Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Pilihan Sulit


__ADS_3

"Jiya!!!"


Aku berteriak sekeras mungkin saat melihat tubuh orang yang paling kucintai itu. Terlempar jauh karena tertabrak truk, kemudian menghantam aspal jalan dengan begitu kerasnya. Membuat darah segar seketika mengucur deras dari bagian kepala serta tubuh Jiya yang lain.


Saat kakiku sampai di dekat tubuhnya yang kini penuh cairan berbau mesiu nan amis itu. Aku melihat sorot mata rapuh Jiya serta senyuman hangat miliknya untuk terakhir kali, sebelum mata cantik itu tertutup rapat.


Yang kontan saja membuat air mataku mengucur deras begitu saja.


"Ji-Jiya! Bangun! Bangun, Ji!" teriakku mirip orang gila seraya merengkuh tubuhnya yang mulai dingin.


Pikiranku blank, sampai tak tahu harus berbuat apa. Hingga tak lama setelahnya, kudengar suara sirine ambulan yang mulai mendekat.


Sekaligus beberapa orang-orang medis yang langsung mengangkat tubuh Jiya untuk naik ke brankar. Kemudian melarikan Jiya menuju rumah sakit dengan cepatnya.


Mungkin disepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya mengusap permukaan wajah istri kecilku itu sayang. Seraya merapal doa yang kubisa, agar keselamatannya masih dijaga oleh sang Pencipta. Selain itu, aku tak pernah melepaskan tangan milik Jiya sekalipun dari genggaman tanganku ini.


"Bisa lebih cepat lagi, Pak? Istri saya kritis dan dia sedang mengandung!" kataku cukup kesal karena ambulan yang membawa kami tak berjalan cepat seperti yang aku harapkan.


"Iya, Pak. Saya juga sedang berusaha untuk membawa pasien sampai rumah sakit tepat waktu," balas sang supir ikutan panik.


Entah berapa lama ambulan yang aku naiki ini sampai di rumah sakit. Yang pasti, saat kami tiba. Aku langsung dengan sigap mendorong brankar Jiya menuju ruang UGD dengan cepat bersama, beberapa petugas medis yang lain.


Saking terburu-burunya, terlihat orang-orang yang sedang mengantri di koridor melihat ke arahku dengan tatapan penuh tanda tanya, karena stelan jasku yang kini tak lagi berupa. Sekaligus, karena dipenuhi banyak sekali noda darah di sana, tak terkecuali wajah dan kedua telapak tanganku ini. Belum lagi, penampilanku yang awut-awutan dengan wajah masih dipenuhi sisa-sisa air mata. Membuatku kini menjadi pusat perhatian semua orang.


Brak!

__ADS_1


Pintu UGD ditutup rapat dengan aku yang hanya bisa melihat sosok Jiya yang tak sadarkan diri itu, dari luar ruangan dengan perasaan campur aduk.


Hingga tanpa sadar, aku menjatuhkan diriku sendiri. Sampai terduduk tak berdaya di atas lantai keramik rumah sakit yang dingin. Merasa bersalah akan semuanya.


"Ferdi!" pekik Momi, setelah beberapa jam tiba.


Aku yang melihat sosok itu, langsung menghambur ke arahnya dengan tangis yang tumpah ruah. Memeluk tubuh Momi erat, sampai tak sanggup hanya untuk mengambil napas barang sesaat.


"Mom, Ji-Jiya ... Jiya kecelakaan gara-gara Ferdi!"


"Ji-Jiya, hmmm ..." Aku tak mampu lagi menyembunyikan bagaimana rasa sakit serta sesak yang aku rasakan saat ini.


Bagaimana takutnya aku, kalau sampai kehilangan sosok Jiya yang cerah itu.


Momi yang melihatku begitu rapuh, kemudian menangkup wajahku kuat. Membuat mata kami bertemu pandang detik itu juga.


"Kamu juga harus inget Fer, kalau Allah ngasih kita beberapa nikmat. Entah itu nikmat sakit, sehat ataupun dengan cobaan begini. Tapi, kamu nggak boleh marah atau menyalahkan siapapun. Karena itu tandanya, Allah percaya sama kamu. Allah yakin kalau kamu kuat buat menerima hal ini, daripada orang lain. Kalau kamu tanya, apa Momi sedih? Momi bakal jawab iya, cuma Momi udah memasrahkan diri serta semuanya ke tangan yang Diatas, sekaligus yakin kalau Jiya bakal baik-baik aja." Momi menjelaskan semuanya dengan tenang dan bijaksana.


Yang membuatku perlahan-lahan mulai menghentikan tangis ini. Kemudian mengucap istighfar beberapa kali. Yah, terlarut dalam kesedihan terlalu lama itu juga bukan hal yang baik.


Jadi, selagi Momi sudah tiba di sini. Aku pun memintanya untuk menjaga Jiya sebentar di depan ruang UGD.


Rencananya aku ingin pergi mengambil air wudhu untuk menenangkan diri, sekaligus solat tahajud malam. Selain itu, aku juga ingin mendoakan keadaan Jiya yang belum juga mendapat kabar dari dokter yang menanganinya dari tadi.


Di mushola kecil ini, aku duduk bersila dengan kedua tangan yang menengadah ke atas. Meminta segala sesuatu akan keselamatan Jiya serta janin yang dia kandung, pada sang Maha Pencipta.

__ADS_1


Lagi-lagi dengan air mata yang tumpah kembali karena masih belum bisa melupakan kejadian beberapa waktu yang lalu. Di dalam tangisku, aku memohon agar Jiya bisa segera sadar dan kembali menjalani kehidupannya bersamaku dengan baik seperti dulu. Bercanda serta bersenda gurau atau saling adu bacot seperti biasanya.


Namun, sebagian harapanku seolah lenyap saat kudengar dokter memintaku untuk memilih satu dari keduanya.


"Benturan pada tubuh istri bapak sangat keras. Dan itu bisa melukai sang ibu serta janin yang dikandungnya. Jadi hanya ada satu pilihan, apakah bapak akan menyelamatkan istri bapak atau janin yang ada dikandungannya. Cuma, jika bapak memilih janin, keadaanya juga sangatlah rentan karena baru berusia beberapa bul-"


"Saya pilih istri saya, Dok! Tolong selamat dia apapun yang terjadi." Aku memotong cepat dengan tekad yang sudah bulat.


Meskipun aku tahu, Jiya pasti tidak akan menerima keputusanku ini setelah sadar nanti. Namun, aku harus tetap melakukannya demi keselamatan istriku itu.


Momi sendiri yang berdiri disebelahku, hanya mengangguk pelan. Dia memang menyetujuinya, tapi aku tahu arti dari raut wajahnya yang kelihatan kecewa itu. Hanya saja, kita bisa apa? Mungkin lain cerita kalau dokter bilang kami bisa menyelamatkan keduanya sekaligus.


Ini memang berat. Aku akui itu, terlebih lagi ini pengalaman pertamaku yang hampir menjadi seorang ayah. Namun, langsung segera dihempaskan oleh kenyataan yang pedih.


Tak lama setelah itu, operasi Jiya pun dimulai. Dengan aku dan Momi serta Mamah Vivi yang sudah sedari tadi menunggu operasi Jiya di ruang tunggu.


Mungkin hampir dua jam lebih, kami menanti dengan perasaan harap-harap cemas di luar ruangan. Seraya merapal doa agar kegiatan itu berjalan dengan lancar di dalam sana.


Kriettt ...


Kulihat pintu UGD terbuka, yang memunculkan satu sosok dengan pakaian operasi keluar dari sana.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Selain itu, kalian juga sudah bisa menemui pasien. Hanya saja, jangan langsung banyak orang, yah. Bisa dimulai satu-persatu terlebih dahulu," jelas dokter padaku, Momi dan juga Mamah Vivi.


Kami bertiga langsung mengangguk, mengerti. Berhubung Mamah Vivi, orang yang melahirkan Jiya. Jadi aku mempersilahkannya untuk pergi terlebih dahulu, berlanjut dengan Momi yang diakhiri denganku nanti.

__ADS_1


Hanya saja, saat aku memasuki ruangan Jiya. Sosok itu tampak enggan memalingkan wajahnya ke arahku dan malah memilih untuk menatap ke arah jendela luar.


"Ngapain Om Ferdi ke sini? Bukannya Om Ferdi seneng, kalau Jiya sekarat begini?"


__ADS_2