
"Mantan OB!" teriak Maya memecah suasana pagi itu. Membuat semua mata kini memandang ke arah Jiya, seolah-olah mencemooh.
Kulihat, dia berjalan tergesa dengan Gisel yang mengekor dibelakangnya, mendekat ke arah kami. Kemudian berhenti tepat di depan Jiya dengan ekspresi wajah tak suka.
"Berani-beraninya kamu berdiri disebelah Pak Ferdi, kamu nggak sadar sama posisi apa?" lanjut Maya dengan nada suara sedikit membentak.
Tentu saja itu langsung mengalihkan perhatianku padanya. Jujur ingin sekali kumarahi karyawanku itu kalau saja Jiya tak segera menarik sedikit ujung jasku.
Lain halnya dengan Gisel. Dia yang waktu itu pernah sekali-dua kali bertemu dengan Jiya, apalagi saat acara pertemuan penting waktu itu. Terlihat menarik-narik pergelangan tangan Maya yang masih marah-marah tak jelas, untuk segera menjauh. Pasalnya, Gisel tahu. Jika sosok yang berdiri disebelahku adalah owner produk minuman di depan kantor kami.
"Bentar dulu Sel, wanita ini perlu dikasih pelajaran. Jangan karena mentang-mentang udah glow up, dia jadi berani ngegebet Pak Ferdi. Toh, gue cuma setuju kalau Pak Ferdi sama lo, misalkan nggak jodoh sama gue," bisik Maya yang masih bisa kudengar.
Yang kontan saja membuat tawa membahana milik Jiya, meluncur dengan bebas begitu saja.
"Mba Maya toh, saya masih inget dengan jelas kok Mba ini siapa. Tapi, mohon maaf nih mba, kalau bisa kadar kepedean Anda itu dikurangi. Soalnya, tipe cewek idaman Pak Ferdi nggak kayak Mba ini yang masih suka jelalatan kemana-mana. Jadi saya saranin, Mba ngaca dulu sebelum mau mengomentari hidup orang lain, oke?" balas Jiya menohok.
Dan langsung membuat raut kesal yang terukir jelas diwajah Maya. Namun, masih tak mampu membuat teriakan serta makian janda dua anak itu berhenti.
"Kamu!" tunjuk Maya dengan jari telunjuk mengarah tepat ke arah depan wajah Jiya. Yang membuat kesabaranku akhirnya tak bersisa.
"Cukup, May! Sekali lagi saya liat kamu kurang ajar begini. Saya nggak bakal segan buat memecat kamu tanpa hormat," ancamku yang membuatnya mendecih pelan.
"Dan asal kalian semua tahu, wanita di sebelah saya ini, adalah istri sah saya, Jiyaning Admaja."
Aku berucap lantang seraya menggenggam erat tangan Jiya. Yang kuangkat tinggi ke atas udara, hingga membuat semua pasang mata membulat tak percaya.
"Jadi, mulai detik ini. Tolong hormati dia, seperti kalian menghormati saya sebagai seorang bos. Meskipun perusahaan kita bersaing secara ketat," lanjutku yang kemudian membuat riuh suasana.
__ADS_1
Jiya yang mendengar pengakuanku secara tiba-tiba dan di depan publik seperti ini. Tak kuasa lagi untuk membendung air matanya itu. Dia akhirnya menangis haru yang kemudian langsung kupeluk erat, di depan semua orang.
***
"Jadi, lo udah bilang ke semua orang kalau Jiya itu bini lo?" tanya Aaron saat kami sedang makan siang bersama.
"Tadi pagi, di depan teras kantor?" lanjutnya lagi, dengan tatapan penuh keingintahuannya.
Aku hanya mengangguk cuek sebagai balasan. Kembali menyendokan nasi dan rendang itu ke dalam mulutku.
"Gila! Itu keren banget woy, udah kayak adegan di sinetron aja." Kulihat Aaron memekik keras mendadak, yang langsung mendapat lirikan tajam dari semua orang yang sedang makan siang.
"Hehe ... Maaf. Sok, dilanjut aja makannya," ujarnya salah tingkah, dengan tangan yang menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
Aku yang melihat Aaron malu begitu jadi ingin tertawa. Lagian, sudah tahu ini kantin, yang notabene, salah satu tempat paling ramai di kantor, kenapa juga masih asal teriak-teriak kayak di hutan.
Auto kena mental, kan? Jadinya ...
"Apa?"
"Gue mau minta saran, boleh?" tanya Aaron, yang tiba-tiba saja mengganti topik pembicaraan dengan wajah yang sedikit sendu. Seperti tengah dilanda sebuah masalah yang tak seorang pun tahu.
"Apa dulu nih, soalnya gue sibuk." Sekali lagi, aku membalas dingin yang kemudian mendapat decihan dari mulut Aaron.
"Dih bentar aja keleus. Lagian ini soal Mila."
Detik itu juga, aku menolehkan kepalaku ke arah Aaron yang rupanya sedang menatap lurus pupil mataku yang hitam ini.
__ADS_1
"Kenapa lagi sama Mila?"
Menarik napas panjang, Aaron lantas melihatku serius. "Dia hamil."
"Bagus, dong. Emang apa yang perlu lo khawatirin lagi?" Aku membalas perkataan Aaron barusan seraya menepuk-nepuk bucin bahunya pelan. Seolah-olah sedang mengucapkan kata selamat dan menunjukkan seberapa senangnya aku mendengar kabar itu.
"Iya, bagus. Gue juga ngerasa senang dan bersyukur banget. Tapi ..."
"Apa lagi?" sahutku jengah.
Mulai tak sabar dengan tingkah Aaron yang suka sekali memotong percakapan, dibagian utamanya pula. Benar-benar deh, minta di sunat dua kali, sepertinya.
"Gue sedikit merasa terbebani kalau Mila nyidam. Kayak semalam aja, pas udah rebahan di atas kasur bareng dan rencananya mau tidur. Masa tiba-tiba dia minta es doger. Bayangin Fer, tengah malam minta es doger. Siapa yang jualan selarut itu coba?" curhatnya mendadak dan berhasil membuatku iba.
Seketika aku jadi flashback ke masa-masa Jiya hamil dulu dan mendapat diagnosis dari dokter kandungan kalau aku terkena sindrome couvade.
Jujur, waktu itu aku langsung dihadapankan antara dua sisi, yakni kaget dan malu sampai rasanya mau pingsan. Soalnya, seumur-umur aku baru tahu dan ngerasain sendiri gimana nggak enaknya jadi wanita hamil.
Tapi, bukan berarti aku membenci mereka. Setelah kejadian itu, aku malah dapat pelajaran serta pengalaman hidup baru. Dan merasa kalau menjadi seorang wanita itu bukanlah sesuatu hal yang mudah
Yah, kalau dilihat secara fisik. Mereka mungkin terlihat lemah daripada seorang pria. Namun, yang membuatku salut, saat mereka bisa mengerjakan dua atau lebih dari tiga pekerjaan secara bersama. Berbeda dari pria yang biasanya hanya fokus pada satu pekerjaan saja, seperti diriku ini.
Selain itu, meskipun tampak rapuh. Tapi mereka memiliki hati yang begitu lembut. Hingga, saat berada didekapannya, anak-anak kecil langsung merasa tenang serta damai.
Dan urusan mengandung kemudian melahirkan, itu bukan proses yang mudah. Banyak kesulitan yang kadang wanita hadapi, meskipun masalah hidup serta cara mengatasinya yang berbeda.
"Terus, Ron?" tanyaku.
__ADS_1
"Ya paling itu aja, sih. Gue kadang sampai nggak habis pikir kenapa nyidam sampe bisa segitunya. Kenapa nggak nyoba makanan yang biasa aja. Atau minta camilan yang lain?" jelas Aaron, yang langsung mendapat jitakan keras di dahi olehku.
"Kayaknya lo harus ngerasain nyidam dulu deh, baru bisa tahu dan ngehargai orang hamil. Apa perlu, gue doain lo setelah solat nanti, biar kena sindrome couvade?"