
"Morning."
Kulihat si bocah rese itu tersenyum lebar, seraya menopang kepalanya sendiri, dengan tangan kanannya menghadap ke arahku, yang baru saja membuka mata.
Berhubung nyawaku masih belum terkumpul semua, aku jadi terdiam sembari menatap ke arah Jiya khas orang bangun tidur. Yang seketika membuat senyuman Jiya makin terkembang sempurna.
"Jiya baru sadar, kalau Om Ferdi ganteng banget walaupun belum cuci muka," ucapnya seraya mendekatkan wajah.
Kemudian menatap kelereng hitamku dalam sebelum beralih melirik ke arah bibir. Perlahan, dikecupnya bibirku hati-hati, seraya disesap beberapa detik.
Sontak, aku yang merasakan serangan tiba-tiba ini langsung membulatkan mata. Saking syoknya, nyawaku langsung kumpul semua.
"Ji-Jiya!" kataku terbata, setelah bocah setan itu melepaskan ciumannya kemudian menatapku dengan ekspresi wajah yang jahil.
"Anggap aja servis pagi. Oh iya, Jiya tunggu di bawah, yah. Jangan telat, soalnya Jiya paling benci nunggu."
Tak lama setelah itu, kulihat Jiya melangkah keluar tanpa beban keluar kamar. Seolah-olah, perbuatannya tadi hanya lelucon belaka.
CK, sejak kapan istri kecilku jadi agresif begini?
Selesai cuci muka dan menggosok gigi, aku langsung bergegas turun ke bawah. Buru-buru menemui si bocah setan itu yang terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan di atas meja.
Rambutnya yang biasa dikuncir satu, kini dicepol tinggi, membuat kulit putih lehernya yang jenjang terekspos sempurna. Selain itu, pandanganku juga tidak pernah teralih dari kaos putih dan celana pendek yang biasanya Jiya pakai, sekarang.
Terlebih pada sesuatu yang biasanya datar namun kini tampak menonjol dan berisi. Tunggu, mendadak aku jadi dejavu akan suatu hal.
'Nggak minat, apalagi sama bocah tengik kayak kamu. Dada sama pantat aja tepos, udah gitu nggak ada bagian yang bisa dipegang?'
Ya Tuhan!
Segera ku usap permukaan wajahku sendiri, setelah mengingat perkataan itu. Kata-kata pertama yang aku ucapkan saat malam pertama.
Masa iya, sekarang aku mau nelen ludahku sendiri?
"Om Ferdi?" panggil Jiya, yang kini menolehkan sedikit kepalanya ke arahku yang masih berdiri termenung di dekat meja makan.
"Ya?"
"Bisa bantu Jiya sebentar, celemek Jiya tali belakangnya lepas. Tolong ikat, yah." Jiya berujar, yang entah mengapa membuat suhu tubuhku mendadak naik.
Asli, masih pagi tapi aku sudah kegerahan begini. Saking gerah dan gugup, aku bahkan tak sadar udah berkeringat banyak, saat berdiri dibelakang tubuh Jiya. Yang tiba-tiba menguarkan aroma manis di udara.
"Kamu pakai minyak wangi?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
Si bocah rese itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dan masih saja sibuk mengaduk-aduk nasi goreng buatannya. Fokus sendiri.
"Jiya tadi cuma keramas aja pakai sampo eskulin," balasnya kemudian, yang membuat alisku mengernyit.
"Bukannya itu sampo buat anak-anak?"
Kepala hitam Jiya tampak manggut-manggut. "Yah, tapi berhubung Jiya suka jadi tetap aja pakai itu."
Aneh, bau sampo saja sudah membuatku tak karuan begini. Masa sih, cuma karena sampo, bukan yang lain?
Aku lagi-lagi terdiam, membuat Jiya menepuk bahuku perlahan.
"Om mau makan nggak? Mumpung udah kelar, nih."
"Boleh," balasku kemudian.
Tak lama setelah itu, aku dan Jiya makan dengan lahapnya. Membuat ruangan yang hening ini, hanya dihiasi oleh suara dari dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.
Dan untuk makanan Jiya, kurasa bocah rese itu perlu mendapat apresiasi. Selain tampilannya yang cantik, rasanya juga lumayanlah. Tidak bisa dibilang buruk juga untuk pemula.
Kriettt ...
Kepalaku terdongak sedikit saat Jiya menggeser kursi tempatnya duduk. Bocah setan itu terlihat ingin meletakkan piring kotornya di westtafel.
Hanya saja, mataku kembali dibuat salah fokus akan sesuatu. Yang tanpa sadar kulontarkan begitu saja lewat kata-kata.
Aku yang kaget dengan kata-kataku barusan langsung menutup mulut tanpa sadar. Berharap juga, jika bocah rese itu tak mendengar perkataanku tadi.
Sayangnya, ekspetasiku tak sesuai dengan realita. Karena didetik berikutnya, kulihat Jiya tersenyum bangga, sebelum membalas.
"Sejak Jiya minum obat pembesar payudara, dong! Gimana, Om Ferdi suka nggak?" kata Jiya seraya membusungkan dada.
Yang detik itu juga membuatku tersedak air putih.
"Uhukkk!"
"Uhukkk!"
"Uhukkk!"
"Biasa aja kali Om. Gitu amat reaksinya, kayak nggak pernah lihat gunung cewek aja."
Mataku melotot. Bisa-bisanya, mulut Jiya tambah sompral begitu. Hadeh, siapa sih yang ngajarin?
__ADS_1
"Alasan kamu minum-minum obat begitu buat apa? Coba jelasin, apa faedahnya ke aku!" kataku menuntut penjelasan.
Jiya yang kutahu akan langsung marah-marah, kini malah menyampirkan anak rambutnya kebelakang telinga sebelum menjawab, seraya berjalan menuju ke arahku yang sudah berdiri.
"Kalau Jiya bilang buat Om Ferdi, apa Om bakal percaya?" balasnya, bertanya balik.
"Lagian, Jiya tuh sebel sama Tante Lemper! Selain punya body yang bikin cowok-cowok mata keranjang melotot, dia juga tiap hari Om Ferdi liat. Udah gitu dadanya gede, nggak kayak Jiya yang rata. Pokoknya mah, Jiya nggak sudi kalau Om Ferdi ngelirik-ngelirik dia. Cukup lihat Jiya aja." Jiya berterus-terang, dengan intonasi yang cukup tinggi.
Membuatku yang mendengarnya menjadi merasa sedikit tidak enak. Memang benar sih, setiap hari Gisel yang aku lihat. Tapi bukan berarti aku bisa suka padanya.
Sekali lagi, kutekankan dia cuma rekan kerja saja. Karena orang yang benar-benar membuat hatiku tergerak. Sekaligus, jantungku berdebar hebat ada di sini. Di sampingku, namun belum juga kuberi tahu juga tentang kebenarannya.
Alih-alih menjawab, melihat Jiya yang murung membuatku ingin segera mendekap tubuh rapuhnya itu erat. Guna membagi tiap kehangatan yang aku punya.
Pelan-pelan, kuusap puncak kepala istri kecilku itu sayang. Yang kontan membuat tangis Jiya pecah mendadak.
"Om Ferdi," panggilnya tersedu-sedu.
Aku yang melihat lelehan itu membasahi permukaan wajahnya. Bergegas menghapusnya dengan ibu jari lembut.
"Jiya, suka sama Om. Jadi, jangan pernah tinggalin Jiya dan ngelirik wanita lain, yah." Jiya berujar jujur yang membuat senyumku seketika merekah.
Ah, jadi begini rasanya perasaan yang berbalas?
Rasanya seperti, seisi perutku dipenuhi oleh jutaan kupu-kupu yang berterbangan mengelilingi seisi perut. Saking senangnya, aku bahkan tak bisa mengontrol degup jantungku yang makin lama semakin berdegup kencang. Seolah-olah ingin meloncat keluar dari rongganya.
"Jangan nangis gitu dong, nanti mukamu mirip Anabelle," selaku yang langsung mendapat pukulan gratis dilengan oleh Jiya.
"Ih, nggak bisa lebih romantis apa? Masa muka Jiya yang unyu gini disamain sama Anabelle! Dia kan setan, seram tahu."
Aku tertawa. Habis, bocah rese itu sudah kembali ke sosok sejati dirinya.
"Iya-iya deh, terus maunya dipanggil apa?"
"Eum, apa yah?" Mendadak Jiya berpikir dengan jari telunjuk yang dia ketuk-ketukkan di atas dagu.
"Gimana kalau Chagia? Biar sweet gitu ala-ala drama Korea hehehe ..."
Aku yang mendengarnya langsung mengangguk pasrah. Mengiyakan.
"Oke, Honey!"
"Iihhh, Om Ferdi mah!!!" teriak Jiya yang seketika memenuhi penjuru ruangan.
__ADS_1
Note :
Chagia : Sayang dalam bahasa Korea.