung menepuk jidat frustasi. Merasa percuma kalau mengajak bicara bocah rese itu di saat-saat seperti ini.
Kayaknya, cuma masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.
"Om Ferdi, ngomong apa? Jiya beneran nggak denger, suer!" ujar Jiya, dengan jari tangan terangkat, membentuk pose peace.
__ADS_1
"Nggak jadi, nggak bakal kedengaran juga. Lagian, di sini nggak cuma kita aja." Aku membalas lagi, dengan suara sedikit ngegas supaya bisa didengar oleh Jiya.
"Oke!"
Tak lama setelah Jiya menjawab. Musik tiba-tiba terdengar mengalun. Bersamaan dengan munculnya, lima orang pria yang mulai menari-nari di atas panggung dengan begitu lihainya.
Aku sendiri yang seorang pria sejati, sempat terhipnotis beberapa saat, tatkala melihat tarian mereka yang begitu tegas serta penuh semangat.
Sugar rush-ush, sugar rush-ush~
Sugar rush-ush, sugar rush-ush ah~
Gimme, gimme more~
Gimme, gimme more~
"Huwa, Om Ferdi! Itu, tuh, yang namanya Yeonjun!" teriak Jiya histeris seraya menunjuk salah seorang pria berambut hitam yang menjadi center tari.
"Ganteng, kan? Kan!" seru Jiya, seolah-olah memintaku untuk segera menjawab iya.
Alih-alih menjawab, aku cuma mengangguk pelan. Mau disangkal gimanapun, dia memang ganteng kok. Pantes aja, biniku bisa kepincut. Oke, Yeonjun. Aku tandain kamu, setelah Taehyung.
Aish, sainganku banyak juga ternyata buat menaklukkan hati Jiya.
Konser berlangsung kurang lebih sekitar 2 jam-an. Yang ditutup, dengan kata-kata dari masing-masing anggota TXT. Semacam, kesan dan pesan serta ucapan terima kasih karena telah menonton konser mereka, gitu.
Setelahnya, tirai dipanggung perlahan-lahan mulai turun yang menandakan jika konser hari ini telah selesai.
Aku yang melihat tirai itu turun. Langsung mengucap syukur di dalam hati. Merasa gembira saat konsernya telah usai. Namun, ekspetasiku langsung dipatahkan saat mendengar Jiya berucap.
"Huft, day-1 kelar. Besok waktu day-2, Jiya harus paling keras teriak, biar dinotice sama Yeonjun!" monolog bocah rese itu yang masih bisa kudengar.
Tak disangka, konser yang kukira udah kelar, ternyata baru berjalan di hari pertamanya. Kalau begitu, aku harus siap-siap gempor nih, buat dua hari kedepan, nemenin Jiya.
Note :
Untuk bab ke depannya tolong kebijakan pembaca yah, buat yang masih dibawah umur.
__ADS_1