Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Tiket Penerbangan


__ADS_3

Dengan kesadaran yang tipis, aku masih bisa mendengar suara keras tangisan Jiya, Momi, Tante Vivi, Daddy sekaligus Papi.


Yang berlarian seraya mendorong brankar bersama beberapa petugas medis. Melewati lorong-lorong rumah sakit yang panjang ini.


Beberapa kali, aku juga mendengar bentakan Jiya yang mengatakan kalau darahku terus-menerus mengalir keluar hingga perlu pertolongan sesegera mungkin.


Lalu, tak berselang lama dari itu. Suara mereka semua seolah lenyap, tergantikan dengan cahaya lampu yang menyorot tepat di atas kepalaku.


"Pasien kritis, segera lakukan operasi untuk menangani flail chest," kata seseorang sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri.


Entah berapa lama, aku terlelap serta terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Yang jelas, saat mataku terbuka. Orang pertama yang aku lihat adalah Jiya yang tengah terlelap dengan tangan kiri yang bertautan dengan tangan kananku.


Hal ini membuatku teringat dengan kejadian sewaktu aku mengalami kecelakaan sebelum berangkat ke Jepang dulu. Saat dimana, kita berdua masih belum sedekat seperti sekarang ini.


Hm, kalau diingat-ingat cukup lucu juga. Apalagi, waktu itu Jiya berteriak dengan gamblangnya kalau tak mau jadi janda kembang dan belum pernah melakukan ritual malam pertama.


Hadeh, Jiya-Jiya.


Ah, lihatlah wajah polosnya yang tengah tertidur itu. Lagi-lagi, pasti Jiya begadang untuk menungguiku di sini. Saking nyenyaknya, Jiya bahkan tak sadar saat pipinya kucubit beberapa kali karena gemas.


Dasar, bocah setan keras kepala! Batinku berteriak.


Namun, yang membuat pandanganku berubah menjadi sendu. Saat kulihat luka memar disudut bibir milik Jiya. Kalau tidak salah, itu bekas luka tamparan yang Om Lukman berikan tempo hari.


Hm, ngomong-ngomong soal Om Lukman. Bagaimana nasib pria itu yah, sekarang?


Sejujurnya, aku berharap banget si parasit itu sudah mendekam di penjara saat ini. Kalau bisa, semoga Om Lukman mendapat gugatan kurungan sampai membusuk di penjara seumur hidupnya.


Disaat tanganku mengusap-usap kepala Jiya sayang, perlahan-lahan bocah rese itu mulai menunjukkan pergerakan. Kemudian, kulihat kelopak matanya itu terbuka dan menunjukkan kelereng cokelatnya yang selalu memikat diriku.


"Hai, Ji!" sapaku, yang langsung mendapat sambutan haru dari bocah rese itu.


Alih-alih menjawabnya, Jiya malah memelukku erat sekali dan kembali terisak-isak.

__ADS_1


"Jiya takut banget, Jiya takut kalau Om Ferdi pergi beneran ninggalin Jiya kayak malam itu. Om Ferdi sadar nggak sih, kalau Om udah terbaring hampir seminggu lebih kayak mayat hidup di sini?" tanyanya, masih terisak, dengan kedua tangan yang menangkup pipiku.


Kulihat tak ada tanda-tanda kebohongan di dalam sorot matanya itu. Sebaliknya, pupil mata Jiya yang memang berwarna cokelat terang itu, malah menyiratkan ketulusan serta rasa takut akan kehilangan yang begitu jelas.


"Maaf," balasku.


Kepala Jiya segera menggeleng cepat. "Om Ferdi nggak salah, jadi nggak perlu minta maaf. Mungkin ini cuma salah satu rasa egois Jiya. Oh iya, Papi juga nitip pesan. Dia bilang beribu-ribu kata terima kasih ke Om Ferdi, sama nyuruh Jiya buat kasih ini." Jiya menjelaskan, seraya menyodorkan sebuah amplop berukuran sedang padaku.


Sebuah amplop berwarna putih yang berisi dua tiket penerbangan pesawat menuju Ubud, Bali.


Aku yang melihat penampakan dua tiket itu, langsung mengernyitkan alis. Seolah-olah berkata, buat apa? Kamu nggak lihat, kalau aku masih susah gerak? Pada Jiya, seraya melirik sekilas ke atas dadaku yang masih dibalut perban.


Jiya yang mengerti bahasa isyaratku tadi, secepatnya menjawab, "Bulan madu, Om."


"Bulan madu?" ulangku polos yang kontan dibalas kekehanan ringan bocah rese itu.


"Iya, emang Om Ferdi nggak mau?" tanyanya.


Yang membuatku terdiam seketika. Kalau dipikir-pikir, semenjak kami menikah. Aku dan Jiya memang tak pernah punya waktu untuk liburan berdua.


Huft, tak terasa rupanya waktu berjalan secepat ini, yah?


"Om?"


"Om Ferdi, kok ngelamun sih? Gimana, mau nggak?" tanya Jiya seraya mengibaskan tangan di depan wajahku.


Kepalaku spontan mengangguk. "Mau aja sih, cuma kamu nggak lihat kondisiku yang begini?"


Kulihat Jiya melirik ke arah dadaku yang masih diperban itu. Setelahnya, bocah rese itu menghembuskan nafas berat, merasa kecewa.


"Iya juga yah, apalagi patah tulang rusuk itu nggak cuma butuh waktu sehari-dua hari buat sembuh. Tapi lumayan lama dan perlu istirahat total. Sedangkan tiket dari Papi, batas waktunya cuma sampai minggu ini. Huhuhu, Jiya jadi sedih nggak jadi liburan ke Ubud, Bali." Jiya berujar dengan ekspresi wajah yang berubah lesu.


Tentu saja aku yang melihat raut wajahnya begitu jadi tidak enak hati. Terlebih lagi, salah satu faktor penghambat dia nggak jadi pergi buat liburan itu karenaku.

__ADS_1


Tapi, saat kulihat tiket penerbangan pesawat itu lagi. Aku jadi teringat sesuatu.


"Ji, kamu pengin liburan?" tanyaku yang membuat Jiya menolehkan kepalanya, masih lesu.


"Pengin lah Om, siapa juga orang yang nggak mau kalau diajak pergi buat liburan? Apalagi, setelah kelulusan, Jiya kan cuma ngecosplay jadi pembantu di rumah."


Pembantu katanya, kupikir dia udah happy belajar jadi seorang istri yang baik dan benar.


"Itu bukan pembantu, kamu lagi belajar jadi seorang istri dan ibu yang baik, loh."


Kulihat, pipi Jiya langsung berubah merona seketika.


"Iih, Om Ferdi mah! Jiya 'kan jadi malu tahu," katanya, sambil menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangan.


Aish, gemesnya biniku. Jadi pengin gigit.


"Emang Om mau ngajak Jiya liburan kemana?"


Tersenyum tipis, aku langsung menarik tubuh Jiya ke dalam pelukan. "Kalau kamu nggak keberatan kita bisa nonton konser idola kamu, selain itu kita juga bisa sekalian bulan madu di Korea selama beberapa waktu."


Detik itu juga muka Jiya terdongak ke atas, untuk melihat ke arahku. "Serius? Tapi 'kan, BTS lagi hiatus karena wamil, Om. Terus ke sana nonton konser siapa?"


"Kamu pikir Om nggak tahu, kamu itu mulfand?" balasku seraya menjitak kecil ujung dahi Jiya. Sampai membuatnya meringis pelan.


"Kalau nggak konser BTS, kita bisa kok dateng ke konser adeknya. Biar kamu ketemu siapa itu, Yeonjun?"


"Arghhh! Mau! Mau! Jiya mau banget sih kalau ditawarin begini, kenapa nggak sekalian hijrah ke YG, SM sama JYP, Om? Biar Jiya bisa ngeliat, NCT, Treasure sama Straykids juga hihihi ..." balasnya maruk.


Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Benar-benar deh, bocah rese itu pikir, kita ke Korea cuma buat keliling nontonin konser aja apa?


"Ya, ya Om!" pintanya lagi, menuntut.


Alih-alih menjawab, aku malah mendekatkan wajahku ke arah telinga bocah rese itu, kemudian berbisik. "Boleh, asal setelah itu kamu siap, buat malam pertama sama aku."

__ADS_1


Note :


Flail Chest : Patah tulang rusuk.


__ADS_2