Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Satu Kesempatan


__ADS_3

"Jadi, hal apa yang mau kamu bicarakan berdua saja sama saya, Gisel?" tanyaku tepat setelah Gisel masuk dan menutup pintu ruangan.


Kulihat dia mengambil napas panjang sejenak, sebelum melihat ke arah wajahku dengan serius.


"Bapak tahu owners baru perusahaan minuman di depan kantor kita?" katanya tanpa melepaskan pandangan mata, dariku.


"Ya." Aku membalas singkat, sambil sesekali menandatangani berkas-berkas penting.


"Masa saya dapat kabar, kalau Bapak lagi mencoba pdkt sama dia. Duh, padahal dia wanita ular loh, Pak. Apalagi waktu pertemuan di hotel xxx antar direktur waktu itu. Dia juga nggak sopan banget, karena ngatain Bapak pelangi?"


Tanganku yang sedang menandatangani berkas, terhenti di atas udara seketika. Lalu, dengan perlahan kudongakan wajahku ini untuk melihat Gisel.


"Sel, jadi yang kamu anggap penting di percakapan ini apa? Tentang rumor pdkt saya, kah?" Aku bertanya, yang kemudian dibalas anggukan kepala cepat oleh Gisel.


"Selain itu, apa ada yang lain?" Kini kepala Gisel, terlihat menggeleng.


"Kalau begitu keluar dari ruangan saya, karena menurut saya. Perbincangan kita siang ini benar-benar membuang-buang waktu," usirku.


"Ta-tapi, Pak. Saya ..."


Alih-alih menjawab, aku hanya menatap ke arah mata Gisel tajam. Hingga membuatnya tak berkutik dan memilih untuk pergi, meninggalkan ruanganku detik itu juga.


Sepeninggalnya Gisel dari ruanganku. Kusenderkan bahuku sejenak, seraya mengusap permukaan wajah ini kasar.


"Huft, pdkt sama istri sendiri emang sesalah itu, yah? Dan untuk Jiya, semoga aja kita bisa secepatnya kembali bersama," ucapku lirih.


Kegiatan mengirimi bocah rese itu makan masih sering kulakukan. Dari pagi sampai malam, setiap harinya. Tentunya tak hanya pure makanan saja, tapi dengan sebuah surat yang sengaja aku selipkan sebelum makanan itu diantar pergi ke Jiya.


Karena kegiatan ini berjalan hampir dua bulanan, kupikir Jiya tampaknya mulai curiga. Apalagi, dia tahu betul dengan karakter tulisanku. Jadi, aku yakin sekali Jiya pasti sudah tahu, jika selama ini yang mengirimnya paket makan itu diriku.

__ADS_1


Hal itu dimulai, pada pertengahan bulan. Aku rasa kecurigaannya mulai kuat dan tak lagi mau menerima tiap makanan yang aku berikan.


Beberapa kali aku juga melihatnya masih berhubungan dengan Ilyas, meskipun aku tahu jika pria itu seharusnya sudah menikah dengan Clara bulan lalu. Tapi, entah karena angin apa. Pernikahan keduanya tiba-tiba dibatalkan begitu saja.


Sejujurnya, aku tak heran dengan ini. Apalagi melihat Ilyas yang masih gencar mendekati Jiya juga. Kurasa, alasan dia membatalkan pernikahannya dengan Clara adalah agar bisa dekat dengan Jiya tanpa halangan apapun.


Hoho, sayangnya Ilyas lupa. Kalau masih ada aku, tembok tertinggi yang akan menghalangi hubungan antara dia dan Jiya.


Meskipun makanan yang ku kirim kini tak lagi diterima, tapi aku tak berhenti untuk berusaha. Hingga sampai di suatu keadaan. Dimana Jiya akhirnya kesal dan memintaku untuk bertemu secara pribadi di sebuah kedai Boba. Tempatnya sering  hangout dulu, waktu masih sekolah SMA.


Kami membuat janji bertemu sekitar pukul setengah tujuh malam. Di mana, dalam pesan yang aku terima. Jiya menambahkan sebuah emoticon sedang marah-marah yang malahan begitu lucu dimataku.


Tak terasa waktu yang kutunggu-tunggu untuk bertemu dengan bocah rese itu pun tiba. Segera, aku bergegas merapikan semua berkas yang menumpuk di atas meja kerja. Lalu, pergi menuju kedai Boba tempat kami janjian malam ini.


Mungkin hanya perlu waktu kurang dari 20 menit, untukku sampai di depan kedai Boba. Karena jarak tempuhnya yang lumayan, sekaligus di luar tengah terjadi hujan deras.


"Udah lama nunggu?" tanyaku, basa-basi.


Jiya tampak memutar bola matanya malas, kemudian lebih memilih melihat ke arah luar kaca kedai. Memerhatikan bagaimana sibuknya orang-orang yang cukup riuh karena tak membawa payung saat cuaca hari ini tiba-tiba memburuk.


"Yah, sedikit. Lagi pula, orang sibuk seperti Anda pasti  jarang punya waktu. Apalagi untuk menghabiskan beberapa menit dengan keluarga atau orang terkasih. Mungkin anda berpikir kalau itu hanya buang-buang waktu saja." Jiya berujar dengan nada yang cukup menyindirku.


Namun anehnya, aku hanya tertawa kecil saat mendengar nada bicaranya yang terkesan sedang merajuk itu.


"Apakah Anda sedang membicarakan hubungan cinta Anda pada saya, sekarang?" tanyaku yang membuat kedua mata Jiya melotot.


"Tidak juga, toh dia bukan orang yang penting lagi di dalam hidup saya." Sorot matanya begitu tajam saat mengatakan hal itu.


"Sungguh?"

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Jiya yakin, dengan tangan yang dirinya sedekapkan di depan dada.


"Kalau begitu, untuk apa kau mengajakku bertemu?" Aku yang tadi menggunakan bahasa formal, mendadak menggantinya.


Selain itu, aku juga membalas sorot mata Jiya yang tajam itu dengan pandangan mata dipenuhi rasa keingintahuan yang menuntut.


"Untuk membicarakan soal buket bunga, cokelat dan juga paket makan yang setiap hari dikirim ke kantor saya. Apa Anda benar-benar tak tahu malu? Saya sudah bilang jika saya benar-benar muak dengan orang seperti Anda, Pak Ferdian!"


Jiya berteriak dengan jari telunjuk yang mengarah tepat ke arah wajahku. Membuat beberapa orang pengunjung di kedai itu, menatap ke arah kami dengan sorot mata penuh keingintahuan.


Terlebih saat Jiya menekankan dengan begitu jelas, kata tak tahu malu serta namaku. Sudah bisa kupastikan, jika kebanyakan orang di sana mengira kami sedang bertengkar gara-gara masalah sepele.


"Lalu?" sahutku dingin.


Kulihat Jiya mengepalkan tangannya di atas meja, hingga memperlihatkan kuku-kuku jarinya yang memutih.


"Jauhi saya! Kalau perlu menghilang dari hidup saya." Jiya menekankan ucapannya itu dengan tegas, yang langsung kubalas cepat dengan sebuah penolakan.


"Aku menolak."


"Anda benar-benar tak tahu malu!" teriaknya lagi seraya beranjak pergi dari tempat duduknya.


Dan dengan langkah terburu, Jiya berniat meninggalkan kedai Boba begitu saja. Namun, sesaat setelah dia berhasil keluar kedai. Aku sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tangannya, kemudian menyeret tubuhnya yang ramping itu ke dalam dekapanku.


"Lepas! Anda benar-benar pria brengsek!" makinya sembari memberontak.


Beberapa kali, Jiya juga sempat menendang-nendang bebas tubuhku dan memukul-mukul bagian dadaku kasar. Namun, hal itu tak membuatku mengendurkan pelukan diantara kami. Sebaliknya, aku malah semakin erat memeluk tubuh Jiya seraya mengusap-usap puncak kepalanya dengan lembut. Sampai dia lelah sendiri dan berhenti untuk melakukan pemberontakan padaku.


"Kali ini, tolong dengarkan penjelasanku."

__ADS_1


__ADS_2