
Entah mengapa, aku merasa akhir-akhir ini si bocah rese itu sedang dimabuk cinta. Tentunya, bukan tanpa alasan aku seudzon begini, yah.
Cuma, selain kerap melihat Jiya cengengesan saat melihat layar ponsel. Bocah itu juga, sering banget nyanyi lagu yang isinya cinta-cintaan menggebu. Yah, sebelas dua belas sama lagu Korea kemarin itu.
Yang paling buat kecurigaanku makin menjadi-jadi, sewaktu Momi bilang gini.
"Fer, kemarin Jiya dianter pulang sama cowok loh."
Awalnya kupikir itu cuma becandaan Momi doang. Yah, sekedar ngetes aku cemburu atau nggak, maybe.
Tapi, ternyata itu beneran besti. Parahnya lagi, aku nggak sengaja mergokin si bocah rese itu jalan bareng sama cowok yang kemarin nyipok dia. Astaga!
Aku yang kebetulan ada meeting diluar sama klien, mendadak nggak fokus sewaktu ngelihat Jiya lagi minum boba sama cowok yang tingginya kurang lebih 170 cm, di kedai minuman seberang.
Jujur, mataku panas banget waktu ngelihat mereka berdua dari sini. Pengin deh, kubejek-bejek tuh cowok gara-gara main serong aja istri orang.
Nggak tahu dia, kalau khodamku udah mau keluar gara-gara cemburu, huh?
"Pak, Pak Ferdi?" panggil Gisel, setengah berbisik.
Aku yang memang sedari tadi memerhatikan si bocah rese itu, menjadi tak fokus sendiri. Bahkan sampai meeting selesai dan klien pamit pulang. Aku masih saja, sibuk melihat ke arah mereka berdua yang sekarang sedang asik ketawa-ketiwi bareng, entah ngobrolin apa.
"Pak Ferdi kenapa, sih? Apalagi nggak enak badan?" tanya Gisel dengan raut wajah khawatir, karena aku belum juga membalas ucapannya.
"Saya baik-baik saja, kok. Oh iya, Sel. Karena meeting sudah selesai, kamu bisa pulang duluan," balasku seraya menyuruh Gisel untuk menyingkir dari sini.
Soalnya, aku udah nahan mati-matian buat nggak lari ke kedai seberang. Terus nonjok tuh muka si cowok ganjen.
"Loh, bapak nggak pulang bareng saya?"
Duh, Sel peka dikit napa. Aku tuh, ngusir kamu pergi biar bisa nge-stalk biniku yang lagi selingkuh. Batinku sebal.
"Kamu, kan bisa pulang sendiri. Udah gede juga, pasti nggak bakal nyasar dan tahu jalan pulang." Aku membalas lagi, dengan senyuman tipis yang membuat Gisel bergidik.
Buru-buru, sekertarisku itu merapikan barang-barangnya sebelum kemudian, pamit untuk pulang duluan. Oke, satu masalah clear. Kini tinggal, si bocah rese itu dan cowok 170 cm.
Sepeninggalnya Gisel dari restoran tadi, aku juga bergegas keluar. Mulanya, aku ingin segera menghampiri Jiya dan selingkuhannya itu. Namun, saat melihat mereka berdua yang tiba-tiba akan keluar. Aku malah memilih untuk bersembunyi.
Berlari secepat kilat ke arah tempat sampah berwarna hijau di kiri kedai, kemudian berjongkok sedikit dibaliknya.
__ADS_1
Eh! Kenapa malah aku yang kayak lagi main kucing-kucingan? Harusnya kan, aku yang nyamperin mereka duluan?
Dari sini, aku bisa melihat Jiya dan cowok 170 cm itu yang sudah keluar dari kedai. Mereka terlihat asyik bercengkerama sambil tersenyum manis dan menatap penuh cinta satu sama lain. Mirip couple goals gitu.
Argh! Hatiku nggak sanggup untuk melihatnya. Rasanya, organ-organ dalamku seakan bergetar dan bilang gini.
'Kamu payah Fer! Masa kalah dari anak baru kemarin sore.'
Tapi emang benar juga sih, aku K.O kalau urusan asmara. Tampang aja ganteng, nyalinya ciut banget kalau udah dekat cewek. Hadeh.
Cukup lama, mereka berdua berbincang-bincang. Lalu di detik berikutnya, kulihat bocah rese itu berpisah.
Eh, loh-loh! Kenapa, pulangnya mencar-mencar? Apa kencannya udah kelar?
Tanpa sadar aku kelabakan, sekaligus bingung mau ngikutin siapa. Dan engingeng, Jiya nggak sengaja ngelihat aku yang masih jongkok di dekat tong sampah tadi.
"Om Ferdi?"
Benar-benar deh, timingnya nggak pas banget. Selain lagi jongkok, kenapa pula harus didekat tong sampah begini? Masa iya, aku mau pura-pura nggak dengar sambil ngecosplay jadi pemulung dan nyomot sampah bungkus taro didekatku?
"Om, ngapain di situ?" tanya Jiya lagi. Kulihat sebelah alis bocah itu terangkat, seperti kebingungan karena melihat aku yang tiba-tiba muncul di depannya.
Namun, Jiya masih terus menatapku penuh kecurigaan. Dengan langkah perlahan, bocah rese itu tiba-tiba ikut berjongkok dihadapanku. Membuat wajah kami hanya tersisa beberapa jengkal saja, saat dirinya mendekat perlahan.
"Om, Jiya bukan anak kecil yang gampang dibohongin kali. Lagian, jam tangan Om Ferdi masih ada ditempatnya kok. Oh atau jangan-jangan, Om Ferdi lagi ngebuntutin Jiya, yah? Hayo ngaku!" jelas Jiya sambil mengerling genit.
Aku yang menerima serangan mendadak itu, hanya bisa terdiam. Padahal, jantungku makin nggak karuan. Fiks deh, aku lemah sama aegyo Jiya.
Duh, hati tolong kerjasamanya dong. Aku kan nggak mau ketahuan kalau abis nguntit si bocah setan ini, huhuhu ...
"Om? Om? Kok, diem?" tanya Jiya lagi, sambil melambaikan tangan didepan wajahku.
"Awas nanti kesambet jaran goyang, loh!" ledeknya yang langsung membuyarkan lamunanku.
"Apaan sih, kamu. Ngomong-ngomong, udah jam berapa ini? Kenapa kamu masih keluyuran pakai seragam sekolah, huh?" kataku mengalihkan topik.
Jiya tampak meletakkan jari telunjuknya ke dagu, seolah-olah sedang berpikir. Dan itu imut banget astaga, pengin cepat-cepat aku karungin terus bawa pulang.
"Abis jalan sama Bang Rehan," jawabnya polos, tanpa sadar aku melotot.
__ADS_1
"Siapa Rehan?"
Tercengir tanpa dosa, Jiya lalu menjawab. "Mantan Jiya, tapi lagi pdkt lagi hihihi ..."
What???
Seketika aku kehilangan kata-kata. Selain itu, hatiku yang tadi diterbangkan tinggi-tinggi, langsung terjun bebas seketika, menghantam daya gravitasi bumi. Sebelum akhirnya, hancur berkeping-keping.
Parahnya lagi, kedai Boba tempat Jiya nongkrong tadi tiba-tiba nge-play lagu band D'Masiv yang cocok banget sama isi hatiku saat ini.
Bagaimana caranya untuk~
Meruntuhkan kerasnya hatimu?~
Kusadari ku, tak sempurna~
Ku tak seperti, yang kau inginkan~
Kau hancurkan aku dengan sikapmu~
Tak sadarkah kau telah menyakitiku~
Lelah hati ini meyakinkanmu~
Cinta ini membunuhku~
Astaga, ini ngenes banget asli. Pengalaman cinta pertamaku yang sad sekali. Sejujurnya, aku tak mengira bakal kayak gini. Apalagi, aku dan Jiya pernah berbagi es krim di kamar kesayangannya waktu nginep di rumah Mamah Vivi dan Papi.
Kupikir, dari kejadian nggak sengaja itu kita bisa lebih dekat dari pada sebelumnya. Begitu juga perasaan benci Jiya yang seiring berjalannya waktu bisa perlahan-lahan terbuka untukku.
Sayangnya, itu cuma pikiranku konyolku saja. Karena selama ini, pedulinya Jiya itu nggak lebih dari persamaan simpati semata. Atau karena dia emang butuh sosokku, tapi bukan sebagai seorang suami yang perlu dikasih cinta sepenuh hati.
Note :
Aegyo \= Tingkah lucu atau menggemaskan untuk menunjukkan perasaan.
Minhae \= Maaf ( beberapa bab sebelumnya)
Es Krim \= Kujadiin kode diem-diem aja soal mereka yang pernah ciuman wkwk...
__ADS_1