Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Rencana Busuk Om Lukman


__ADS_3

Melihat notifikasi panggilan tak terjawab yang begitu banyak dari Papi. Membuatku segera melakukan panggilan balik.


Hanya saja, sudah lebih dari sepuluh menit. Panggilanku tetap saja belum mendapatkan jawaban. Malah yang ada, hanya tulisan 'memanggil' sedari tadi.


Jujur, aku mulai merasa cemas setiap detiknya. Di dalam hati, aku juga tak lupa menggumamkan doa untuk keselamatan mertuaku itu.


Hingga dipercobaan panggilan kelima belas, panggilanku pun terjawab. Namun, yang membuatku merasa aneh saat kudengar suara seseorang diseberang.


'Hai, Fer. Udah lama yah, kita nggak saling ngasih kabar.'


Aku yang mendengar suara tak asing itu langsung mengepalkan tangan tanpa sadar.


'Ah, ternyata Om Lukman. Ferdi kira siapa, tapi kenapa yah, telepon Papi bisa ada di Om?' balasku dengan suara tenang seperti biasa.


Kudengar Om Lukman tertawa. Keras sekali, hingga rasanya bisa memecahkan gendang telingaku saat itu juga.


'Bohong kalau kamu masih nggak sadar,' kata Om Lukman, dengan nada bicara memprovokasiku.


Tanganku yang sudah terkepal, kini semakin erat hingga membuat kuku-kuku jariku memutih.


'Dimana Papi?' tanyaku sarat akan emosi.


Lagi-lagi si parasit itu tertawa. Tampaknya enggan, menjawab pertanyaanku barusan.


'Om,' panggilku dingin.


'Kenapa buru-buru begitu, sih? Oke-oke aku kasih dulu, teleponnya ke pria tua bau tanah itu. Tenang, dia masih baik-baik saja kok.'


Tak berselang lama, tak kudengar lagi suara tawa Om Lukman. Malah, terdengar derap langkah kaki seseorang serta beberapa suara benda yang dijatuhkan secara paksa dari seberang telepon.


Di detik berikutnya, barulah kudengar suara Papi yang tengah merintih. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi dan mertuaku alami. Yang pasti, saat kudengar suara ringisannya itu. Aku bisa langsung mengambil keputusan jika Om Lukman telah berbuat sesuatu yang keji padanya.


'Gimana, udah dengar 'kan? Ngomong-ngomong, kalau kamu mau cari mertua kesayanganmu ini,  jangan lupa buat siapin uang satu koper. Kalau nggak, jangan harap, bisa ketemu dia lagi dalam keadaan yang masih hidup.'


Setelah mengatakan itu, Om Lukman buru-buru mematikan sambungan telepon kami. Membuatku lantas meninju ke arah dinding, saat amarah dirasa mulai menguasai diriku.

__ADS_1


"Brengsek!" makiku kesal.


Kupikir, si parasit itu sudah kapok dan tak akan pernah muncul lagi. Namun, kenyataan, setelah dia gagal menjebakku malam itu. Om Lukman malah menargetkan keluarga Jiya yang tidak tahu apa-apa.


Sekarang Papi, apa iya aku akan membiarkan dia menyentuh Mamah Vivi, lalu Jiya?


Tidak! Aku tidak bisa hanya duduk manis dan diam saja, menunggu di sini. Lantas, soal ancamannya barusan. Dia pikir aku akan menurut begitu saja?


Akan kupastikan, mematahkan semua sendinya nanti. Supaya dia tak bisa lagi berbuat seenaknya, serta menikmati dunia ini.


Hanya saja, aku juga tidak bisa memberitahu  Jiya tentang hal ini. Aku khawatir, bocah rese itu akan kepikiran, kemudian jatuh sakit.


Huft, sejujurnya aku bingung. Namun, aku harus secepatnya mencari Papi untuk memastikan kondisinya.


Dengan cepat, kupanggil Gisel untuk masuk ke dalam ruanganku. Kemudian menyuruh dia, untuk membatalkan semua pertemuan yang akan kuhadiri hari ini. Yah, aku berencana mengosongkan semua jadwalku kemudian pergi mencari Papi.


Awalnya, Gisel tampak kebingungan. Namun, dia tak banyak berkomentar dan langsung mengikuti perintahku.


Setelah itu, barulah aku bergegas pergi keluar. Berjalan dengan langkah seribu kaki saat melewati koridor, kemudian segera masuk ke dalam lift. Namun ...


Langkahku langsung terhenti saat kudengar Jiya memanggilku dari arah berlawanan. Heuh, kenapa harus bertemu dengan dia di sini, sih?


"Om?" Jiya memanggilku lagi. Tampak berlari kecil, masih dengan tangan memegang nampan bulatnya itu.


Aku yang melihat Jiya berlarian ke arahku, hanya bisa berdiri mematung. Menatap sosoknya yang kini terlihat kelelahan, namun masih tetap menampilkan senyuman yang manis dibibirnya.


"Ya?" balasku akhirnya.


Kulihat senyuman dibibir Jiya makin merekah, membuatku makin tak enak hati jika sampai memberi tahu kabar tentang Papi padanya. Ah, pasti kalau bocah rese itu tahu, tangisnya akan langsung pecah. Selain itu, Jiya juga mudah tersulut emosi.


"Kok Om Ferdi udah mau pergi, emang jam pulang Direktur itu cepat, yah?" tanyanya polos, dengan kedua tangan yang menggenggam erat jari-jemariku.


Kebetulan, kondisi koridor sepi. Jadi tidak ada satu orang pun yang melihat kedekatan kami ini.


Alih-alih menjawab, aku malah mengusap puncak kepala Jiya sayang. Kemudian, menyeret tubuh ringkihnya itu ke dalam dekapan hangatku.

__ADS_1


"Nggak juga, cuma hari ini aku ada urusan di luar."


"Kemana?" tanyanya menuntut.


Segera kutangkup kedua pipi milik bocah rese itu lembut. Yang seketika membuatnya menggembung lucu, mirip marmut. "Ketemu sama klien."


Jiya lalu menganggukkan kepalanya dan hanya beroh-ria saja sebagai balasan. Tak lama setelah itu, barulah aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya yang masih berdiri diam menatap kepergianku.


Jalanan kota di sore hari terlihat cukup ramai. Selain itu, beberapa kendaraan juga terjebak macet tatkala lampu merah menyala.


Aku yang jadi salah satunya, hanya bisa duduk cemas dengan jemari tangan yang berulang kali kuketukan pelan di atas stir. Ragaku memang ada di sini, namun pikiranku melalang buana entah kemana. Selain itu, banyak sekali kemungkinan buruk yang mampir di kepala. Membuatku makin tak karuan saja.


Kuharap, Papi baik-baik saja di sana.


Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya aku bisa memacu kendaraanku kembali. Membelah jalanan kota yang mulai terang dihiasi lampu jalan, sekaligus beberapa muda-mudi yang hilir mudik menikmati pemandangan senja sore.


Hingga, kurasakan ponselku bergetar kembali dan memunculkan sebuah notifikasi pesan dari Papi.


'Jalan Merak 05. Kota XXX'


Detik itu juga mataku membulat sempurna, sedikit terkejut dengan pesan yang aku yakini itu dari Om Lukman.


"Dasar Parasit!" umpatku kesal, seraya memukul stir.


Aku tahu jelas, dimana tempat itu. Sebuah tempat yang sudah lama sekali terbengkalai dan jarang sekali disinggahi warga sipil. Kecuali, mafia. Bisa dibilang, tempat itu pusat pasarnya.


Jujur, aku tidak menyangka si parasit itu akan membawa Papi ke sana. Atau mungkin, Om Lukman punya maksud terselubung?


Ah, membayangkannya saja sudah membuat amarahku mendidih. Secepatnya, kupacu mobilku itu untuk sampai di sana.


Tepat setelah mobilku berhenti di sebuah bangunan tua yang nampak termakan oleh usia. Kehadiranku itu langsung disambut oleh beberapa orang berpakaian hitam dengan postur tubuh kekar, mirip atlet angkat besi.


Perawakannya tinggi besar, dengan tone kulit berwarna colekat-gelap. Mereka berbaris dengan tangan bersedekap di depan dada, serta menggunakan kacamata hitam. Tepat di depan mobilku terparkir.


Lalu, setelah aku melangkah keluar. Salah satu dari mereka mulai bergerak, seolah-olah menuntunku untuk pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2