Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Kolam Renang


__ADS_3

"Nih makan, katanya tadi nungguin." Aku berujar seraya menyodorkan sekotak ayam goreng dan juga dua gelas minuman kesukaannya itu.


"Asyik, makasih Om Ferdi!" serunya riang, tanpa beban.


Kulihat Jiya dengan rasa tak sabar mulai menyambar kantong kresek berisi ayam goreng itu. Membukanya buru-buru, kemudian memakannya dengan lahap. Saking lahapnya, kedua tangan bocah itu memegang satu potong paha ayam, untuk digigit secara bergantian.


"Sama-sama, makan aja sampe kenyang. Asal kamu nggak lupa setelah itu kita bakal ngelakuin malam pertama yang tertunda," balasku sedikit berjeda.


Yang membuat bocah rese itu berhenti mengunyah seketika. Pandangan matanya yang tadinya dipenuhi binar, kini menatap lurus ke arahku yang masih berdiri di dekat ranjang dengan senyuman simpul dibibir.


"Aku tunggu kamu di kolam renang setelah makan," lanjutku lagi. Jiya langsung terbatuk-batuk kecil mendengarnya.


Namun, aku masa bodoh saja. Tetap melanjutkan langkahku, pergi menuju kolam renang.


Sejujurnya, kamar tempatku menginap mempunyai kolam renang sendiri yang jaraknya tak begitu jauh dari kamar tidur. Mungkin, hanya beberapa langkah saja dari balkon. Kemudian berbelok sedikit ke kiri, kami bisa menikmati senja disore hari maupun pemandangan langit malam seraya berenang sepuas mungkin di sana.


Setelah meninggalkan Jiya sendirian di dalam. Aku segera membuka pintu geser yang terbuat dari kaca itu ke samping. Membuat udara malam seketika menyerbu masuk ke dalam kamar.


Jika dilihat-lihat, pemandangan malam hari tampak begitu indah. Terlebih lagi, pantulan cahaya dari lampu-lampu bangunan pencakar langit, serta rumah-rumah penduduk, membuatku merasa takjub.


Beberapa detik kemudian, kuputuskan untuk membuka kaos atasku. Meletakkannya di atas kursi santai kemudian beranjak pergi menuju ke tepian kolam.


Yah, aku ingin menikmati pemandangan kota Busan dengan berendam di kolam. Kupikir, itu hal yang menyenangkan.


Detik berganti menjadi menit, yang kemudian berubah juga menjadi jam. Entahlah, sudah berapa lama aku berendam seraya menikmati pemandangan kota Busan yang disuguhkan. Namun, sampai detik ini. Belum juga kudapati sosok Jiya keluar kamar.


Apa, dia ketiduran?


Pikirku, tatkala mengingat Jiya makan dengan lahapnya tadi. Yah, biasanya 'kan, kita akan cepat terserang rasa kantuk jika makan terlalu banyak. Jadi, aku mengambil spekulasi seperti itu pada Jiya.

__ADS_1


Mulanya aku ingin menunggui bocah rese itu sepuluh menit lagi di kolam renang. Namun, saat aku ingin beranjak untuk naik, setelah merasa suhu air mulai dingin. Aku malah mendengar suara panggilan Jiya dari tepi kolam. Kontan saja, langsung kualihkan wajahku untuk melihat ke arahnya.


"Om Ferdi, udah nunggu lama, yah?" katanya malu-malu, dengan tangan yang menyampirkan helaian anak rambutnya kebelakang telinga.


Aku yang melihat sosok Jiya, langsung mematung ditempat. Memandanginya tanpa berkedip, saking terkejutnya.


Di sana, tepatnya tak jauh dari tepi kolam. Kulihat Jiya berdiri dengan tangan memeluk bagian atas tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan bikini berwarna merah. Dan itu cukup mengekspos lekuk-lekuk tubuhnya sekaligus, kulitnya yang putih.


Tanpa sadar, aku yang terlalu lama melihatnya langsung memalingkan wajah karena malu. Kemudian meneguk ludahku sendiri dengan berat.


Entahlah, tapi aku merasa mendadak kerongkonganku mengalami kemarau ekstrim, yang butuh dibasahi dengan air secepat mungkin.


Berdeham pelan, sebisa mungkin aku mengontrol akal sehatku yang sudah berpikiran kemana-mana. Segera memalingkan wajah ke arah bocah rese itu yang terlihat menunggu balasan dari pertanyaannya.


"Yah, lumayan. Ngomong-ngomong, apa kamu mau berdiri aja di situ? Kenapa nggak ikut masuk ke dalam air juga?" tanyaku balik.


Saat itu, kurasa jantungku berdebar dengan begitu kencangnya. Tiap kali, langkah kaki Jiya mulai mendekat. Semacam ada magnet yang kuat, dan membuatku tak bisa melepaskan pandangan mataku ini dari Jiya.


Gila sih, aku benar-benar mirip cowok mata keranjang sekarang.


"Om, boleh Jiya berdiri di situ?" ujar si bocah rese itu, seraya menunjuk tempat kosong di depan tubuhku. "Jiya takut jatuh, jadi mending dijagain Om Ferdi aja lewat belakang."


Aku yang mendengar ucapannya merasa ambigu. Memang sih, posisiku berdiri sekarang seolah menyisakan ruang di antara lengan tangan yang sedang berpegangan pada pembatas kolam. Nah, Jiya minta buat berdiri ditengah-tengahnya. Padahal, jelas-jelas masih banyak tempat yang bisa dia tempati buat melihat pemandangan malam.


Jujur, aku nggak yakin bisa nahan kalau dia beneran berdiri di depan tubuhku tepat.


"Boleh?" tanyanya lagi. Aku tanpa sadar mengangguk ringan.


Perlahan, Jiya mulai berjalan semakin dekat ke arahku. Lalu saat jarak kami hanya tinggal beberapa centi saja, tangannya mengangkat tangan kiriku yang tadi masih berpegangan pada pembatas. Bocah rese itu beneran masuk dan berdiri di depanku. Membuatku yang tiba-tiba mencium aroma tubuhnya kembali terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


Sungguh, posisi ini benar-benar ...


"Wah, cantik banget. Pantes aja, Om Ferdi suka." Jiya berseru yang kubalas tiap kata-katanya itu dengan cepat.


"Iya, cantik banget!" balasku seraya menatap Jiya dari belakang.


Meskipun posisi kami begini, namun aku masih bisa melihat wajah Jiya yang ayu itu serta senyumannya yang manis dari samping.


Saking cantiknya wajah istriku, bahkan aku tak lagi tertarik untuk melihat pemandangan kota Busan di malam hari. Seolah-olah, Jiya sudah menyedot perhatianku dari semua hal di dunia ini.


"Om," panggilnya lembut, seraya menolehkan wajahnya sedikit kebelakang untuk melihat diriku.


"Hm?" balasku mulai parau.


Terdiam beberapa saat, bocah rese itu lantas melanjutkan ucapannya kembali. "Ji-Jiya ... Anu ... Eum ..."


"Yah?" tanyaku mulai penasaran.


Pasalnya, ekspresi Jiya yang tadinya ceria setelah melihat pemandangan kota Busan. Mendadak berubah gugup, seperti ingin menyampaikan suatu hal padaku namun terlihat tidak enak untuk menyampaikan secara gamblang.


"Kenapa, Ji? Kok, kamu kayak bingung gitu mau ngomongnya. Nggak apa-apa, kasih tahu aja, aku pasti bakal dengerin kok," balasku tenang, supaya tak membuat Jiya gugup.


Setelah mendengar ucapanku barusan, kulihat Jiya menghirup oksigen rakus, sebelum mengembuskannya kembali lewat mulut.


Pandangan matanya yang tadinya bolak-balik melirik ke sekeliling, karena gugup. Kini berubah lurus menatap ke arahku dengan serius.


"Om, Jiya ngerasa ada sesuatu yang mengganjal dan dari tadi nggak sengaja nusuk dari bagian belakang. Ngomong-ngomong, kolam renangnya aman kan? Nggak ada ular atau semacamnya gitu?" jelasnya terus terang.


Yang membuatku lagi-lagi terdiam. Bukan karena pesona bocah rese itu. Melainkan karena adikku yang mulai terbangun tanpa sadar, akibat sentuhan tubuh Jiya yang menyentuh permukaan kulit tubuhku tipis-tipis, tapi menghantarkan arus listrik.

__ADS_1


__ADS_2