
Bau cairan infus dan juga obat-obatan seketika menyeruak memasuki indera penciumanku. Perlahan-lahan, kelopak mataku terbuka guna menyesuaikan cahaya yang masuk.
Entahlah, aku tidak ingat apapun dan mengapa bisa berada di tempat bernuansa putih ini. Yang jelas, saat melihat pakaian dan selang infus yang sudah menancap ditangan, aku menyadari jika diriku sedang berada di rumah sakit.
Saat kucoba untuk mendudukkan diri, seraya menyenderkan punggung ini sedikit ke kepala ranjang. Aku mendengar suara isak tangis di luar ruangan. Selain itu, terdengar juga derap langkah seseorang yang begitu terburu-buru ke tempat pasien di sebelah ranjangku. Hanya saja aku tak bisa melihatnya, karena terhalang korden hijau ini.
"Huwa!!!"
"Kenapa nasib Jiya, malang banget sih. Belum juga genap nikah setahun tapi udah jadi janda. Udah gitu Om Ferdi juga tega, kitakan belum ngelakuin malam pertama, tapi kenapa udah ninggalin dunia ini duluan. Terus, gimana sama Jiya? Huhuhu ..."
Eh! Kenapa suaranya tak begitu asing ditelinga? Aku seolah-olah merasa akrab dengan suara dan isakan tangis itu.
"Pokoknya Jiya nggak mau jadi janda kembang, Jiya belum siap lahir batin hiks."
Nggak salah lagi, itu suara Jiya. Bocah rese yang sering membuat kepalaku pusing tujuh keliling.
"Ji!" panggilku lirih masih belum mendapat sahutan.
Aku malah mendengar suara tangisnya semakin kencang dan menjadi-jadi saja dari balik korden ini.
"Jiya, aku di sini. Aku belum mati!" teriakku akhirnya.
Kudengar suara tangis bocah itu mereda. Lantas tiba-tiba korden hijau yang tadi diam-diam saja di dekatku. Mendadak tersibak dengan begitu kencangnya.
Menampilkan sosok seorang remaja yang dipenuhi linangan air mata dan juga ingus. Selain itu, rambutnya juga sangat semrawut denganĀ mata merah yang menatap diriku penuh duka.
"Om Ferdi!" teriaknya masih ditempat.
Jiya bahkan masih sempat-sempatnya, menarik rakus ingusnya sendiri untuk kembali masuk ke dalam hidung. Sebelum berlari dengan cepat menerjangku yang kini melebarkan kedua tangan, mengajaknya berpelukan.
"Huwa! Jika pikir Om Ferdi udah meninggoy." Bocah rese itu berkata sembari mendusel-duselkan wajahnya yang masih penuh ingus ke dadaku.
Aku yang melihat tingkahnya, hanya bisa tersenyum, sambil mengusap-usap lembut puncak kepala Jiya sayang.
__ADS_1
"Kupikir, kamu satu-satunya orang yang bakal seneng kalau aku udah nggak ada."
Kulihat kepala Jiya terdongak dengan cepat setelah mendengar kata-kataku tadi. Kemudian tanpa ba-bi-bu tangan kanannya mencubit bibirku ini sampai monyong.
"Huss, nggak boleh ngomong gitu. Apalagi soal mati, itu nggak boleh dibuat becandaan, Om!" nasehatnya mirip emak-emak.
Sejujurnya aku cukup kaget dengan reaksi Jiya yang begini. Kupikir bocah itu tidak akan peduli denganku. Namun nyatanya, dia satu-satunya orang yang bergegas ke rumah sakit dan masih mengenakan baju tidur semalam. Hanya untuk mengecek kondisiku di sini.
"Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana, aku kecelakaan?" tanyaku mengalihkan topik. Selain itu, aku memang penasaran sih.
Kulihat muka Jiya yang tadinya sedikit kesal kini berubah lesu. Mengembuskan napas berat, dia lalu menjawab. "Tante lemper."
Alisku spontan terangkat sebelah. Belum ngeh, dengan perkataan Jiya barusan.
"Tante lemper? Siapa?"
"Cewek bohay yang jadi sekertaris Om Ferdi, puas?"
Sebentar, apa bocah rese itu sedang cemburu sekarang?
"Kamu cemburu? Tenang, Gisel itu cuma rekan kerja kok, nggak lebih dan nggak kurang." Aku mencoba menjelaskan.
Namun, raut kesal diwajah Jiya belum juga sepenuhnya hilang. Dengan tangan yang bersedekap dan tatapan yang masih menunjukkan api cemburu, bocah rese itu hanya berdecih saja.
"Bodo amat, lagian semua cowok sama aja, nggak bisa dipercaya."
"Kalau semua sama, berarti aku mirip Taehyung, dong?" ujarku sengaja menggodanya.
Jiya malah semakin menatapku tak suka. "Bedalah. Om Ferdi 'kan mirip Suneo!"
"Kan, kamu bilang semua cowok." Lagi, aku membalasnya. Kali ini seraya menaikan-turunkan alis, biar dikira udah berhasil menang telak dari si bocah rese itu.
"Yang ada di Indo, Om!" ujarnya, ngegas.
__ADS_1
Bibirku tersenyum lebar kemudian. "Berarti, Papi kamu sama aja dong. Sama-sama nggak bisa dipercaya."
Detik itu juga, Jiya diam dengan pupil mata melebar. Berbeda denganku yang langsung berteriak di dalam hati karena menang telak darinya.
Ngomong-ngomong soal kecelakaan yang aku alami. Untung saja, aku tak mendapat cidera yang begitu serius. Aku hanya menderita parah tulang dibagian tangan dan tak membutuhkan opname segala.
Keesokan harinya, aku juga sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dan diberi saran untuk sering cek up secara rutin, serta tak mengerjakan sesuatu pekerjaan yang berat, seperti mengangkat-angkat barang untuk beberapa waktu ke depan.
Momi yang waktu itu ikut mendampingi diriku, cuma manggut-manggut saja dan tak banyak berkomentar. Yang ada, malah dia langsung melirik ke arahku tajam saat sampai diparkiran mobil. Kemudian menjewer telinga kiriku keras sekali.
"Makanya, kalau orang tua ngomong itu di dengerin. Lagian, udah tahu weekend masih aja ngoyo kerja. Kamu itu manusia, bukan robot Fer!" jelas Momi.
Tatapan matanya tajam sekali, seakan bisa menebus ke dalam tulang. Meskipun sudah sering dimarahi dari dulu, terkadang aku juga masih kelimpungan sendiri. Yah, sebelah dua belas kayak Daddy, tipe-tipe suami takut istri. Pokoknya mah, mending cari aman saja dari pada dapat ceramah dari Momi.
"Namanya juga musibah, Mom. Mana Ferdi tahu."
"Masih bisa ngeles, kamu?" kata Momi sedikit berteriak.
Aku makin kehilangan nyali. Benar-benar deh, mau udah sedewasa apapun diriku, kalau lawannya modelan Momi. Nyaliku juga bisa ciut, cuy.
"Coba aja kemarin kamu dengerin Momi buat nggak pergi. Pasti nggak bakal celaka begini. Selain itu, Momi juga kasihan sama Jiya. Menantu kesayangan Momi itu jadi harus belajar ektra buat ujiannya, gara-gara nungguin kamu sampai sadar kemarin."
Jiya, nungguin aku sadar? Momi, lagi nggak becanda 'kan?
"Kenapa diem, udah ngerasa nyesel sekarang?" celetuk Momi saat melihatku yang melamun tiba-tiba.
Secepatnya aku menggeleng-gelengkan kepala. Lalu, meminta Momi untuk menjemput Jiya terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah.
Untungnya, Momi menyanggupinya. Dengan secepat kilat, dia mengantarku pergi sampai ke depan gerbang sekolah Jiya.
Sesampainya di sana, aku dan Momi menunggu bocah itu keluar. Hanya saja, belum juga ada tanda-tanda anak-anak sekolah yang keluar dari tadi. Atau mungkin memang belum jamnya?
Lima belas menit kemudian, mulai terlihat beberapa anak yang keluar sekolah. Tak terkecuali si bocah rese itu. Kulihat, Jiya berjalan beriringan dengan Nadin dan Sekar di masing-masing sisi. Hanya saja, saat sampai di depan gerbang tiba-tiba muncul seorang cowok berseragam yang mencium pipi Jiya tiba-tiba, membuat tanganku terkepal tanpa sadar.
__ADS_1