Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Loh, Kok?


__ADS_3

Dua hari setelah honeymoon sungguhan kami. Aku dan Jiya memutuskan untuk kembali ke tanah air. Menyudahi masa-masa uwu kami, saat musim semi di Korea.


Ah, berasa sinetron banget sih kemarin.


Cuma, untuk saat ini aku perlu kembali ke realita kehidupanku yang super sibuk. Seperti biasa, bertemankan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja. Sambil sesekali, mengikuti pertemuan atau meeting dengan klien.


Jiya sendiri, juga mulai kembali bekerja di kantorku. Meskipun masih menjadi OB, tapi kulihat-lihat dia begitu menyukainya. Serta mengerjakan semua pekerjaannya dengan benar.


Benar-benar, deh. Istriku emang paling the best.


"Pak Ferdi!" panggil Gisel, sesaat setelah mengetuk pintu. Kemudian masuk ke dalam ruanganku.


"Iya, Sel. Apa ada yang perlu saya bantu?" tanyaku.


Kulihat Gisel mengembuskan napasnya berat. Seperti sedang memiliki masalah yang berat.


"Nggak ada Pak. Oh iya, saya dengar-dengar kemarin bapak liburan ke Jeju, yah?" tanyanya hati-hati, mirip cewek yang memastikan ucapan gebetannya biar nggak sakit hati.


Aku sendiri cuma manggut-manggut. Malas melontarkan sebaris-dua baris kata untuk menjawab ucapan Gisel barusan.


"Sama siapa? Eum, saya kira Bapak belum punya pacar, loh." Lagi, Gisel menyerbuku dengan pertanyaan.


Memang benar ucapannya itu, kalau aku tidak memiliki pacar. Hanya saja, aku sudah beristri, Sel. Sayangnya, Jiya memintaku untuk merahasiakannya selama dia masih bekerja di sini sebagai OB.


Diam-diam, bocah rese itu mengkhawatirkan aku. Katanya, jika semua orang tahu, jika OB di perusahaan mereka itu istri, Pak Direktur. Bisa rusak nama baikku sebagai pria idaman tiap karyawan wanita di sini.


Selain itu, Jiya juga tidak ingin keselamatannya terancam, jika semua orang tahu kalau dia itu istriku. Yah, mungkin perlu waktu yang cukup lama untuk mengumumkan si bocah rese itu sebagai istriku di depan publik.


"Yah, saya memang tidak memiliki pacar. Kenapa memangnya?" Aku bertanya balik ke pada Gisel. Yang kini terlihat salah tingkah ditempatnya berdiri.


"Terus, Bapak ke Jeju, ngapain?"


Memutar bola mata malas, aku lantas menjawab. "Nonton konser TXT."


Diluar dugaan, Gisel tiba-tiba memekik keras. Seraya melompat beberapa kali, dengan tangan yang dia tinjukan pada udara, seraya mengucapkan kata 'Yes' dengan lirih, namun masih bisa kudengar.

__ADS_1


"Saya juga Moa! Wah, nggak nyangka banget kalau Pak Ferdi yang terkesan dingin, diem-diem ngefanboy," serunya senang.


Alisku tanpa sadar mengernyit sebelah. "Moa? Fanboy? Istilah apa itu?"


"Jangan bilang, Pak Ferdi itu penggemar baru. Sini, saya jelasin sedikit. Moa itu nama fandomnya TXT. Eum, kayak kumpulan penggemar mereka yang dikasih satu nama jadi, Moa. Terus kalau Fanboy, itu istilah buat namain penggemar cowok yang suka ke salah satu girlband atau boyband Korea. Gimana, udah paham, Pak?"


Aku cuma manggut-manggut saja, sambil beroh-ria. Padahal, aslinya nggak mudeng karena belibet.


Jangankan dijelasin Gisel, Jiya saja yang sering bahkan tiap hari aku lihat ngefangirl dan ngeracuni aku supaya suka sama perkpopan juga belum bisa-bisa.


Mau heran, tapi aku memang nggak terlalu suka sama hal-hal begituan. Lain, cerita kalau aku disuguhi hal-hal lain. Kayak, bicara di depan publik atau mengelola bisnis. Mungkin, aku bisa.


"Kalau udah selesai, kamu bisa kembali ke tempat kamu yah, Sel. Soalnya, pekerjaan saya masih numpuk banget di sini. Jadi, jangan ganggu!" kataku sengaja menyindir yang membuat Gisel, menggaruk bagian belakang kepalanya malu. Lantas bergerak mundur, menuju pintu keluar.


Sejam setelah kepergian Gisel. Aku merasa lumayan ngantuk, jadi aku putuskan untuk memesan secangkir kopi hitam lewat sambungan telepon singkat.


Dan entah kebetulan atau memang tugasnya Jiya buat nganter ke ruanganku. Kami berdua jadi bisa bertemu, setelah hampir seharian ini disibukkan dengan pekerjaan kami masing-masing.


"Ini Pak, minum dulu dong kopinya. Mumpung masih panas, dijamin rasa kantuk Anda hilang," ujar Jiya yang membuatku langsung tersenyum saat melihat kedatanganya itu.


Jiya yang mendengar panggilanku itu, seketika menutup mulutku ini dengan telapak tangannya. Kemudian, melihat sekeliling dengan begitu was-was.


"Kamu takut ketahuan?" godaku.


Jiya tampak mendengus. Kemudian mencubit perutku dengan kerasnya. Membuatku langsung mengaduh.


"Ih, sakit tahu, Yang!"


Melotot tajam, si bocah rese itu lantas menyahut. "Lagian, udah sepakat buat jaga rahasia. Tetap aja, lemes tuh mulut. Om Ferdi maunya apa, sih?"


"Mauku?" ulangku sambil tersenyum. "Mau dikasih jatah. Nggak kasian apa kamu Yang, adekku udah puasa hampir seminggu loh, ini."


Kulihat, alis Jiya terangkat sebelah. Kemudian dengan senyumannya yang manis, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Mau jatah, yah? Sini aku potong burungnya, biar nggak minta jatah mulu. Lagian, baru semalam kita nganu, masih minta aja! Nggak capek apa?" sarkas Jiya, seraya menjewer telingaku mirip apa yang biasanya Momi lakukan tiap kali aku berbuat salah dulu.

__ADS_1


Fiks, saat ini aku mirip banget kayak suami yang takut sama istri. Oh Gosh! Apa ini yang Papi dan Daddy rasakan yah, kalau dimarahi sama istri mereka masing-masing?


Benar-benar deh, lebih nyeremin daripada nonton film horor.


"S-sakit atuh, Yang. Duh, kalau telingaku merah sebelah gimana?" rintihku seraya memohon-mohon untuk dilepaskan.


Jiya sendiri, malah memutarnya semakin keras. Meskipun cuma beberapa saat.


"Makanya, lain kali kalau diajak kerjasama itu yang bener dong."


"Iya, iya!" balasku nurut, udah mirip anak TK yang lagi diomelin mamahnya waktu pulang dapat nilai nol besar.


Merasa iba, Jiya lantas menangkup pipiku dengan kedua tangannya. Kemudian, mencuri ciuman dibibirku secepat kilat.


"Hari ini, cuma nempel dikit aja," katanya pelan, seraya berlari menuju pintu keluar.


Namun, langsung kutahan pergelangan tangannya itu, dan menghimpit tubuhnya tepat ke arah pintu kantorku.


"Om, inget ini masih dikantor, loh!" ujarnya gusar saat kudekatkan kepalaku ke arah belakang telinganya, kemudian turun ke ceruk leher dibagian kanan.


Menciuminya cukup banyak disana, sampai meninggalkan jejak merah yang sedikit basah dan membuat Jiya merintih tertahan.


"O-Om Ferdi, i-itu ... Uhh, ada Ta-tante lemper di luaaahhrr!" rintihannya tertahan, yang membuatku ingin melakukan lebih.


"Apa? Aku nggak denger?" Sengaja aku menggoda Jiya, sambil menghujaminya dengan kecupan yang membuat dia makin merasa tak karuan.


"Om Ferdi, uhhh!"


"Tahan suara rintihanmu itu, kalau nggak mau kita ketahuan," balasku yang, secepatnya dibalas anggukan pelan kepala Jiya.


Hanya saja, saat bocah rese itu setuju. Aku yang memilih untuk menghentikannya. Biar tahu rasa dia, karena udah ngejewer telingaku tadi.


"Loh, Om kok berhenti?" tanya Jiya polos yang kubalas dengan senyuman lebar ala-ala iklan pasta gigi.


"Inget ini masih di kantor, jadi lebih baik kamu kembali ke dapur sana. Hus! Hus!" usirku dengan tangan yang sengaja mengibas, mirip mengusir ayam.

__ADS_1


Jiya yang mendengarnya langsung cemberut kemudian keluar ruanganku dengan langkah terhentak-hentak.


__ADS_2