
Semenjak resepsi hari itu, aku mulai kembali disibukkan dengan rutinitas kantor. Tak terkecuali Jiya yang juga sibuk mengelola bisnis minumannya juga.
Apalagi, Jiya akhir-akhir ini akan mengeluarkan produk baru. Otomatis membuat kami makin jarang untuk bertemu.
Bisa dibilang, penthouse itu seperti rumah kedua dari pada kantor yang sering kujadikan tempat untuk begadang dan lembur.
Meskipun begitu, bukan berarti komunikasiku dan Jiya menjadi terganggu. Sebaliknya, kami malah menjadi semakin dekat dari hari ke hari. Entah hanya sekedar bertukar kabar lewat pesan, mengobrol singkat via telepon. Atau saling mengucapkan selamat malam melalui video call. Semua kami lakukan supaya kejadian miskomunikasi waktu itu tak terulang lagi.
Beberapa hari kemudian. Kulihat Aaron mondar-mandir di depan ruanganku. Wajahnya terlihat gusar dan tangannya berulang kali mengetuk-ngetuk pelan ujung dagunya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Aku yang diam-diam mengamatinya dari dalam ruanganku, mencoba menunggu sahabatku itu untuk masuk selama beberapa menit. Tapi, setelah ditunggu hampir setengah jam. Aaron masih saja mondar-mandir seperti setrikaan, tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.
Jengah, akhirnya kuputuskan untuk bertanya padanya. Terlebih lagi, makin lama, kulihat guratan-guratan di wajah Aaron itu makin menjadi-jadi.
"Lo kenapa mondar-mandir gitu? Udah selesai ngurusin kerjaan?" tanyaku yang kontan membuat Aaron menolehkan kepalanya.
"Fer!" panggilnya dengan raut wajah yang terlihat sumringah, berbeda dengan dirinya yang tadi.
Aku yang melihatnya mulai berjalan mendekat ke arah pintu ruanganku, lantas menyenderkan punggungku ke pintu masuk dengan tangan bersedekap di depan dada.
"Apa?" balasku datar seperti biasa.
"Eum, gue bingung mau ngomongin ini dari mana dulu. Tapi, gue harap lo mau ngasih pengertian ke gue." Aaron berkata hati-hati, dengan pandangan mata yang beberapa kali melihat ke arah lain daripada wajahku.
"Soal?"
__ADS_1
"Mila, jangan bilang lo nggak tahu kalau sekarang tanggal 31?" ujar Aaron menebak.
Yang membuatku langsung mengernyitkan alis. Kemudian tersenyum di detik yang sama.
"Ah, Mila mau lahiran yah?" tanyaku.
Aaron tampak tersenyum puas. "Iya, jadi gue mau minta cuti beberapa hari buat bantu istri gue selama persalinan. Boleh?"
"Seminggu cukup?" balasku cepat, yang membuat Aaron tersenyum.
"Cukup banget malah."
"Ya udah, lo ambil aja cuti seminggu. Dengan satu syarat harus ada yang bisa ngehandle pekerjaan lo, selama lo libur. Ngerti?" Aku berucap lagi, yang kali ini dibalas dengan anggukan kepala singkat Aaron.
Dan benar saja, seperti apa yang Aaron dan Mila waktu itu katakan. Tepatnya sore hari ditanggal 31, Mila resmi menjadi seorang ibu. Wanita itu melahirkan seorang bayi berjenis kelamin perempuan yang akan diberi nama Mily.
Bayi dengan bobot kurang dari tiga kilo itu, lahir dengan lancar dan disambut dengan suka cita oleh semua orang. Termasuk aku dan Jiya yang hari itu juga ikut menunggu Mila di depan ruang bersalin.
Mulanya di jam-jam sebelum proses persalinan, Aaron tampak cemas. Dia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri saat melihat beberapa dokter bolak-balik keluar masuk ke dalam ruangan persalinan Mila, karena air ketubannya pecah. Sudah begitu Mila mengeluh kalau perutnya terasa begitu sakit, hingga menggerakkan posisinya sedikit ke samping itu sulit. Seperti, semua yang dia lakukan serba salah sebelum bayinya benar-benar keluar.
Jiya yang hanya bisa menunggu di luar ruangan bersamaku juga tak kalah cemas. Mungkin beberapa kali kulihat si bocah rese itu menggigiti kukunya sendiri saat mendengar teriakkan Mila yang begitu melengking.
"Om, kalau lahiran normal sesakit itu, yah?" tanyanya dengan ekspresi takut bercampur panik.
Aku yang kebetulan duduk disebelahnya langsung mengusap puncak kepala istri kecilku itu sayang.
__ADS_1
"Dengar-dengar sih, kayak perjuangan hidup dan mati. Tapi soal rasanya aku ya nggak tahulah, kan aku cowok. Mungkin kalau kamu tanya gimana rasanya disunat, aku baru bisa cerita," kataku terus terang yang kemudian diberi cubitan keras diperut oleh Jiya.
"Kayaknya percuma deh, Jiya tanya soal begitu ke Om Ferdi. Coba aja kalau di sini ada Momi sama Mamah, mereka pasti bisa langsung jawab."
"Lah, kan mereka udah pengalaman sudah begitu gendernya sama kayak kamu." Lagi aku membalasnya, yang Jiya jawab dengan embusan berat lewat mulut.
"Au, ah."
Tak lama setelah adu bacotku sama Jiya yang sering banget bertengkar hanya karena hal-hal sepele. Suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin Mila pun terdengar. Begitu juga dengan kata 'alhamdulilah' dari orang-orang di dalam ruangan bersalin itu. Yang menandakan jika anak Aaron dan Mila telah lahir di dunia ini dengan selamat.
Tak lama setelah itu, aku dan Jiya berusaha mengintip dari celah pintu masuk, mirip anak TK yang sedang main petak umpet. Melongok sedikit ke dalam untuk melihat bagaimana kondisi di dalam ruangan yang sudah tak begitu penuh dari pada sebelumnya.
Terlihat di sisi ruangan sebelah kiri, Aaron tengah mengadzani buah hatinya itu, sepenuh hati dan tampak khusyuk. Sedangkan ditengah-tengah ruangan, tepatnya di atas ranjang rumah sakit. Ada Mila dan beberapa orang perawat yang membantu persalinannya beberapa menit yang lalu, juga mertua Aaron yang Kulihat setiap waktu mengajak Mila berbicara agar wanita itu tak langsung tertidur setelah melakukan persalinan.
Aaron yang rupanya baru selesai mengadzani anaknya, tak sengaja melihat aku dan Jiya yang masih mengintip dari balik pintu. Dia lantas menyuruhku dan bocah rese itu untuk masuk ke dalam ruangan tempat bersalin Mila itu.
Tak lama setelah memasuki ruangan. Jiya terlihat menghampiri Mila terlebih dahulu sebelum melihat bayi yang kali ini berada dalam gendongan salah satu perawat. Sedangkan aku langsung menghampiri diri Aaron untuk mengucapkan kata selamat padanya.
"Gue ucapin selamat yah bro, karena lo udah jadi seorang Ayah sekarang. Tapi inget, jangan ngelakuin kebiasaan buruk lo yang suka banget mainin cewek. Apalagi sekarang lo udah punya istri dan anak. Terutama anak lo sendiri cewek. Ingat soal istilah karma itu nyata, tapi gue harap semoga Mily nggak jadi player kayak bapaknya. Atau salah satu dari korban cowok buaya darat. Aamiin ..." jelasku panjang lebar yang langsung diaaminkan oleh Aaron.
"Iya Fer, gue juga berharap gitu. Semoga aja Mila benar-benar jadi pelabuhan terakhir gue. Dan untuk kedepannya gue bisa jadi suami serta Ayah yang baik buat keluarga kecil gue ini. Aamiin." Aaron membalas ucapanku barusan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca saking terharunya.
"Aamiin," kataku. Ikut mengaminkan doanya barusan.
"Om Ferdi, lihat deh sini. Bayinya lucu banget!" seru Jiya hati-hati seraya melambaikan tangannya ke arahku.
__ADS_1