Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Misi Kejar Jiya (2)


__ADS_3

Mungkin lebih dari 15 menit, aku menunggu Jiya muncul di ruang tunggu. Tapi belum juga terlihat tanda-tanda sosoknya akan muncul.


Akhirnya kuputuskan untuk menunggu dia beberapa menit lagi sebelum kembali ke kantorku sendiri. Dan yah, hari ini kami tak bertemu.


Meskipun begitu aku tak akan menyerah. Karena aku yakin, suatu saat nanti perjuanganku ini akan berbuah juga.


Sesampainya di kantor, aku segera menyuruh Aaron untuk pergi ke dalam ruanganku. Tentunya, aku memanggil dia dengan satu alasan. Dan pastinya ini tentang Jiya.


Kulihat, Aaron langsung datang setelah dua menit panggilan tadi. Dia masuk ke dalam ruangan, kemudian duduk di atas sofa tanpa pernah memudarkan senyuman lebar dibibirnya itu.


"Gue tahu, lo pasti perlu motivasi dari gue. Ya, kan?" celetuknya seketika yang langsung kubalas dengan anggukan kepala.


"Yah, mau gimana lagi. Lagian, lo sendiri yang paling ahli kalau urusan begini."

__ADS_1


Aaron makin tertawa lebar. Dia juga sesekali mengipasi wajahnya sendiri, setelah mendengar pujianku barusan.


"Gue gitu loh, mantan player ini. Senggol dong!" katanya bangga, makin menjadi-jadi.


"Jadi lo mau minta tolong apa sama gue, Fer?" Aaron berucap, kali ini dengan raut wajah yang begitu serius.


Dia juga mengubah posisi duduknya yang tadi menyender di sofa, menjadi duduk tegak dengan pandangan mata yang lurus menatap ke arahku, seperti seorang singa yang baru saja mendapatkan mangsa.


"Gue mau minta saran, gimana cara buat naklukin hati cewek yang udah kita kecewakan," ujarku langsung.


"Eum, kalau itu gue ada ide." Aaron membalas seraya mengkode diriku untuk sedikit mencondongkan wajah ke arahnya.


***

__ADS_1


Siangnya aku pun mulai mencoba saran yang Aaron berikan tadi pagi. Yakni, dengan mengirimkan makanan yang Jiya suka setiap hari lewat grab food. Tentunya, dimulai dari hari ini.


Namun, untuk kiriman sekarang, aku sengaja merahasiakan identitasku. Dan menggantinya menjadi anonim. Supaya Jiya tak lagi membuangnya langsung seperti hadiah-hadiah kemarin yang aku kirimkan.


Biarlah, kubuat dia makin muak hingga memutuskan untuk menemui diriku sendiri saking sebalnya, pada akhirnya.


Aku pun mulai memesan menu makan siang yang paling Jiya sukai, berbekal ingatan masa lalu. Kemudian menyuruh kurir yang berbeda untuk mengantarkannya, sebagai paket tanpa nama.


Dan tak kuduga-duga, makanan itu bener-bener Jiya terima. Entah karena dia belum makan atau sedang merasa kelaparan. Yang pasti aku cukup merasa senang, saat mengetahui salah satu dari hal yang paling kutunggu-tunggu mulai berbalas juga.


Mungkin, hampir tiap waktu aku mengirimkan Jiya makanan dan minuman. Hingga tak terasa, sudah hampir sebulan lamanya, kegiatan ini masih berlangsung.


Jujur, aku tak tahu apakah dia sudah mengetahui nama dibalik anonim itu diriku, atau belum. Yang jelas, aku belum melihat tanda-tanda dari Jiya untuk datang, bertemu denganku lebih dahulu. Sosoknya masih saja, bersembunyi dari semua pasang mata.

__ADS_1


Hari berikutnya, tepatnya di tanggal satu bulan baru ini. Gisel tiba-tiba meminta waktu padaku untuk mengatakan sebuah informasi penting katanya.


Saking pentingnya, Gisel bahkan tak membiarkan siapapun tahu soal ini. Kecuali dirinya langsung yang menyampaikannya padaku.


__ADS_2