
"I-iya Om, kenapa?" tanya Jiya, sedikit linglung.
Tampak sekali, nyawanya belum terkumpul penuh. Jiya juga terlihat beberapa kali menguap, saking mengantuknya.
"Bisa tolong ambilin senter? Tanganku nggak bisa gerak nih, soalnya lagi gendong si kembar."
Jiya yang mendengar nama si kembar disebut langsung membelalakkan kaget, untuk melihat ke arahku.
"Ini seriusan? Om Ferdi gendong mereka berdua bareng?" tanyanya memastikan, seraya mengucek-ngucek kedua matanya. Kemudian melihat ke arahku sekali lagi.
Aku yang ditatap remeh begitu. Mendesah kecewa. "Seriuslah, emang kamu ngiranya aku lagi ngapain? Ngegendong guling?"
Kulihat Jiya tertawa, renyah sekali. Hingga membuat matanya itu terlihat dua garis melengkung saja. Yang kata orang, bisa ditinggal pergi kalau punya temen yang ketawanya begitu.
"Hehe ... Maaf. Ngomong-ngomong nih, senternya." Jiya berkata seraya menyodorkan sebuah senter berwarna ungu padaku yang sudah dia nyalakan sebelumnya.
"Ji, emang di rumah Mamah nggak ada genset?" tanyaku pelan, supaya tak membangunkan si kembar yang sedang terlelap diperlukanku ini.
"Dulu sih ada, nggak tahu sekarang. Eh, tapi ..."
Jiya terlihat menjeda ucapannya, sebelum kemudian beranjak dari atas tempat tidur untuk pergi keluar kamar.
Lalu tak lama setelah itu, kudengar suara teriakan khasnya yang seketika memenuhi ruangan.
"Papi! Mati lampu nih, gensetnya kok nggak dinyalain?"
Aku yang mendengar suara teriakan istri kecilku yang nadanya empat oktaf itu, hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Seraya menepuk-nepuk pantat si kembar pelan, supaya makin tertidur lelap.
Tiap pagi hari, aku dan Jiya selalu menyempatkan diri untuk mengajak si kembar jalan-jalan pagi. Dengan masing-masing dari kami membawa satu buah kereta dorong bayi.
Berjalan melewati gang-gang kompleks yang dulu sering aku lalui bersama Jiya, jika kami ingin healing dengan bersepeda.
Sejenak, aku dan Jiya berhenti di tempat yang dulu pernah kami singgahi. Tepatnya di sebuah lampu jalan yang masih terasa begitu melekat tiap jejak kenangan kami, yang masih tertinggal jelas di sana.
__ADS_1
Sebuah lampu jalan berwarna biru yang dulu pernah menjadi latar belakang fotoku, sehari sebelum Jiya dan aku saling meninggalkan satu sama lain.
"Ah, tempat ini. Nggak terasa yah, terakhir kali kita ke sini waktu Jiya bilang kalau Om Ferdi mirip Renjun NCT wkwkwk ..." ujarnya yang tak kuduga bakalan tertawa.
"Iya juga yah, padahal kalau Mamah kamu bilang. Aku mirip Taehyung BTS versi lokal hehehe ..." sahutku tak mau kalah. Yang makin membuat Jiya tertawa terbahak-bahak.
"Pokoknya kalau ingat masa-masa itu bawaannya pengin ngakak aja deh, akunya. Udah gitu Om Ferdi ingat sama Nadin dan Sekar waktu di warung angkringan?"
"Yang mana?" tanyaku bingung, karena beneran lupa.
Kulihat Jiya melotot tajam, memandangi wajahku ini.
"Yang Jiya gadaikan nomer Wa Om Ferdi itu loh, biar dapat contekan PR kimia sampai lulus. Mereka beneran kasih contekan dong, parahnya sampai lulus awokawok ..."
"Wah, parah banget kamu!" seruku sok-sokan marah, tapi ikut ngakak juga.
"Weits, tapi kan Jiya lulus dapat rank pararel 1 sama podium. Itu tandanya emang Jiya pinter dari lahir keleus!"
"Iya-iya deh, kamu emang pinter. Semoga aja Daniel sama Winter bisa ngikutin jejak kamu kelak, asal nggak nakalnya aja," kataku seraya menarik pinggang Jiya untuk lebih dekat. Kemudian kupeluk tubuhnya itu yang balas memeluk tubuhku juga, sembari menikmati sunrise di ufuk timur.
"Daniel! Winter!"
"Daniel! Winter! Buruan ke sini, Bunda udah nyiapin roti bakar kesukaan kalian sama susu cokelat, loh!" teriak Jiya yang sudah sering kali kudengar sebelum berangkat kerja.
Istriku itu pasti akan berdiri di anak tangga terakhir, lengkap dengan celemeknya. Memanggil-manggil nama kedua anak kembarku yang selalu saja bangun kesiangan, setelah ikut solat subuh berjama'ah.
"Mungkin mereka masih tidur. Kayak kamu nggak tahu kebiasaan si kembar aja, Bun." Aku menyela seraya menyesap kopi hitam yang sudah Jiya siapkan di atas meja.
Tak lupa, sesekali menggigit roti bakar rasa cokelat-strawberry yang sudah Jiya siapkan dua potong untukku di atas piring.
"Iya sih, Yah. Cuma nggak kayak biasanya aja mereka bangun kesiangan begini. Padahal paling lama jam setengah tujuh. Lah, ini kamu mau berangkat mereka masih belum bangun. Apa aku samperin ke atas aja, yah?" kata Jiya meminta saran padaku.
"Ya udah, coba kamu cek ke kamar mereka," balasku yang langsung dijawab dengan anggukan kepala ringan Jiya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, kulihat Jiya menuruni anak tangga dengan ekspresi wajah yang begitu kesal. Apa mungkin, ini ulah si kembar?
"Kamu kenapa? Kok turun-turun, mukanya langsung lecek kayak baju nggak pernah disetrika?" tanyaku sengaja menggoda Jiya.
Alih-alih menjawab, bocah rese itu malah merampas sepotong roti bakar terakhirku yang memang sengaja kusisakan untuk diakhir, sebelum berangkat bekerja.
"Jiya kesel! Bukannya bangun, ternyata si kembar lagi sibuk sama mainan barunya. Udah gitu, mereka nggak ngegubris Jiya lagi. Padahal Jiya udah nyiapin roti bakar kesukaan mereka, loh." Jiya merutuk sebal dengan kepala bersungut-sungut.
"Kalau gitu coba aku yang nyuruh mereka turun, siapa tau mereka nurut," kataku mencoba menenangkan amarah Jiya.
"Terserah, Jiya keburu laper nih. Jadi pengin makan duluan."
Aku yang mendengar perkataan Jiya barusan hanya menyunggingkan seutas senyum. Kemudian beranjak dari posisi di dudukku untuk berjalan pergi, menuju kamar si kembar.
Tepatnya ke sebuah kamar bercat putih campuran biru muda dan pink. Yang letaknya tak jauh dari kamar tidurku dan Jiya. Kamar dengan tulisan D x W, yang menggantung di atas pintu masuknya.
Sesampainya di depan pintu, kurapikan dulu dasi yang kukenakkan ini. Kemudian menyugar rambutku kebelakang sebelum mengetuk permukaan pintu kamar mereka mirip sebuah sandi Morse.
Dan tak lama setelah itu langsung terbuka lebar, yang menampakkan wajah kedua anak kembarku itu.
"Pagi, Sir!" seru mereka kompak, mirip anak-anak di film spy kids era tahun 2000-an.
Tak lupa mereka juga memberiku salam penghormatan. Seolah-olah aku ini Tuan besar mereka berdua.
"Pagi, bagaimana misi kalian kemarin? Apa sudah selesai?" tanyaku, semakin terhanyut untuk memainkan peran.
"Siap, sudah."
Kepalaku mengangguk-angguk. "Bagus. Lalu bagaimana dengan misi twinkle twinkle little star?"
"Eum, Sir. Agen winter mau izin menjawab. Menurut pengamat saya, para tikus akan keluar saat Bunda mematikan lampu di malam hari. Kemudian mereka merangkak pelan-pelan untuk mengambil makanan yang biasanya tertinggal di dapur," jelas Winter yang kali ini sudah lebih lancar dari kata sebelumnya
"Lalu, apa ada tambahan?" tanyaku lagi, seraya melirik ke arah Daniel yang kali ini nampak tersenyum.
__ADS_1
"Salah satu penjahat paling mengganggu sudah kami berhasil bekuk," balas Daniel seraya mengeluarkan dua ekor bangkai cicak yang sudah dimasukkan ke dalam kantong obat.