Bocah Itu Istriku!

Bocah Itu Istriku!
Acara Resepsi


__ADS_3

"Mamah minta kita buat nginap selama beberapa hari lagi di sini. Dan selama itu, Jiya harus nemenin dia tidur." Jiya menjelaskan dengan wajah makin ditekuk.


"Padahal Jiya 'kan pengin tidur bareng Om Ferdi di kamar kesayangan Jiya. Tapi, au ah." Jiya melanjutkan perkataannya lagi.


Aku yang mendengar keluh kesahnya itu mencoba menenangkan dirinya.


"Mungkin Mamah lagi kangen berat. Apalagi  beberapa hari lagi kita udah ngadain acara resepsi dan pastinya setelah itu kita kan bakal jarang main ke sini. Jadi mumpung kita lagi di sini, kamu temenin Mamah dulu. Aku nggak papa kok." Aku menjelaskan dengan hati-hati yang membuat Jiya lantas menolehkan kepalanya ke arahku.


"Beneran?" katanya balik bertanya.


Aku mengangguk cepat. "Tentu."


"Ah, makasih Om Ferdi. Karena udah mau pengertian dan nasehatin Jiya," ucapnya seraya menarik bahuku ke dalam dekapannya.


Tak terasa, hari yang aku dan Jiya tunggu akhirnya tiba juga. Hari dimana, resepsi yang sudah lama kami mimpi-mimpikan akhirnya dapat terealisasikan saat ini.


Tampak venue Segarra mulai dipenuhi dengan tamu undangan yang kami undang. Selain itu, beberapa kursi juga mulai terisi.


Kulihat Momi dan Daddy, beserta Mamah Vivi dan juga Papi sudah berdiri di depan menyambut para undangan yang hadir. Mereka terlihat bahagia, serta berbincang-bincang dengan para tamu undangan yang penting. Seperti para klien dan kolega dari perusahaan kami masing-masing.


Aku sendiri yang sudah bersiap dan berada ditempat yang sudah disediakan untukku dan Jiya, menunggu bocah rese itu muncul.


Namun, sampai acara hampir berlangsung belum juga terlihat tanda-tanda kemunculan sosoknya itu. Khawatir, akhirnya kuputuskan untuk pergi menuju ruangan dimana Jiya bersiap untuk acara resepsi ini.


Dan sesampainya di sana, mataku langsung dikejutkan dengan kehadiran Amira yang sedang menodong Jiya dengan sebuah pisau kecil, mirip belati.


Mantan tunanganku itu mengacungkan benda tersebut tepat dihadapan Jiya, yang kini tengah melindungi diri dengan berdiri diseberang meja tempat beberapa kado dan juga buket bunga yang diletakkan di atasnya.

__ADS_1


"Amira!"


Aku berteriak keras, yang membuat Jiya dan mantan tunanganku itu langsung menolehkan kepala mereka ke arah ambang pintu. Dimana di sana aku sedang berdiri dengan tatapan tajam, menatap Amira diliputi amarah.


"Ferdi?" ucap Amira terbata. Mungkin tak mengira dengan kedatangan diriku yang mendadak begini.


Lain halnya dengan Jiya yang malah menyuruhku untuk tidak mendekat ke arahnya.


"Om Ferdi, jangan ke sini!" pekiknya.


Kulihat Amira langsung melihat ke arah Jiya dan berusaha untuk menyerangnya lagi. Membuatku kehabisan kesabaran dan tak mengindahkan ucapan Jiya barusan.


Segera kudekati mantan tunanganku itu, kemudian merampas pisau yang dia pegang dengan paksa. Meskipun harus menyakiti telapak tanganku sendiri hingga berdarah-darah, namun aku tak peduli.


Amira sendiri yang melihatku ingin menghentikan aksinya, mencoba untuk mempertahankan pisau yang sedang dia pegang. Dan terjadilah aksi saling tarik-menarik hingga beberapa detik.


Karena Jiya langsung menghantam punggung Amira dengan vas bunga sampai mantan tunanganku itu jatuh pingsan.


"O-Om Ferdi," ucapnya terbata dan tampak kebingungan harus melakukan apa.


Aku yang melihatnya menangis begitu, mencoba  mendekatinya. Kemudian menghapus air matanya dengan sebelah tangan yang tak terluka.


"Udah-udah, aku baik-baik aja." Aku mencoba menenangkannya dengan merengkuh tubuh Jiya yang masih terisak.


"Sebentar Om," ujar Jiya seraya menyeka air matanya yang masih menetes.


Terlihat dia sendikit menjauh dariku, kemudian mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyeka darah yang masih saja mengalir di telapak tanganku ini.

__ADS_1


Sayangnya Jiya tak menemukan apapun, dan berujung merobek ujung gaunnya sendiri. Yang kemudian dia gunakan untuk mengikat  luka ditelapak tanganku ini, supaya bisa cepat berhenti.


"Untuk sekarang Om Ferdi nggak apa-apa, tapi kita harus cepat manggil polisi untuk nangkap cewek itu." Jiya berucap seraya melirik ke arah tubuh Amira yang masih tergeletak tak sadarkan diri.


"Oke," balasku.


Disaat aku hendak menelpon polisi. Pintu ruang ganti tiba-tiba dibuka oleh Momi dan Mamah Vivi yang begitu syok saat melihat keadaanku dan Jiya. Terutama padaku, karena melihat telapak tangan yang diperban sekaligus jejak darah yang masih tersisa di atas lantai.


Mereka memekik keras, lantas berlari tergesa-gesa menuju diriku dan Jiya yang masih berdiri dan saling tatap satu sama lain dengan wajah yang terlihat pucat.


"Ada apa? Kenapa bisa kayak gini? Dan dia siapa?" tanya Mamah Vivi saat melihat sosok Amira.


Momi yang tadi masih mengecek lukaku langsung menoleh ke arah pandang Mamah Vivi.


"Dia Amira, mantan tunangan Ferdi dulu. Sebelum aku ingat kalau anak kita punya wasiat buat dijodohkan dulu. Cuma, mereka belum sempat tunangan karena pas hari H, keluarga kita tahu kalau wanita itu selingkuh sama Lukman, Omnya Ferdi." Momi menjelaskan sedetail mungkin pada Mamah Vivi.


Terlihat Mamah Vivi menganggukkan kepalanya, mengerti tentang apa yang Momi jelaskan tadi.


"Kalau begitu, ayo kita lapor polisi dan menjebloskan wanita iblis itu ke penjara. Apalagi dia sudah melukai Ferdi dan juga berniat untuk membunuh Jiya." Mamah Vivi berkata setelah mendengar penjelasan dari Jiya.


Beberapa menit kemudian, tampak beberapa orang berseragam cokelat memasuki ruangan ini. Kemudian membawa tubuh Amira yang sudah sadar untuk dibawa ke kantor polisi.


Amira yang sudah sadar beberapakali memberontak dan meminta untuk dilepaskan. Membuat semua tamu undangan yang menyaksikan kejadian itu, berbondong-bondong menyaksikannya dan merekam kejadian itu untuk diunggah ke sosial media.


Alhasil acara resepsiku dan Jiya terkendala beberapa jam lebih. Namun, syukurnya tamu undangan yang hadir tak memberikan komplein apapun. Malahan, mereka mensupport acara resepsi ini sampai selesai.


Aaron dan Mila yang kebetulan bisa hadir saat malam, sedikit bertanya-tanya padaku. Karena sempat mendengar kejadian tadi siang. Selain itu, Mila juga baru tahu kalau Jiya adalah istriku.

__ADS_1


Dia merasa cukup bodoh karena waktu itu menyarankan aku dan Jiya untuk berkenalan kembali. Mila bilang, kalau saja dia tahu waktu itu aku dan Jiya sedang ada masalah dan hilang komunikasi. Dia bisa saja membantu untuk mendekatkan kami lagi. Namun, karena skenario takdir begini. Mila jadi tak bisa berbuat apapun dan sedikit merasa bersalah sampai sekarang.


"Ah, kalau aja gue tahu waktu itu kalian pasangan suami-istri. Gue pasti nggak bakal nanyain hubungan lo sama Ilyas. Jujur Ji, gue jadi ngerasa bersalah banget sama lo. Terutama ke Ferdi. Sorry, ya."


__ADS_2