Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Hukuman & Pengakuan


__ADS_3

"Mom, sadar Mom! Ini Ferdi anak Momi sendiri, loh!" teriakku saat kurasakan keadaanku sudah terpojok.


Sudah begitu aku salah berlari tadi, hingga masuk ke dalam jebakan yang Momi buat.


Alih-alih merasa iba, Momi malah semakin tertawa kencang, mirip penjahat-penjahat kelas kakap, yang dulu sering aku saksikan di kartun.


"Momi sadar kok Fer, cuma kamu memang pantas buat dihajar!" sahutnya seraya menatap Jiya dengan seringaian penuh.


"Apalagi kamu udah nyakitin mantu kesayangan Momi, Jiya. Jadi siap-siap aja besok pagi kamu nggak bisa jalan," lanjutnya lagi, seraya memukul-mukulkan pemukul bisbol ditangannya sendiri.


Aku yang menyaksikannya dari sudut ruangan hanya bisa menelan ludah susah payah. Karena sudah bisa dipastikan, aku tidak akan selamat setelah ini.


Itulah mengapa, Daddy memilih diam dan tak ikut campur. Karena kalau dia sekali saja ikut bicara, Daddy juga akan jadi target Momi berikutnya.


Tak lama setelah itu, ruangan yang tadinya lengang. Mendadak riuh dengan suara teriakan serta rintihanku yang pilu.


Beberapa jam setelah kejadian mirip simulasi All Of Us Are Dead itu, aku langsung dibantu Jiya untuk tengkurap di atas kasur.


"Mau Jiya mulai dari mana dulu nih, ngolesin salepnya, Om? Jiya mendadak blank gara-gara ngeliat lebam-lebam yang Momi kasih ini. Udah gitu, hampir di semua tempat dan paling banyak di area punggung sama betis. Pasti sakit banget, yah?" tanyanya yang kubalas dengan suara ringisan saja.


Habisnya, mau bergerak ataupun bergeser sedikit saja. Rasanya badanku benar-benar remuk-redam.


Huft, kalau begini aku tak akan mau lagi membuat Momi marah terus hilang kendali. Untung saja, tadi Jiya membantu menghentikan aksi gila Momi. Coba saja kalau tidak, mungkin aku sudah benar-benar K.O ditempat.


"Aduduh! Pelan-pelan Ji, itu sakitt agrh!"


Bukannya menghiraukan ringisanku, Jiya malah semakin menekan-nekan lebam-lebam itu. Sampai membuatku tak sadar mulai menitikkan air mata.


"Ini juga udah pelan kok, Om. Tahan bentar aja dulu, lagian rasa sakitnya masih kalah jauh dari pada sakit pas mau ngelahirin." Jiya berujar dengan tangan yang makin menekan permukaan pinggangku. Kontan saja membuatku berteriak kencang.


Momi yang tak sengaja kulihat sedang mengawasi aku dan Jiya dari balik pintu kamar lewat celah kecil. Tersenyum puas sekali.

__ADS_1


'Ini mah, benar-benar definisi anak kandung yang terbully,' batinku bermonolog.


"Nggak usah lembah-lembut begitu Ji, kalau bisa pencet aja sekeras mungkin biar Ferdi tahu rasa," kompor Momi dengan tampang ala-ala pemeran antagonis di sinetron.


Matanya mendelik tajam, dan seringainya tampak terlihat puas saat melihat keadaanku yang sekarat di atas kasur.


Fiks, Momi memang penjahat sesungguhnya.


"Untung aja Jiya nggak tegaan Fer, kalau Momi yang jadi istri kamu. Beuh, udah Momi jadiin kamu Ferdi guling, buat santapan ikan koi Daddy."


Ngeri! Ngeri! Ngeri, Banget pokoknya. Dan mentalku langsung break down mendadak.


Mungkin selama Momi berceramah serta mengomeliku dari ambang pintu kamar. Aku hanya diam saja, sembari menahan suara teriakanku yang hampir lolos. Hingga akhirnya lelah sendiri, lantas memutuskan untuk pergi.


"Om Ferdi bisa duduk bentar, Jiya mau pasangin baju tidur soalnya. Kalau nggak pakai, takutnya nanti masuk angin," jelasnya.


"Kayaknya nggak bisa deh, aku susah banget buat gerak. Rasanya kayak semua tulangku patah," jelasku lirih.


"Maaf," bisiknya seraya mengecup ujung dahiku. "Gara-gara Jiya, Om Ferdi jadi dipukulin Momi begini. Padahal Jiya nggak bermaksud, buat Om Ferdi jadi kayak gini. Jiya pikir, Momi bercanda."


Tampak satu-persatu air mata Jiya mulai berjatuhan di atas lengan tangan kiriku. Membuatku yang melihatnya menangis begitu jadi merasa sesak juga.


Dengan tenaga yang tersisa sedikit. Kucoba untuk menggerakkan tangan kiriku, untuk menghapus jejak-jejak air matanya yang masih tersisa di permukaan pipi.


"Jangan nangis gitu dong, kamu jelek mirip Valak," ejekku.


"Ta-tapi Jiya nggak tega lihat kondisi Om Ferdi yang kesakitan begitu huhu ..." ujarnya malah semakin menangis kencang.


Aku yang melihatnya dan tak bisa melakukan apapun saat ini, jadi bingung sendiri. Jadilah, kutenangkan dirinya dengan kata-kata yang biasanya aku dengar sewaktu kecil dulu."Udah-udah, cup cup cup."


Paginya, aku benar-benar kesusahan untuk berjalan. Persis seperti apa yang Momi katakan semalam, sebelum memberiku pelajaran habis-habisan.

__ADS_1


Bahkan untuk berjalan beberapa langkah saja, punggungku rasanya sakit sekali. Mirip orang tua yang terkena encok.


"Wah, ada orang jompo baru." Momi menyindirku, saat aku baru saja mendudukkan diri di kursi untuk sarapan.


Parahnya, dia terkekeh geli seperti orang tanpa dosa saat melihat ke arahku. Padahal ini berkat ulahnya semalam loh.


"Udahlah Mom, jangan galak-galak begitu. Kasihan Ferdinya juga, dia kan lagi sibuk ngurusin kerjaan," celetuk Daddy, mungkin merasa iba dengan kondisiku ini.


"Lagian, kalau dia nggak cari gara-gara duluan. Momi juga nggak bakal khilaf," balas Momi seraya menolehkan kepalanya sedikit ke arah Daddy. Yang kemudian langsung melirik sekilas ke arahku. "Lain kali kamu buat Jiya nangis, abis kamu!"


Oke, sepertinya Momi benar-benar sensi untuk saat ini. Jadi bawaannya senewen mulu dengan orang-orang. Ralat, padaku saja.


Jiya yang sudah selesai sarapan, kemudian membantuku untuk berjalan ke arah mobil. Dia juga bilang ingin berangkat bersama sampai ke kantornya. Selain itu, Jiya juga menawarkan diri untuk mengantarkan diriku ke dalam ruanganku di dalam kantor, secara sukarela.


"Kamu yakin, mau nganterin aku sampai ke dalam?" tanyaku sedikit tak enak.


Sesaat setelah Pak Tarno memarkirkan mobilku di depan kantor. Kulihat Jiya mengangguk kecil, kemudian beranjak dari duduknya untuk keluar mobil terlebih dahulu, sebelum kembali membukakan pintu mobil disisi kanan. Supaya aku bisa keluar.


"Ayo!" ajaknya dengan tangan yang terulur ke arahku, plus sebuah senyuman semanis kembang gula.


Tepat setelah aku keluar dari mobil dan berdiri disebelah Jiya. Semua karyawan kantorku yang melihat langsung terdiam ditempat mereka masing-masing. Tak terkecuali sosok Gisel dan Maya.


Mereka yang tadi asik ngobrol di depan pintu masuk. Ikut berhenti juga, dan melihat ke arahku dengan sorot mata penuh keingintahuan.


Terlebih lagi saat melihat sosok Jiya. Detik itu juga, kulihat Maya langsung berteriak heboh.


"Mantan OB!" pekiknya yang membuat semua pasang mata menyoroti Jiya penuh. Ada yang berbisik merendahkan, ada pula yang memuji penampilannya yang telah banyak sekali berubah.


Namun, semua rasa keingintahuan mereka berubah menjadi rasa syok bukan main. Saat aku mengangkat suara.


"Siapa yang kamu panggil OB? Asal kalian semua tahu, wanita di sebelah saya ini, adalah istri sah saya, Jiyaning Admaja." Aku berucap lantang yang membuat semua pasang mata membulat tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2