
"Dengar yah, Pak Ferdian Juni yang terhormat. Meskipun kejadian itu sudah lama sekali berlalu, tapi bagi saya itu sebuah peristiwa yang baru saja terjadi kemarin. Jadi, tolong jangan ungkit luka lama yang ingin sekali saya kubur rapat-rapat, termasuk semua kenangan tentang kita. Saya pikir, semua itu sudah selesai semenjak hari di mana Bapak memilih untuk pergi. Jadi, saya mohon jauhi saya mulai detik ini. Karena saya begitu muak dengan Anda." Jiya mengatakan semuanya dengan sorot mata yang begitu serius menatap netra hitam milikku.
Seperti tak ada keraguan dalam kata-katanya barusan. Dan lagi, dia tetap bersikap angkuh sekaligus tak tersentuh.
"Muak?" ulangku seraya tersenyum simpul.
Menatap lurus ke netra cokelat milik Jiya dengan wajah sedikit mendekat. Yang kontan saja membuat wanita itu langsung memundurkan kepalanya kebelakang.
"Kupikir hatimu masih saja mengharapkan diriku. Bukankah benar begitu, Nona Jiyaning Admaja?" lanjutku tak mau kalah.
Yah, ketika aku sudah bertekad. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi milikku kembali. Termasuk, membuat Jiya bertekuk lutut seperti dulu.
Sebut saja aku tak tahu malu, namun kali ini aku tak ingin membiarkan dia lepas lagi. Toh, aku sudah sadar dengan apa yang terjadi, dan semua itu lebih tepat disebut kesalahpahaman. Tapi, karena Jiya belum menyadarinya juga, aku jadi berniat untuk mengejar dirinya mati-matian, mulai dari sekarang.
Jiya tampak berdecih pelan, sebelum melirik sinis ke arahku. "Cih, silakan lakukan apapun yang Anda mau. Karena saya tak peduli itu."
Setelah mengatakan itu, Jiya melangkah pergi untuk menghampiri Mila yang terlihat berdiri sendirian di dekat meja kue. Dari sini aku bisa melihat keduanya berbincang seru, entah memikirkan hal apa.
Tak terasa, acara aniversary Mila dan Aaron berlangsung sampai tengah malam. Membuat beberapa orang mulai mengundurkan diri, berpamitan pulang. Namun, tak sedikit juga masih ada orang-orang yang menikmati pesta itu sembari meminum bir yang tersedia.
Aku sendiri yang melihat Jiya masih berada di sini, memilih untuk tinggal lebih lama sembari mengawasi apa saja yang wanita itu akan lakukan.
Tentunya, aku tak terang-terangan mengawasi dia. Aku memilih untuk duduk di sudut ruangan yang sedikit jauh dari tempat Jiya duduk. Seraya menyesap jus jeruk yang memang berada di dekatku.
__ADS_1
Cukup lama aku memandanginya dari sini. Hingga saat, aku memalingkan wajah ke arah lain sebentar, kemudian melihat ke tempat Jiya duduk tadi. Sosoknya seolah lenyap begitu saja.
Tunggu, kenapa dia tiba-tiba menghilang?
Segera kualihkan wajahku untuk melihat sekitar. Mencari sosok Jiya yang sepertinya benar-benar tak ada lagi ditempat ini. Namun, saat hendak pergi untuk mencarinya ke tempat lain. Mataku malah tak sengaja melihat Jiya yang tengah dibawa oleh seorang pria asing, menuju ke tempat sepi.
Sialan! Apa yang akan dia lakukan?
Dengan tergesa, aku segera mengejar pria asing itu, yang kini mencoba membawa Jiya ke sesuatu tempat.
Dan benar saja dugaanku. Rupanya pria itu berniat membawa Jiya ke tempat parkir hotel yang memang minim sekali pencahayaan. Kemudian membuka pintu belakang mobil, sebelum memasukan tubuh Jiya ke dalam sana yang jelas-jelas tak sadarkan diri.
Tentu saja aku yang melihat hal itu tak tinggal diam. Dengan langkah terburu, aku menghampiri pria asing itu, kemudian melayangkan bogem gratis dari arah belakang secara mendadak. Membuatnya langsung jatuh tersungkur di atas lantai, dengan hidung yang telah banyak mengeluarkan darah, mimisan.
"Anjink! Siapa lo huh, berani-beraninya mukul wajah gue?!" makinya marah yang kembali kuhujami dengan beberapa pukulan telak pada wajahnya lagi. Hingga membuat pria asing itu, kini terkapar tidak berdaya di atas lantai parkiran hotel yang dingin.
"Harusnya gue yang tanya, lo siapa? Dan alasan lo, kenapa nyari kesempatan ngebawa pergi istri orang!" tanyaku sarkas, yang kontan membuat kedua mata pria asing itu membulat sempurna.
Namun, belum sempat bertanya dan selesai dengan keterkejutannya. Aku sudah dulu meninju wajah pria asing itu lagi, hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri, detik itu juga.
Barulah setelah memastikannya pingsan, aku langsung beralih ke arah kursi bagian belakang mobil. Di mana di sana, sudah ada Jiya yang tiduran dengan posisi meringkuk, serta meracau tak jelas.
Aku yang mengetahui kalau Jiya mabuk berat, inisiatif untuk menggendongnya pergi menuju mobilku ala bridal style. Meskipun di sepanjang perjalanan, dia terus-terusan memukuli seluruh tubuhku yang bisa tangannya jankau.
__ADS_1
Bruk!
Kuletakkan tubuhnya itu di atas kursi bagian depan, sebelah kiri. Setelah itu, kuatur posisi kursi yang Jiya duduki supaya menjadi lebih nyaman untuk tiduran.
Mulanya, kupikir Jiya akan terganggu dengan segala hal yang sedang aku lakukan ini. Nyatanya, dia malah tetap tertidur lelap dengan kepala yang tiba-tiba menyender di bahu kananku, saat aku sedang memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Untuk sesaat aku berhenti bergerak dengan tangan yang masih terdiam ditempat. Hingga, detak jantungku dibuat tak menentu saat Jiya memanggil namaku pelan dalam racauannya itu.
"O-Om Ferdi ..."
Jiya tampak menangis dalam tidurnya, sampai tak sadar meneteskan air mata yang langsung kuhapus saat itu juga dengan ibu jari.
Pelan, kuusap lelehan air matanya itu hati-hati. Dengan niat tak mau membangunkan dirinya. Namun, saat aku bergerak, untuk beranjak pergi. Kelopak mata Jiya yang tadinya tertutup, tiba-tiba terbuka lebar. Menatap lurus ke arah netra gelap milikku.
Lantas, hal yang tak pernah kuduga itu terjadi. Saat dimana, jari-jemari lentik milik Jiya tiba-tiba menarik erat tengkuk leherku untuk semakin dekat ke arah wajahnya.
Sampai aku bisa mencium aroma pekat dari alkohol yang keluar bersamaan dengan embusan napas miliknya. Namun, deru napas Jiya yang menggelitik di atas permukaan wajahku, membuatku tak bisa mengalihkan pandangan darinya, meskipun hanya satu detik saja.
"Om, Jiya kangen."
Kurasa satu kalimat itu cukup membuatku terprovokasi, hingga tak bisa lagi menahan diri untuk tak segera merengkuh tubuh milik Jiya erat, ke dalam dekapanku.
Memberinya sebuah pelukan hangat, sekaligus ciuman panas yang sudah lama sekali tak kami lakukan.
__ADS_1
Jiya sendiri tak menolaknya, mungkin itu karena pengaruh alkohol yang kuat. Hingga membuatnya tak sadarkan diri dan memilih untuk meluapkan semua rasa yang selama ini dirinya simpan.
Itu terlihat dari, bagaimana dia begitu rakus dan agresifnya membalas tiap kecupan yang aku berikan. Hingga, tanpa sadar meneteskan air mata, tepat setelah kami mengakhiri ciuman itu.