Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Jadi Stalker


__ADS_3

Wajib sambil dengar lagu 'Same old love' (Selena Gomez)


Ku usap permukaan wajah Jiya sayang, saat dia sudah terlelap jauh dan tertidur di atas pelukanku. Sembari, kudendangkannya sebuah lagu penghantar tidur yang biasanya aku lakukan untuk Jiya, jika dia mengalami mimpi buruk.


Jujur, jika melihatnya begini. Jiya benar-benar terlihat rapuh. Namun, akan berbeda saat kelopak matanya sudah terbuka serta kesadarannya telah pulih kembali.


Aku yakin, dia pasti akan langsung berteriak di depan wajahku dan memaki-maki karena kesal. Jadi, aku cukup berterimakasih pada pengaruh alkohol ini, yang telah membuat Jiya menjadi jujur akan isi hatinya yang dia tahan-tahan selama ini.


Disaat yang sama pula, aku tiba-tiba merasakan rasa kantuk yang luar biasa. Berkat menghirup aroma tubuh Jiya yang candu. Hingga tak sadar, ikut memejamkan mata hingga pagi tiba.


Saat terbangun, aku langsung melihat sosok Jiya yang sudah menatapku dengan sengit. Kedua matanya melotot tajam ke arahku, dengan tangan yang dia sedekapkan di depan dada, marah.


Hanya saja, aku malah menampilkan ekspresi wajah mirip seorang pria hidung belang, yang ketahuan semalam telah melakukan one stand night dengannya.


Membuat Jiya semakin menatapku penuh amarah saat ini.


"Udah bangun? Gimana, semalam tidur nyenyak? Ngomong-ngomong kamu juga, ninggalin jejak di sini," celetukku seraya menunjukkan bekas merah yang berasal dari lipstik Jiya.


Ralat, tak sengaja saja. Cuma aku, berpura-pura membuat skenario jika semalam kami telah melakukan hal intim di dalam mobil. Yang seketika membuat hidung Jiya kembang-kempis.


"Nggak mungkin!" bantahnya cepat.


Aku menaikan sebelah alisku, seraya tersenyum ala-ala seorang Casanova. Ternyata berteman dengan Aaron, membuatku tanpa sadar bisa meniru gerak-geriknya saat berhadapan dengan wanita.


"Kenapa nggak mungkin? Ketika masing-masing dari kita mau dan ingin melakukannya, tentu hal semacam itu bisa terjadi. Benar, kan?" balasku.


"Brengsek!" teriaknya hampir menampar pipiku.


Hanya saja, masih bisa kutangkis saat itu juga. Dengan pergelangan tangan Jiya yang malahan berada dalam cengkeramanku sekarang.


Melihat tangannya masih berada digenggamanku. Jiya mulai berontak, yang membuat tubuhnya kutarik mendekat hingga membuatnya tak bisa lagi melawan.

__ADS_1


"Berhenti," bisikku lirih.


Tepat di dekat telinga Jiya, yang kini sedikit menegang. Tubuhnya, bahkan tak lagi melawan saat berada diposisi ini. Posisi yang membuatku bisa melakukan apapun yang kumau pada tubuhnya, jika aku ingin.


Sayangnya, aku hanya ingin menggoda bocah rese itu saja. Lantas melepaskan pergelangan tangannya, saat raut wajah panik mulai menghiasi muka Jiya.


"Padahal cuma bisikan kecil, tapi kenapa Anda langsung tegang?" kataku ikut-ikutan formal seperti yang akhir-akhir ini Jiya lakukan padaku.


"Bukankah itu sudah jelas, kalau tubuh Anda masih mendambakan saya?" sambungku lagi, kulihat Jiya terdiam karena kehilangan kata-kata.


Dua hari setelah kejadian itu, kami tak bertemu lagi. Tapi, bukan berarti aku akan berpangku tangan dan diam saja. Aku pasti akan terus memantau segala gerak-geriknya dari jauh. Karena tekadku sudah begitu bulat untuk tak membiarkan Jiya lepas dan bersama dengan Ilyas itu.


Seperti sekarang. Tepat setelah pulang kerja, aku langsung pergi membututi Jiya dan Ilyas, saat tak sengaja berpapasan saat dilampu merah.


Mengikuti mobil Lamborghini berwarna merah itu, yang terlihat melenggang di jalan raya menuju ke suatu tempat rekreasi yang sangat terkenal di kota ini.


Yakni, ke sebuah pantai dengan pasir putih, yang begitu cantik karena dikelilingi dengan batuan zaman prasejarah.


Semprul!


Aku yang tak mau ketahuan sedang membututi keduanya. Bergegas masuk ke salah satu toko baju untuk menyamar. Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat sosok Clara yang sama-sama ada di toko tempatku membeli baju ini.


"Clara?" panggilku dengan sebelah alis mengernyit, heran.


"Ferdi?" panggil mantan bintang iklanku, heran juga.


"Ngapain?!" kata kami kompak dengan jari telunjuk yang mengarah ke wajah satu sama lain.


Nah, loh. Bisa kebetulan begini.


Ku usap permukaan wajahku kasar, sebelum mempersilahkan dirinya untuk bicara duluan. "Kamu dulu, lagi ngapain di sini?"

__ADS_1


Kulihat Clara menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal, salah tingkah. Kemudian terkekeh pelan, seraya melihat ke arahku.


"Lagi nge-stalk calon suami gue. Kalau lo sendiri?"


"Ngikutin istri gue, kenapa?!" balasku tak bersahabat. Yang membuat mata Clara langsung melotot seketika.


"Lo udah punya bini? Kapan nikah, kenapa gue nggak tahu?" tanyanya menuntut.


Aku cuma mengangkat bahu cuek. Enggan menanggapi. "Kapan-kapan aja gue jelasin, gue buru-buru soalnya. Takut, bini gue dipepet sama buaya."


"Loh bentar, gue juga. Soalnya calon gue diem-diem main belakang. Emang bini lo yang mana, Fer?" Kulihat kepala Clara melirik ke sana-kemari. Mencari sosok wanita yang berstatus sebagai istriku.


Merasa kasihan, akhirnya kuberi dia petunjuk dengan jari telunjuk yang mengarah langsung ke seorang wanita berambut cokelat sebahu di depan penjual es dawet.


Detik itu juga, Clara langsung berteriak heboh dan hampir hilang kendali kalau saja, tak segera kutahan dirinya.


"Dia pelakor! Lo pasti bohongkan, mana mungkin pelakor yang mau mepet calon suami gue, istri lo!" ujar Clara. Aku langsung teringat dengan sosok Ilyas seketika.


"Ilyas, calon suami lo?!" balasku berteriak tak kalah kaget juga.


"Iya, kita bahkan mau nikah Minggu depan. Tapi, dia berubah semenjak ada wanita itu. Parahnya lagi, Ilyas udah nggak semanis dulu."


Mendengar penjelasan Clara membuatku termenung beberapa saat seketika. Namun, karena hal itu juga, aku jadi mendapat sebuah ide yang brilian.


"Ra, gue bisa minta tolong sesuatu?" ujarku tiba-tiba yang langsung mendapat anggukan kepala ringan dari Clara.


Beberapa menit setelah itu, aku dan Clara memulai aksi kami. Sejujurnya, ini lebih ke aksi berani Clara, sih. Karena aku meminta dia untuk tiba-tiba muncul diantara Ilyas dan Jiya yang kini masih bersenda gurau bersama, duduk tak jauh di tepi pantai.


Selain itu, aku juga meminta Clara untuk mengatakan semua tentang hubunganku dan dia yang hanya sebatas rekan kerja. Terutama tentang kejadian malam itu. Sebuah kejadian yang membuatku dan Jiya mengalami kesalahpahaman yang begitu panjang hingga saat ini.


Dari jauh, aku mulai melihat Clara yang tiba-tiba datang seperti orang ketiga diantara hubungan Ilyas dan Jiya. Apalagi, saat wanita itu memanggil Ilyas dengan sebutan 'Sayang', Jiya langsung bereaksi. Kemudian memilih untuk duduk sedikit menjauh dari Ilyas.

__ADS_1


Hingga tak lama setelah itu, pengakuan yang kutunggu-tunggu dengan harap-harap cemas sedari tadi. Mulai Clara lontarkan satu persatu pada Jiya.


__ADS_2