
Tak terasa, seminggu telah berlalu dengan begitu cepatnya. Patah tulang rusukku juga sudah lebih baik dan tak lagi perlu memakai perban segala.
Selain itu, aku juga sudah punya janji dengan Jiya untuk mengajaknya pergi berlibur serta melihat konser di Korea.
Awalnya, Momi, Daddy dan juga Mamah Vivi serta Papi melarang keras kepergian kami. Hanya saja, berkat rayuan maut Jiya, mereka semua akhirnya menyetujuinya. Dengan syarat, harus memanfaatkan waktu itu untuk membuat momongan sebaik mungkin.
Yah, keempatnya memang menginginkan cucu secepat mungkin. Selain itu, karena tiket penerbangan pesawat Papi ke Ubud, Bali waktu itu telah hangus. Beliau pun menggantinya dengan membiayai perjalanan kami ke Korea secara gratis.
Berhubung, waktu tempuh ke kota Jeju dari Jakarta dengan menggunakan pesawat, sekitar 12 jam lebih 15 menit. Aku dan Jiya memutuskan untuk berangkat ke Bandara saat pagi-pagi buta, supaya saat sampai di Jeju kami bisa istirahat terlebih dahulu sebelum pergi jalan-jalan.
Ada dua tempat yang kami ingin kunjungi selain pantai. Yakni, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO Seongsan Ilchulbong dan juga Gunung Hallasan.
Seongsan Ilchulbong sendiri adalah sebuah tempat yang banyak dikunjungi oleh orang-orang, untuk melihat keindahan matahari saat terbit di pagi hari. Tak heran jika tempat ini sering dikenal dengan, Sunrise Peak.
Tempat ini sendiri, merupakan gunung berapi tidak aktif. Dan kebetulannya aku serta Jiya mengunjungi tempat ini pada musim semi. Jadi, kami bisa juga menikmati padang bunga kuning rapeseed, yang begitu indah serta memanjakan mata.
Untuk tempat kedua, yakni Gunung Hallasan aku dan Jiya berniat untuk melakukan tek tok. Yaitu, mendaki di pagi hari kemudian turun saat senja tiba. Atau mungkin kita bisa menginap selama semalam di atas puncaknya. Apalagi, tempat itu terkenal memiliki lebih dari 6000 spesies flora dan fauna. Hmm, bisa buat healing nih hehe ...
Penerbangan cukup berjalan lancar. Meskipun Jiya sempat mabuk perjalanan beberapa kali. Bahkan sampai muntah di atas pakaianku. Aku tetap harus memasang wajah happy kiwoyo dong. Terlebih lagi, ini perjalanan liburan kami berdua. Ralat, kayaknya lebih tepat untuk disebut honeymoon, deh.
Aku dan Jiya sampai di bandara Internasional Jeju sekitar pukul 07.00 pagi. Setelah itu, kami berdua segera memesan taxi untuk pergi mencari penginapan. Tepatnya ke sebuah hotel bernama Lotte Hotel Jeju. Besoknya, barulah aku dan Jiya memulai petualangan kami.
Sesampainya di kamar hotel, kami mulai merapikan barang bawaan. Terlebih lagi, kemungkinan kami akan menginap di sini selama lima sampai tujuh hari ke depan.
Aku yang melihat Jiya menyeret kopernya lesu, segera menghampiri bocah itu kemudian merampas kopernya dari tangan tiba-tiba. Membuat Jiya seketika memalingkan wajahnya yang tadi menundukkan menjadi menoleh ke arahku.
"Capek, yah? Ututu, tayang. Mau peluk, nggak?" tawarku seraya merenggangkan kedua tangan. Membuat senyum cerah terbit di bibir bocah rese itu.
"Mau!" serunya, sembari melemparkan dirinya ke dalam pelukanku.
Memeluk pinggangku erat, seraya mengusel-uselkan kepalanya ke permukaan mantel yang aku pakai.
__ADS_1
"Wangi, Jiya suka deh, kalau dipeluk Om Ferdi begini. Ngomong-ngomong, Om Ferdi pakai parfum apa, sih?" tanya Jiya dengan wajah sedikit terdongak melihat ke arahku.
"Parfum laundry, kenapa?"
Mata Jiya melotot sempurna, seolah-olah tak percaya dengan ucapanku barusan.
"Serius? Ah, Jiya nggak percaya. Masa parfum laundry wanginya awet gini?" katanya.
Mencoba mendekatkan wajahnya kembali, guna mencium aroma tubuhku. Aku yang melihat tingkah bocah rese itu cuma bisa geleng-geleng kepala. Melonggarkan pelukan, membuat Jiya kembali menatapku. Kali ini sedikit kesal.
"Kok dilepas? Jiya masih pengin ngusel-ngusel tahu."
"Nanti aja, aku gerah mau mandi. Udah gitu rasanya badan lengket, nih. Kamu sendiri nggak mau mandi, kah? Atau mau aku mandiin sekalian?" jelasku, yang membuat muka Jiya memerah.
"Nggak, Jiya bisa kok mandi sendiri."
Setelah itu, kulihat Jiya langsung buru-buru mengambil baju tidurnya kemudian ngacir ke kamar mandi.
***
Posisinya, aku sedang berdiri sedikit menyender di batas balkon. Mengamati pemandangan kota Jeju yang indah, sembari menyesap secangkir kopi hitam. Menunggu Jiya yang belum juga menampakkan batang hidungnya, setelah hampir setengah jam yang lalu masuk ke kamar mandi.
Beberapa anak rambutku terombang-ambing dimainkan semilir angin malam. Membuat rasa kantuk yang sudah kutahan-tahan sejak tadi. Mulai kembali datang.
Ah, padahal pemandangan malam ini sangat cantik. Sampai rasanya, aku tak ingin memejamkan mata barang sesaat, tatkala melihat terangnya sinar rembulan yang berpendar di angkasa.
Ngomong-ngomong, Jiya ketiduran atau lagi ngapain, sih? Ditunggu-tunggu, kok malah nggak kelar-kelar? Tak tahukah dia, seberapa gerahnya tubuhku ini?
Merasa gerah kembali, serta bosan menunggu lama. Kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar hotel saja. Berniat untuk menunggu Jiya lagi di sana, sambil rebahan di atas kasur jika si bocah rese itu belum juga keluar.
Dan benar saja, meskipun aku sudah berpindah tempat. Jiya belum juga ada niatan untuk meninggalkan kamar mandi.
__ADS_1
"Ji, kamu ngapain, sih? Gantian dong, aku udah kegerahan juga, nih?" tanyaku seraya mengetuk-ngetuk pintu WC, yang belum juga mendapat sahutan.
"Jiya?" lagi, aku memanggilnya. Kali ini dengan nada yang naik satu oktaf.
"Jiyaning Admaja!"
Cklek!
Akhirnya, setelah sekian lama. Penantian ku pun selesai juga. Pintu kamar mandi itu terbuka sedikit, dan menunjukkan kepala Jiya yang menyembul keluar di antara celah-celahnya. Dengan rambut yang basah seperti habis keramas.
Cuma yang membuatku salah fokus saat bocah rese itu mengigit bibir bawahnya salah tingkah, tanpa mau membukakan pintu kamar mandinya lebih lebar lagi.
"Kenapa kamu diem begitu? Buruan gih keluar, aku mau mandi juga, nih."
Jiya masih saja diam. Namun di detik berikutnya, dia menyuruhku untuk mendekatkan telingaku ini ke arah mulutnya, lantas berbisik kecil.
"Tolong ambilin segitiga sama kacamata Jiya dong di dalam koper, soalnya Jiya lupa nggak bawa mereka waktu masuk ke kamar mandi tadi. Please!" bisiknya memohon.
Yang membuatku mematung seketika. Habisnya, ini bukan sembarang baju tapi dalaman cewek. Dan meskipun aku sudah sering melihatnya, kalau nggak sengaja belanja di toko baju.
Vibes-nya tetap saja berbeda, kalau punya istri sendiri. Secara nggak langsung, otak kotorku on. Sekaligus, mikirnya pasti ke hal-hal begituan. Aduh, duh.
"Om Ferdi, denger kata-kata Jiya nggak tadi?"
Segera aku menganggukkan kepala. Kemudian berjalan menuju koper ungu di dekat kasur yang masih terkunci.
Pelan, kubuka kuncinya. Lantas, saat menemukan benda itu, wajahku langsung memaling ke arah lain dengan rasa panas yang menjalar dipipi.
Sial, gini doang aku langsung ngeblush!
Note :
__ADS_1
Happy Kiwoyo : Senang + Imut
Tek Tok : Istilah yang digunakan pendaki, jika mendaki ke puncak tanpa menginap. Singkatnya, naik dan turun dihari yang sama.