
Malamnya aku benar-benar tak bisa tidur. Walaupun sudah bolak-balik miring ke kanan-kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Tapi tetap saja, kedua netraku ini enggan terpejam.
Huft, kuhela napasku sejenak sembari mengubah posisiku yang tadinya tiduran menjadi terduduk di sisi kasur. Ah, sialan aku masih memikirkan hal tadi.
Sekelebat memori panas itu belum juga hilang dari pikiran dan terus menghantuiku. Aku bahkan merasa, seperti seorang pacar yang gagal mendapat jatah dari pada seorang suami.
Galau banget, serius.
Kuacak puncak kepalaku sendiri untuk melampiaskan kekesalan. Alih-alih kembali tidur, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu supaya merasa lebih tenang. Setelahnya, barulah aku berniat mencari angin segar di luar.
Suasana malam yang begitu hening dan rembulan yang kali ini tertutup awan. Lagi-lagi menemani kesendirianku. Bedanya, saat ini aku tak membutuhkan kopi dan rokok seperti tempo hari yang lalu.
"Fer, kok kamu belum tidur?" tanya Papi, yang entah sejak kapan sudah muncul dibelakang tubuhku.
Meskipun beliau belum ada setengah abad, tapi Papi suka sekali memakai sarung yang dikalungkan ke pundak, mirip bapak-bapak yang mau pergi ngeronda. Cuma, kurang kentongan sama senter aja ditangan.
"Iya nih, kayaknya Ferdi mau gadang aja."
Muka Papi yang tadinya biasa-biasa saja, langsung berubah. Alisnya mengernyit sebelah, dan beliau tiba-tiba berdiri dekat dengan tubuhku yang memang sedari tadi senderan di tralis balkon.
"Gara-gara Jiya, yah? Buat masalah apalagi, dia?" celetuknya spontan yang kontan membuatku tegang.
Masa iya, aku mau bilang kalau aku pengin nganu gara-gara ekspresi Jiya tadi. Malu banget sih kalau jujur, paling Papi nanti kaget dan ngetawain aku yang payah. Karena belum juga ngelakuin malam pertama sampai detik ini.
"Ah, urusan kantor sebenarnya, Pap!" elesku cepat.
Kulihat Papi malah semakin menatapku penuh kecurigaan. Itu terlihat dari sorot matanya yang semakin lama semakin menyipit tajam.
"Ah, yang bener kamu, terus kenapa bibir kamu bisa jedor gitu? Perasaan di rumah Papi nggak ada tuh sarang tawon."
Hah?!!!
Masa sih? Perasaan kami nggak sepanas kayak difilm-film biru tadi.
"Kamu gadang bukan karena something 'kan, Fer?" tanyanya dengan alis yang naik-turun.
Tanpa sadar, aku gelagapan. Kupikir, Papi itu cuek. Ternyata sebelas dua belas sama Daddy. Pantesan aja waktu ijab qobul sefrekuensi.
__ADS_1
"Something in your eyes ... Tell me who I am, gitukah, Pap?" jawabku kemudian bernada. Yang kontan membuat Papi langsung melotot saking kagetnya.
"Itu ... Itu bukannya ost drama Korea, yah?" tanya Papi, girang.
Aku sih, cuma nganggukin kepala aja cepat. Lagian, aku tahu lagu itu gara-gara Momi dulu sering streaming drama dan tiap hari pasti muter tuh lagu dari pagi ke petang. Sampai nggak sengaja, aku ikutan hafal. Walaupun bagian awalnya doang wkwkwk ...
"Asyik, ada temen buat nonton drakor."
Eh! Aku kaget banget loh, udah gitu ini cowok kekar sekelas Papi. Wah, jangan-jangan yang ngeracuni Jiya jadi KPopers garis keras, papahnya sendiri?
"Papi suka nonton drama?"
Kulihat Papi mengangguk penuh semangat. "Iya, tapi diam-diam dibelakang Mamah. Soalnya, Papi pengin kelihatan cool di depan dia walaupun aslinya punya hati semelow Hello Kitty hihihi."
Sungguh, rahasia yang sangat-sangat membagongkan.
"Kalau kamu mau ikutan juga, kapan-kapan kita bisa mabar kok, Fer."
Aku, nonton drama Korea? Apa kata dunia? Maaf deh, Pi. Kayaknya aku nggak bisa. Tentunya itu cuma kata hatiku saja.
Soalnya nggak baik, menolak ajakan orang tua. Apalagi ini mertuaku sendiri, gawat kalau belum apa-apa aku udah dikasih red flag duluan jadi mantu. Bisa-bisa dicoret namaku dari KK nanti.
Karena malam makin larut, dan angin yang berhembus juga terasa menusuk tulang. Aku dan Papi akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Namun, belum ada beberapa langkah berjalan. Tiba-tiba saja listriknya padam.
Papi yang mengetahui hal itu, sempat mengomel. Habis, kata beliau baru beberapa hari yang lalu membayar tagihan listrik. Tapi kan, mati listrik juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti konsleting atau cuaca yang buruk dan menyebabkan pohon tumbang lalu menimpa tiang listriknya.
Jadi saat beliau mengoceh, aku hanya diam saja. Mendengarkan keluh kesahnya. Barulah setelah Papi selesai aku buru-buru menghampiri Jiya.
Seingatku, bocah setan itu ada dikamar kesayangannya, sebelum kutinggal pergi tadi. Sebenarnya, aku tak tega bersikap begitu. Karena tak bertanggung jawab sekali dan bukan sikap seorang pria gentle.
Hanya saja aku takut kebablasan. Terlebih lagi aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga bocah itu sampai berhasil dan mengejar cita-citanya setinggi langit.
Akan tetapi, saat kakiku sampai di depan pintu bercat krem itu. Aku tak mendapati Jiya di sana. Alih-alih melihat si bocah setan itu, aku malah terkejut bukan main saat melihat satu sosok berpakaian putih panjang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Astaghfirullah, pocong!" teriakku kaget.
__ADS_1
Si pocong yang kuteriakki, malah berjalan mendekat ikutan berteriak juga.
"Mana pocongnya? Mana?"
Merasa suaranya mirip dengan Jiya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk mendekati sosok berkain putih itu dan menyibak penutup kepalanya.
"Jiya, ngapain kamu malem-malem pakai ginian? Jangan bilang kamu sengaja mau buat jantung aku copot, huh?" tuduhku karena kesal padanya.
Kulihat wajah Jiya yang semula panik, kini berubah kesal. "Dih, kurang kerjaan banget. Orang Jiya abis solat tahajud."
"Tumben."
Mata Jiya melotot. "Gini-gini Jiya juga sering solat tengah malam tahu. Emangnya Om Ferdi, yang malah asik ngebo sampe subuh. Ngorok sama ngigau pula, kayak babi."
Filter, mana filter! Aku butuh segera untuk menyaring kata-kata yang keluar dari mulut si bocah rese ini. Enak saja, masa aku yang ganteng dan soleh begini dibilang mirip babi.
"Mulut kamu emang nggak bisa ngomong hal-hal baik tentang aku, yah? Awas loh, nanti pahalamu pindah ke aku gara-gara sering ngatain suami sendiri."
"Eh, emang ngaruh, yah?" tanya Jiya cepat dengan muka yang kembali panik.
Aku yang sedang memegang senter dari flash kamera menahan tawa diam-diam. Emang paling lucu, kalau buat Jiya ketakutan begitu.
"Kalau nggak percaya, tanya aja sono ke mbak Google!"
"Ya, ya udah deh. Jiya minta maaf." Jiya berucap seraya menarik-narik ujung kaos bajuku tiba-tiba.
"Jangan ditarik-tarik begitu nanti molor."
"Iih, tinggal jawab aja sih!" balas si bocah rese itu kembali ngegas.
Tersenyum tipis, aku segera mendekati wajahnya. Kemudian berbisik lirih ditelinga Jiya. "Cium dulu, nanti aku maafin."
"Anjir, modus banget lo, Om!" teriaknya sambil meninju perutku.
Aku yang jatuh dan meringis karena menahan rasa sakit, diam-diam menyunggingkan senyum tipis dibibir. Saat melihat sosok Jiya yang sudah ngacir lebih dulu untuk melarikan diri, dengan muka merah padamnya.
"Bisa-bisanya sok nolak, padahal ngekode buat dikejar. Hadeh, Jiya-Jiya."
__ADS_1