
"Sayang!" panggil Clara pada Ilyas, yang diam-diam kulihat dari tempat persembunyianku ini.
Mungkin hanya berjarak beberapa meter saja, supaya aku bisa mendengarkan percakapan mereka dengan jelas. Sekaligus memantau Jiya.
Dari balik koran yang tadi kubeli, aku bisa melihat perubahan raut wajah Jiya yang merasa terganggu dengan kedatangan Clara yang tiba-tiba. Bocah rese itu juga menggeser posisi duduknya, sedikit menjauh dari Ilyas.
Lalu, mengenai Ilyas sendiri. Dia tampak kelimpungan karena mendapati Clara yang muncul tak terduga.
"K-kamu, di sini juga?" Ilyas bertanya dengan nada bicara terbaca.
Yang membuatku terbahak-bahak di sini, saat melihat perubahan raut wajahnya yang langsung panik seketika.
"Ini 'kan, tempat umum. Jadi siapapun boleh dateng dong, termasuk aku." Tampak Clara membalas ucapan Ilyas tadi dengan senyuman cerah dibibirnya. Yang kemudian, matanya itu, kulihat melirik sinis ke arah Jiya, yang hanya duduk diam. Memandang ke arah lain.
"Ngomong-ngomong, kamu siapa, yah? Kenapa bisa sama calon suami saya di sini. Berdua lagi," lanjut Clara. Masih menatap wajah Jiya dengan tatapan mata tajamnya.
"Eum, sayang. Dia Jiya, rekan kerja sekaligus temanku waktu SMA dulu." Ilyas berkata terburu-buru. Seperti sedang menutupi sesuatu.
Membuat kondisi di antara ketiganya menjadi tegang satu sama lain. Tentu saja aku yang melihatnya dari sini ingin mulai membantu. Tapi, niatku sudah lebih dulu dibaca oleh Clara yang mengkode dengan petikan jari sekali, sebelum aku bergegas pergi untuk membantunya.
Jadi, mau tidak mau aku harus duduk serta bersembunyi kembali, di tempat yang sama.
"Yang, bisa beliin aku minuman bentar? Aku haus soalnya." Clara meminta dengan bibir dipoutkan lucu. Yang membuatku yakin sekali, kalau wanita itu sebentar lagi akan memulai berbicara dengan Jiya secara empat mata.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, kulihat Ilyas membalikkan tubuhnya ke arah lain. Terlihat sekali kalau dia akan pergi mencari minum, sesuai dengan apa yang Clara minta barusan.
Barulah setelah itu, Clara mulai menjelaskan semuanya pada Jiya. Aku bisa melihat dari sini, bagaimana Clara tiba-tiba duduk perlahan disebelah kiri Jiya, untuk mulai berbicara.
"Kamu Jiya, kan? Sejujurnya aku udah tahu nama kamu dan semua hal tentangmu, dari seorang teman. Yang kelihatan cuek tapi diam-diam perhatian."
"Siapa?" tanya Jiya dengan alis terangkat sebelah.
Terkekeh pelan, kulihat Clara menopang dagunya sendiri dengan tangan kanan. Menatap wajah Jiya yang kini dipenuhi rasa ingin tahu.
"Kayaknya, tanpa perlu dijelasin. Kamu sendiri tahu, siapa orangnya. Oh iya, selain itu aku mau bilang maaf juga. Karena nggak sengaja ngebuat kalian berdua terjerat kesalahpahaman tak berujung, sampai detik ini," terang Clara, dengan raut wajah penuh penyesalan. Aku juga melihat, bagaimana wanita itu diam-diam meraih kedua tangan milik Jiya, untuk diremasnya pelan.
"Denger Ji, sebenernya aku sama Ferdi nggak punya hubungan apapun. Kita cuma rekan yang kebetulan kerja bareng selama seminggu buat pengiklanan produk minuman perusahaannya waktu itu. Dan karena mendapat respon baik, sekaligus iklannya meledak plus sukses. Beberapa orang mengusulkan buat diadakan acara perayaan kecil-kecilan di salah satu kedai makanan. Sayangnya, waktu itu ada yang ngasih aku alkohol dan nggak sengaja kuminum sampai mabuk. Dan karena cuma Ferdi yang nggak mabuk malam itu, dia jadi nganterin aku pulang ke hotel. Nah, kebetulan lagi, tempat kita tinggal itu di hotel yang sama, cuma beda lantai aja. Jujur, aku nggak tahu apa yang terjadi setelahnya, tapi kami beneran nggak ngapa-ngapain," jelas Clara panjang lebar, dan kudengar begitu jelas.
"Nggak ngapa-ngapain? Jelas-jelas kalian ciuman malam itu, aku lihat sendiri kok," sahut Jiya kesal.
"Kita nggak pernah ciuman. Kamu pasti salah, mungkin kalau dilihat dari samping memang kelihatannya begitu. Tapi aku berani bersumpah, kalau Ferdi bukan cowok gampangan," ujar Clara lagi, masih berusaha menjelaskan.
Namun, Jiya nampaknya tak menggubris perkataan Clara barusan. Alih-alih percaya, dia hanya terkekeh pelan, seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah Clara, sebelum beranjak pergi.
"Aku tahu kalian itu sekongkol, jadi jangan harap aku bakal langsung percaya gitu aja, bicth!"
"Tunggu!" teriak Clara, membuat langkah Jiya terhenti.
__ADS_1
"Mungkin sekarang kamu benci banget sama Ferdi, karena kecelakaan waktu itu. Tapi, kamu nggak tahu seberapa berusahanya dia selama ini tanpa kamu di dalam hidupnya. Jangan kamu pikir, Ferdi nggak pernah sekalipun buat ngehubungi kamu atau ngasih kabar. Dia mungkin nggak pernah bilang, tapi coba kamu cek ribuan spam email yang masuk sama pesan. Ataupun panggilan tak terjawab, apa kamu yakin nggak nemuin nama dia di sana?" jelas Clara mengatakan beberapa hal yang aku larang.
Sejujurnya, lebih dari ribuan kali aku mencoba menghubungi Jiya. Namun, selalu saja, panggilan serta pesan yang aku kirim tak pernah sekalipun mendapat jawaban.
Lama tak mendapat jawaban, aku pun beralih mengirimnya pesan lewat Gmail. Berharap suatu saat dia akan membaca lalu membalas pesanku itu. Namun, kenyataannya aku tak pernah mendapat jawaban apapun selama dua tahun ini.
Sosok Jiya seolah lenyap ditelan bumi begitu saja, yang kontan membuatku depresi. Lalu, seperti dipermainkan oleh takdir. Kami dipertemukan kembali dengan sosok yang sudah berubah satu sama lain, dalam acara pertemuan waktu itu.
Kemudian, untuk alasanku tak mengenali Jiya. Karena dia benar-benar banyak sekali berubah, kecuali aroma tubuhnya yang masih bisa ku ketahui.
Meskipun begitu, aku tak bisa mengklaim langsung kalau dia Jiyaku. Jadi, aku memilih untuk mengabaikannya, sampai saat dimana dia mulai memperkenalkan dirinya sendiri.
"Ckckck ... Lo dibayar berapa sama dia, sampai segitunya? Dengar yah, mau lo bilang dia jungkir balik atau sekarat sekalipun. Faktanya tetap satu, dia udah nyakitin gue! Dan satu lagi, bilang ke calon suami lo juga, buat jauh-jauh dari gue mulai sekarang."
Setelah mengatakan itu kulihat Jiya pergi melenggang begitu saja. Meninggalkan Clara yang tampak mengepalkan tangannya kuat, seraya menolehkan kepalanya ke arahku, merasa tak terima.
"Lo yakin, dia bini lo yang membanggakan itu? Sadar Fer, dia bahkan nggak punya perasaan setelah apa yang lo lakuin selama ini. Dan dia nganggep lo cuma diem aja selama dua tahun tanpa ngelakuin apa-apa? Gila! Gue aja yang ngelihat bukti pesan dari lo sampe merinding."
"Cukup Ra, gue kan tadi ngelarang lo buat bilang soal ini," balasku dingin.
Mata Clara melotot tak suka. "Gue itu bukan orang yang suka ngebantu setengah-setengah, yah. Lagian, gue gedek juga, jadi tadi kelepasan."
"Dan bicara soal Jiya. Lo yakin, masih mau ngejar dia lagi, Fer?"
__ADS_1
Tersenyum tipis, aku langsung menganggukkan kepalaku tanpa keraguan.
"Yah, karena suatu hubungan bisa tetap langgeng kalau kita bisa merubah sikap dan ego masing-masing. Meskipun gue tahu, buat ngeluluhin hati Jiya saat ini bukan hal yang mudah."